YANG TERJADI DI LUAR STADION
Ada jokes yang sudah lama beredar di antara fans Liverpool yang saya kenal.
Saya versi Indonesianya: saya begitu ingin Liverpool juara sampai harus hijrah jadi penduduk UK dulu baru mereka bisa menang. Dan sekarang, setelah saya pindah ke Dubai, Mo Salah pun ikut pergi.
Korelasi yang tidak bisa dibantah.
Tapi di balik jokes itu ada sesuatu yang lebih serius, yang baru saya mengerti setelah benar-benar tinggal di sana, bukan sekadar menonton dari jauh.
Anfield tidak bertanya kamu dari mana.
Bukan retorika. Saya merasakannya secara harfiah, di tengah ribuan orang yang merayakan hal yang sama, tidak ada yang meminta saya membuktikan bahwa saya berhak ada di sana. Tidak ada yang memeriksa paspor, aksen, atau warna kulit. Yang ada hanya satu pertanyaan yang tidak pernah diucapkan tapi selalu terjawab: kamu di sini untuk hal yang sama?
Ya. Saya di sini untuk hal yang sama.
MOHAMED SALAH DAN ANGKA YANG TIDAK TERDUGA
Yang saya rasakan di tribun itu ternyata bukan hanya perasaan seorang imigran yang sedang bahagia. Ia punya basis data.
Tahun 2019, Stanford University menerbitkan studi dengan judul yang agak panjang: "Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah on Islamophobic Behaviors and Attitudes."1
Hasilnya tidak terduga bahkan bagi para penelitinya sendiri.
Sejak Salah bergabung dengan Liverpool pada Juni 2017, hate crimes di Merseyside turun 18,9% dibandingkan proyeksi yang seharusnya. Anti-Muslim tweets dari fans Liverpool turun dari 7,2% menjadi 3,4%, hampir separuhnya, dibandingkan fans klub lain di divisi yang sama. Basis datanya bukan sample kecil: 936 data kriminalitas bulanan, 15 juta tweets dari fans sepakbola Inggris, dan survei terhadap 8.060 fans Liverpool.1
Saya berhenti sebentar di angka itu.
Bukan karena mengejutkan bahwa Salah dicintai. Tapi karena mekanismenya: seorang pria yang sujud di rumput setelah mencetak gol, di hadapan jutaan penonton yang mungkin belum pernah melihat sujud sebelumnya, ternyata mengubah sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar popularitas.
Fans Liverpool punya chant yang terkenal: "If he scores another few, then I'll be Muslim, too."
Ini bukan konversi. Ini sesuatu yang lebih sederhana dan mungkin lebih penting: keakraban. Orang yang tadinya asing menjadi familiar. Orang yang tadinya mengancam menjadi tetangga.
Salah tidak berpidato tentang toleransi. Ia hanya bermain, berdoa, dan menang. Dan ternyata itu cukup.
ARSENAL, RIVAL, DAN UCAPAN YANG TULUS
Minggu lalu, Arsenal mengangkat trofi Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun.
Saya fans Liverpool. BangS fans Liverpool. Tapi malam itu saya mengirim pesan ke beberapa teman yang Gooners, dan saya tidak perlu memaksakan diri untuk tulus.
Dua puluh dua tahun adalah waktu yang lama. Tiga musim berturut-turut finish runner-up adalah penderitaan yang saya tahu persis rasanya, dalam versi yang berbeda. Dan Arteta, yang membangun tim itu pelan-pelan, tanpa jalan pintas yang mencolok, layak mendapatkan momennya.
Di luar Emirates Stadium malam itu, saya membayangkan hal yang sama terjadi: ribuan orang merayakan bersama. Tidak ada yang peduli siapa di sampingnya. Yang ada hanya satu pertanyaan yang sama: kamu di sini untuk hal yang sama?
Selamat, Arsenal. Dari seorang Liverpool fan yang tahu persis betapa lamanya menunggu.
YANG TIDAK BISA DIREKAYASA
Tommy Robinson pernah mengorganisir march yang ia sebut sebagai pembelaan identitas Inggris. Ribuan orang hadir. Banyak spanduk. Banyak kemarahan.
Saya tidak akan membahas marchnya.
Yang ingin saya catat adalah kontrasnya: di malam yang sama ketika ribuan orang berkumpul di luar stadion merayakan kemenangan tim mereka, orang-orang itu tidak sedang membicarakan siapa yang berhak disebut Inggris. Mereka sedang memeluk orang asing. Mereka sedang bernyanyi bersama seseorang yang tidak tahu namanya. Mereka sedang menjadi sesuatu yang tidak bisa dipaksakan oleh kebijakan manapun.
Multikulturalisme yang bekerja tidak terlihat seperti program. Ia terlihat seperti malam di luar stadion setelah timmu baru saja juara.
Tidak ada yang merencanakan itu. Tidak ada yang memimpin itu. Ia terjadi karena ada hal yang cukup penting untuk dirayakan bersama.
Saya sekarang di Dubai. BangS sudah dewasa, dua puluh dua tahun. Kami masih ribut kalau Liverpool main, bedanya sekarang dari dua kota yang berbeda, via video call, dengan delay setengah detik yang kadang membuat reaksi kami tidak sinkron.
Tapi tidak ada yang berubah dari yang penting.
Anfield tidak pernah bertanya siapa saya. Dan selama saya ada di sana, sebagai residen, sebagai fans, sebagai ayah yang mengajak anaknya merayakan hal yang sama, saya adalah bagian dari itu.
Hal-hal yang paling nyata tidak butuh penjelasan.
Wallahu a'lam bishshawab.
Referensi:
[1] Salma Mousa et al., Stanford University Immigration Policy Lab, "Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah on Islamophobic Behaviors and Attitudes", Juni 2019. https://5pillarsuk.com/2019/06/05/mohamed-salah-has-reduced-islamophobia-in-liverpool-study-finds/