Juni 2026. Trump menandatangani sesuatu di Versailles.
Bukan perjanjian damai dalam arti yang kita bayangkan. Tidak ada parade, tidak ada jabat tangan yang terlalu lama di depan kamera. Yang ditandatangani adalah memorandum: Selat Hormuz dibuka kembali, Iran boleh menjual minyak, dan negosiasi nuklir diberikan waktu 60 hari. Harga minyak turun dalam hitungan jam setelah pengumuman. Pasar bereaksi sebelum tinta kering.
Saya membaca berita itu dari Dubai. Dan yang langsung terlintas bukan soal Iran atau nuklir atau Trump. Yang terlintas adalah pertanyaan yang jauh lebih tua: kenapa selalu minyak? Kenapa setiap kali dunia hampir pecah, yang menyatukannya kembali adalah kebutuhan akan aliran 20 juta barel per hari, bukan ideologi, bukan hukum internasional, bukan diplomasi dalam pengertian mulia?
Pertanyaan itu membawa saya jauh ke belakang. Ke 1944, ke 1971, ke 1973. Dan akhirnya, ke Indonesia. Negeri yang punya emas, punya minyak, punya hutan. Satu per satu semuanya pergi. Yang tersisa adalah pertanyaan yang belum berani kita jawab dengan jujur.
DAFTAR ISI
I. Fiksi yang Disepakati Bersama
II. Ketika Prancis Mengirim Angkatan Lautnya
IV. Siapa yang Membayar Harga Ini
VI. Negeri Pengekspor yang Menjadi Pengimpor
I. FIKSI YANG DISEPAKATI BERSAMA
Juli 1944. Perang masih berlangsung. Normandia baru saja didarati enam minggu sebelumnya. Tapi 730 delegasi dari 44 negara sudah berkumpul di hotel gunung di New Hampshire untuk memutuskan: uang akan bekerja bagaimana setelah semua ini selesai?1
Jawabannya sederhana secara prinsip: dollar AS akan dipatok ke emas pada $35 per troy ounce. Semua mata uang lain dipatok ke dollar. Dunia butuh jangkar, dan AS punya emasnya. Pada titik itu, sekitar 70% cadangan emas dunia ada di Fort Knox.
Ini adalah fiksi yang sangat masuk akal. Dollar bisa dipercaya karena ia mewakili sesuatu yang nyata: logam kuning yang tidak bisa dicetak, tidak bisa dikarang, tidak bisa dibuat dari udara. Setiap dollar yang beredar di dunia, secara teoritis, punya emas yang menopangnya.
Selama 14 tahun, sistem itu berjalan. Eropa dan Jepang membangun kembali ekonominya. Perdagangan tumbuh. Dollar menjadi bahasa perdagangan internasional bukan karena dipaksakan, tapi karena ia berguna. Ia adalah standar yang semua orang sepakati.
Yang tidak diantisipasi adalah keserakahan yang sangat manusiawi. AS membiayai Marshall Plan, Perang Korea, Perang Vietnam. Dollar mengalir keluar lebih cepat dari emas yang menopangnya. Dan di suatu titik di pertengahan 1960-an, seorang bankir di Paris membuka kalkulator dan mulai menghitung.
SISTEM BRETTON WOODS: TIGA ANGKA
$35
per troy ounce emas, ditetapkan 1944
44
negara hadir di Bretton Woods, Juli 1944
27 tahun
sistem bertahan, 1944–1971
II. KETIKA PRANCIS MENGIRIM ANGKATAN LAUTNYA
Februari 1965. Charles de Gaulle berdiri di depan kamera dan bicara tentang uang dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk bicara tentang kehormatan.
"Apa yang Amerika hutang kepada negara-negara asing, ia bayar, setidaknya sebagian, dengan dollar yang ia bisa cetak sesuka hati." Lalu ia melanjutkan: emas "tidak berubah sifatnya. Ia tidak punya kewarganegaraan. Ia adalah nilai yang tak berubah sepanjang masa."2
De Gaulle bukan sekadar berpidato. Ia sudah menjalankan operasi rahasia sejak 1963, dengan nama sandi Vide-Gousset, secara harfiah berarti "kosongkan saku." Selama tiga tahun, ia memulangkan 3.313 ton emas dari brankas Federal Reserve New York dan Bank of England ke Paris. 44 perjalanan laut, 129 penerbangan.3
Ia mengirim Angkatan Lautnya ke Amerika untuk mengambil emas Prancis kembali. Bukan metafora.
De Gaulle tahu sesuatu yang orang lain tidak mau akui: bahwa AS tidak punya cukup emas untuk menutupi semua dollar yang beredar di dunia. Sistemnya sudah bocor. Tinggal menunggu kapan seseorang akan berteriak.
Dollar yang tidak bisa ditukar dengan emas adalah janji yang tidak bisa ditepati. Dunia menerima janji itu selama hampir tiga dekade. Karena tidak ada pilihan yang lebih baik, bukan karena ia benar.
III. DOLLAR BACKED BY OIL
15 Agustus 1971. Nixon berbicara di televisi nasional. Ia menyebut kebijakan barunya sebagai "New Economic Policy." Yang ia umumkan, secara efektif, adalah pengkhianatan terhadap Bretton Woods: AS tidak akan lagi menukar dollar dengan emas. Jendela emas ditutup. Untuk selamanya, meskipun ia bilang "sementara."4
Dollar langsung melemah. Dunia panik sebentar. Lalu diam, karena belum ada alternatif yang siap menggantikan.
Dua tahun kemudian, perang Yom Kippur pecah. OPEC memberlakukan embargo minyak ke AS dan sekutu-sekutunya. Harga minyak naik empat kali lipat dalam hitungan bulan. Dunia yang sudah bergantung pada minyak tiba-tiba sadar betapa bergunanya kendali atas komoditas itu.
Dan Kissinger melihat peluang.
Juni 1974, ia dan Menteri Keuangan William Simon terbang ke Riyadh. Pertemuan dengan Raja Faisal. Yang dibicarakan bukan tertulis sebagai perjanjian formal. Tidak ada satu dokumen tunggal yang ditandatangani dan menyebut "petrodollar." Yang terjadi adalah konstruksi kepentingan bersama yang jauh lebih kokoh dari kontrak: Saudi menetapkan harga minyaknya dalam dollar, surplus dollar diinvestasikan ke obligasi US Treasury. AS, sebagai imbalannya, menjamin keamanan Saudi.5
Pada 1975, seluruh anggota OPEC mengikuti.6
Dollar yang tadinya disandarkan pada emas kini disandarkan pada minyak. Setiap negara yang butuh minyak, dan semua negara butuh minyak, butuh dollar terlebih dahulu. Permintaan terhadap dollar tidak lagi bergantung pada kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS. Ia bergantung pada kebutuhan fisik terhadap energi.
Kissinger menyebutnya "geopolitics." Saya menyebutnya arsitektur.
SISTEM MONETER GLOBAL
Timeline 1944–2026
IV. SIAPA YANG MEMBAYAR HARGA INI
Valéry Giscard d'Estaing, Menteri Keuangan Prancis di era 1960-an, menyebutnya "exorbitant privilege": keistimewaan berlebihan.7 AS bisa mencetak dollar, membeli barang dari seluruh dunia, lalu menerima dollar itu kembali sebagai pembayaran utang dalam mata uang yang sama yang ia cetak sendiri.
Mekanismenya begini: setiap negara yang mengimpor minyak butuh dollar. Untuk punya dollar, mereka perlu mengekspor barang ke AS, atau meminjam dollar, atau menjual aset. Dollar yang mereka kumpulkan disimpan sebagai cadangan devisa, terutama dalam bentuk obligasi US Treasury. Ini berarti negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sedang membiayai defisit anggaran Amerika.
Bukan dengan sukarela. Tapi karena struktur sistem tidak memberi pilihan lain.
Per Q3 2025, sekuritas berdenominasi dollar mencakup sekitar 57% dari total cadangan devisa global, senilai $7,4 triliun.8 Tujuh koma empat triliun dollar aset negara-negara di seluruh dunia yang tersimpan dalam instrumen yang nilainya ditentukan oleh kebijakan Federal Reserve, bukan oleh mereka yang memegangnya.
Keistimewaan yang berlebihan itu harus dibayar oleh seseorang. Dan mereka yang membayarnya tidak hadir di meja mana pun ketika sistem ini dirancang.
CADANGAN DEVISA GLOBAL, Q3 2025
$7,4 T
cadangan global dalam instrumen dollar
57%
porsi dollar dari total cadangan devisa dunia
V. PAPUA, 1967
Indonesia bukan korban dalam cerita ini, meskipun mudah untuk menyebutnya begitu. Yang lebih tepat: ia adalah sistem yang, di setiap persimpangan kritis, membuat pilihan. Dan pilihan itu punya konsekuensi yang masih kita hidupi hari ini.
1965. Soeharto mengambil alih. Salah satu tindakan pertama rezim baru adalah membuka pintu bagi modal asing dengan cara yang tidak pernah dilakukan Sukarno. Undang-Undang Penanaman Modal Asing 1967 lahir. Dan perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak di bawah rezim baru itu adalah Freeport.9
Bukan kebetulan.
Kontraknya memberikan Freeport hak eksklusif menambang emas dan tembaga di pegunungan Papua. Pemerintah Indonesia mendapat 9,36% saham. Freeport bebas pajak selama lima tahun. Dan yang tidak tertulis tapi sama nyatanya: kontrak ini adalah sinyal kepada dunia korporat AS bahwa Soeharto adalah mitra yang bisa dipercaya.10
Freeport mulai beroperasi 1967, membuka tambang 1972. Yang mereka temukan di Grasberg, Papua, adalah salah satu deposit emas dan tembaga terbesar yang pernah ada di bumi. Tambang emas terbesar di dunia. Tambang tembaga terbesar ketiga.11
Dari 1967 hingga 2010, Freeport telah mengekstrak 7,3 juta ton tembaga dari Papua.12 Emas mengalir dalam jumlah yang sulit dibayangkan. Sebagian besar datanya tersebar dalam laporan keuangan Freeport McMoRan yang jarang dibaca orang selain para analis Wall Street. Per 2016, 98% penjualan emas Freeport McMoRan berasal dari Indonesia, dengan nilai $1,3 miliar dalam satu tahun saja.13
Papua yang dimaksud bukan Papua yang ada di peta wisata. Papua yang ini adalah pegunungan di ketinggian lebih dari 4.000 meter, dihuni oleh masyarakat adat yang tidak pernah ditanya apakah mereka setuju. Orang Amungme dan Kamoro menyebut Grasberg dengan nama lain: Nemangkawi, Panah Putih. Gunung suci yang kemudian menjadi lubang besar di bumi.
Berapa besar harga yang dibayar masyarakat Papua, saya tidak bisa mengukurnya. Angka itu tidak ada di laporan keuangan mana pun.
PAPUA & FREEPORT McMoRan
Tambang Emas Terbesar di Dunia
Freeport beroperasi di Papua sejak 1967, perusahaan asing pertama era Soeharto.
STRUKTUR KEPEMILIKAN: PERUBAHAN DARI WAKTU KE WAKTU
VI. NEGERI PENGEKSPOR YANG MENJADI PENGIMPOR
Indonesia bergabung OPEC pada 1962. Pada masa itu, kita adalah negeri pengekspor minyak yang serius, satu-satunya anggota Asia dalam kartel yang menentukan harga energi dunia.
Di era Soeharto, produksi minyak Indonesia mencapai puncaknya sekitar 1,6 juta barel per hari di pertengahan 1990-an.14 Angka itu memberi Indonesia kursi yang terasa nyata di meja OPEC. Fiskal negara punya bantalan. Dan narasi bahwa Indonesia adalah negeri kaya sumber daya menjadi mudah dipercaya.
Yang tidak dilakukan adalah investasi. Eksplorasi ladang baru tidak digenjot. Kilang tidak dibangun. Subsidi BBM membuat harga di dalam negeri terlalu murah untuk mendorong efisiensi, tapi terlalu mahal untuk ditanggung fiskal secara berkelanjutan. Uang dari minyak masuk, sebagian keluar lagi sebagai subsidi, sebagian lagi hilang ke tempat-tempat yang tidak tercatat dengan baik.
Ladang-ladang tua di Riau, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan mulai habis. Wajar. Ladang tua memang habis. Tapi penggantian cadangan tidak berjalan. Investasi asing yang bisa membawa teknologi eksplorasi dipersulit oleh ketidakpastian regulasi, korupsi, dan perubahan aturan yang tidak bisa diprediksi.15
Hasilnya: produksi turun. Konsumsi naik. Pada awal 2000-an, Indonesia sudah menjadi net oil importer.16
Pada 2009, kita menangguhkan keanggotaan OPEC. Secara resmi: karena Indonesia sudah tidak memenuhi syarat sebagai "substantial net crude oil exporter." Secara sederhana: kita sudah jadi pembeli, bukan penjual. Tidak ada tempat di meja penjual untuk negara yang harus membeli.
Ada momen ironis yang perlu dicatat: kita sempat kembali ke OPEC pada 2016, di tengah euforia reformasi Jokowi. Tapi hanya bertahan kurang dari setahun. Masuk lagi, keluar lagi. Kenyataannya tidak berubah. Saat OPEC memutuskan pemangkasan produksi, Indonesia tidak punya produksi yang bisa dipangkas. Yang ada justru kebutuhan untuk memproduksi lebih, bukan kurang.17
Kini produksi Indonesia sekitar 608.000 barel per hari. Konsumsi domestik: 1,6 juta barel per hari. Selisih itu ditutup oleh impor, dan oleh subsidi yang setiap tahun membebani APBN.18
PRODUKSI DAN KONSUMSI
Minyak Indonesia 1970–2025
KEANGGOTAAN OPEC
VII. SETELAH EMAS DAN MINYAK, HUTAN
Ada sumber daya. Ada kebutuhan devisa, atau kebutuhan investasi asing, atau kebutuhan pendapatan negara jangka pendek. Sumber daya dibuka. Manfaatnya mengalir keluar. Yang tertinggal adalah lubang, atau ladang yang mengering, atau hutan yang sudah tidak ada.
Seperti sebelumnya. Seperti selalu.
Sejak 1950, lebih dari 74 juta hektare hutan hujan Indonesia, luas dua kali Jerman, telah ditebang, dibakar, atau dirusak untuk perkebunan sawit, kertas, karet, tambang nikel, dan komoditas lain.19
Dua kali luas Jerman. Saya perlu duduk sebentar dengan angka itu sebelum melanjutkan.
Deforestasi di Indonesia naik 66% pada 2025, membalikkan tren penurunan yang sempat berlangsung beberapa tahun. Deforestasi berbasis sawit di Papua berlipat ganda dalam setahun, mencapai 7.333 hektare, tertinggi sejak 2018.20 Dan ironisnya, ini terjadi dalam konteks yang disebut "ketahanan energi": sawit untuk biodiesel B50 yang sedang didorong Prabowo, nikel untuk baterai EV yang dibutuhkan transisi energi global.
Presiden Prabowo pernah berkata: "Oil palms are trees. They've got leaves... We don't need to be afraid of endangering deforestation."21
Kalimat itu bukan kecerobohan berbicara. Ia adalah posisi kebijakan.
Ekspansi nikel yang cepat, dengan lebih dari 20 smelter baru dalam satu dekade, disebut oleh para analis sebagai pengulangan kesalahan era sawit dan pulp: membuka kawasan hutan baru untuk memasok bahan mentah yang diekspor dalam bentuk setengah jadi, dengan nilai tambah yang sebagian besar tertangkap di luar negeri.22
Ini bukan narasi anti-pembangunan. Nikel Indonesia memang dibutuhkan dunia, sawit memang produktif. Tapi ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang menetapkan harganya? Yang menentukan standar prosesnya dan mengambil margin terbesarnya?
Hampir tidak pernah Indonesia.
Setiap hektare hutan yang dibuka untuk smelter nikel baru adalah, tanpa terlalu banyak yang menyadarinya, cicilan. Kepada sistem yang sama yang lahir dari kamar hotel di New Hampshire pada Juli 1944.
Setiap generasi mewarisi hutang dari generasi sebelumnya. Yang diwariskan kepada kita bukan utang dalam angka, tapi utang dalam bentuk sumber daya yang sudah tidak ada.
VIII. HORMUZ, 2026, DAN LOGIKA YANG TIDAK BERUBAH
Kembali ke Versailles, Juni 2026.
Konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, setelah negosiasi nuklir buntu. Iran menutup Selat Hormuz: jalur tempat sekitar seperlima konsumsi minyak global mengalir setiap harinya, sekitar 20 juta barel per hari.23 Harga minyak kacau. Ekonomi-ekonomi yang bergantung pada impor energi langsung merasakan tekanannya.
Selama hampir empat bulan, dunia berjalan dengan satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan senjata: kapan minyak mengalir lagi?
Jawabannya bukan kemenangan militer, bukan resolusi PBB, bukan tekanan diplomatik Eropa yang bersidang di mana-mana. Jawabannya adalah selembar MOU yang ditandatangani di istana Prancis, isinya sederhana seperti telegram lama: buka selat, tangguhkan sanksi, nuklir belakangan.24
Iran masih boleh memperkaya uranium. Jaringan proxy-nya tidak disentuh. Syarat yang diterima AS jauh lebih lunak dari yang mereka tuntut selama bertahun-tahun. Tapi 20 juta barel per hari harus mengalir. Itu yang tidak bisa ditawar.25
Lima puluh dua tahun setelah Kissinger terbang ke Riyadh, logikanya sama persis. Minyak yang menentukan batas dari apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh kekuatan militer terbesar di dunia. Nuklir bisa dinegosiasikan nanti. Proxy bisa dibicarakan nanti. Tapi minyak, tidak.
Dollar masih backed by oil. Hanya sekarang tidak ada satu pun yang perlu mengatakannya dengan lantang, karena semua orang sudah tahu.
Dan di tengah semua ini, Indonesia membeli minyak dengan dollar yang dihasilkan dari mengekspor nikel mentah yang diolah oleh smelter yang sebagian besar dioperasikan oleh modal China, ke pasar yang harganya ditentukan di London dan Chicago. Lalu menggunakan sebagian hasilnya untuk mensubsidi BBM yang dibeli dari pasar yang sama.
Lingkaran yang sempurna. Untuk semua orang, kecuali Indonesia.
Saya tidak tahu apa silver liningnya. Mungkin nikel untuk baterai EV adalah kesempatan yang berbeda dari sawit dan minyak, kalau nilai tambah bisa dibangun di dalam negeri, bukan hanya diekspor sebagai ore. Mungkin transisi energi global membuka ruang yang tidak ada sebelumnya.
Tapi saya belum melihat buktinya. Yang saya lihat hanya sisa-sisa: 74 juta hektare hutan yang hilang, ladang minyak tua yang mengering tanpa pengganti, dan tambang emas yang baru benar-benar kembali ke tangan kita setelah setengah abad dikuras.
Setelah emas, minyak, dan hutan. Apa yang tersisa?
Itu bukan pertanyaan retoris.
REFERENSI
[1] Federal Reserve History, Creation of the Bretton Woods System. https://www.federalreservehistory.org/essays/bretton-woods-created
[2] Charles de Gaulle, Konferensi Pers, 4 Februari 1965. Dikutip dalam: BullionVault, A Crisis to Shatter the World. https://www.bullionvault.com/gold-news/gold_dollar_France_Sarkozy_de_Gaulle_crisis_111020072
[3] Jan Nieuwenhuijs, How France Secretly Repatriated All Its Gold Before Nixon's Dollar Devaluation, Money Metals, Oktober 2024. https://www.moneymetals.com/news/2024/10/05/why-france-repatriated-3313-tonnes-from-new-york-and-london-in-the-1960s-003516
[4] Wikipedia, Nixon Shock. https://en.wikipedia.org/wiki/Nixon_shock
[5] LegalClarity, The Kissinger Petrodollar System: History and Impact, April 2026. https://legalclarity.org/the-kissinger-petrodollar-system-history-and-impact/
[6] Financial Sense, The Rise of the Petrodollar System: "Dollars for Oil". https://www.financialsense.com/contributors/jerry-robinson/the-rise-of-the-petrodollar-system-dollars-for-oil
[7] Council on Foreign Relations, The Dollar: The World's Reserve Currency. https://www.cfr.org/backgrounders/dollar-worlds-reserve-currency
[8] St. Louis Fed, The U.S. Dollar's Role as a Reserve Currency, Februari 2026. https://www.stlouisfed.org/open-vault/2026/feb/us-dollar-role-as-reserve-currency
[9] ResearchGate, Freeport and the Suharto Regime, 1965–1998, The Contemporary Pacific, Vol. 14 No. 1, 2002. https://www.researchgate.net/publication/38406587
[10] Corporate Accountability Lab, Fifty Years of Corporate Exploitation: The Story of US Mining Giant Freeport & Papua's Stolen Sovereignty, Januari 2023. https://corpaccountabilitylab.org/calblog/2022/2/28/fifty-years-of-corporate-exploitation
[11] Freeport-McMoRan, Indonesia Operations. https://www.fcx.com/operations/indonesia
[12] AMRC, The Case of Freeport McMoRan Copper & Gold Inc. in Indonesia's Extractive Industry. https://amrcentre.org/the-case-of-freeport-mc-morran-copper-gold-inc-in-indonesias-extractive-industry/
[13] Katadata, 98% of Freeport's Gold Sales are from Indonesia. https://databoks.katadata.co.id/en/mining/statistics/cfe58371c08b046/
[14] Indonesia Investments, Oil News: Indonesia Rejoins OPEC After Seven Year Hiatus. https://www.indonesia-investments.com/news/todays-headlines/oil-news-indonesia-rejoins-opec-in-december-after-seven-year-hiatus/item5909
[15] Tempo, 7 Reasons Why Indonesia Still Reliant on Oil Imports, Januari 2025. https://en.tempo.co/read/1963732/7-reasons-why-indonesia-still-reliant-on-oil-imports
[16] EIA, Indonesia Rejoining OPEC Despite Being a Net Importer of Petroleum, Oktober 2015. https://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=23352
[17] Gulf News, What Is OPEC and OPEC+?. https://gulfnews.com/business/energy/what-is-opec-opec-everything-you-must-know-about-the-worlds-most-powerful-oil-group-1.500522147
[18] Asia Times, Why Oil-Rich Indonesia Imports Most of Its Fuel, Oktober 2025. https://asiatimes.com/2025/10/why-oil-rich-indonesia-imports-most-of-its-fuel/
[19] The Diplomat, Deforestation in Indonesia Spiked Last Year, April 2024. https://thediplomat.com/2024/04/deforestation-in-indonesia-spiked-last-year-but-some-trends-are-improving/
[20] Mongabay, Indonesia's Deforestation Surges 66% in 2025, Reversing Years of Decline, April 2026. https://news.mongabay.com/2026/04/indonesias-deforestation-surges-66-in-2025-reversing-years-of-decline/
[21] Ibid.
[22] BusinessMirror, Indonesia Sees 27% Increase in Primary Forest Loss in 2023, April 2024. https://businessmirror.com.ph/2024/04/29/indonesia-sees-27-increase-in-primary-forest-loss-in-2023/
[23] Katadata, If the Strait of Hormuz Closes, Global Oil Supply Will Be Disrupted. https://databoks.katadata.co.id/en/energy/statistics/6858ed2b6e73a/
[24] NPR, U.S. and Iran Announce an Initial Deal to End the War and Reopen the Strait of Hormuz, 15 Juni 2026. https://www.npr.org/2026/06/15/nx-s1-5858590/us-iran-deal-updates
[25] CFR, The Iran Deal Reopens the Strait. Much Remains to Be Done, Juni 2026. https://www.cfr.org/articles/trumps-iran-deal-reopens-the-strait-much-remains-to-be-done
Esai ini adalah bagian dari seri tulisan di tulis.simei.uk, ruang untuk analisis yang memerlukan lebih dari beberapa paragraf.
Wallahu a'lam bishshawab.