Saya masih ingat 1998. Bukan dari koran.
Waktu itu saya baru mulai bekerja. Baru pertama kali punya gaji sendiri. Dalam kepala sudah ada rencana kecil, menabung, beli Peugeot 405 STI bekas. Bukan mobil baru. Bekas saja sudah cukup.
Lalu dalam beberapa bulan, harganya naik tiga sampai empat kali lipat.
Bukan karena mobilnya berubah. Rupiah yang berubah, dari Rp2.400 per dollar ke Rp16.000. Bank tutup. Toko dibakar. Orang antri beras. Rezim tumbang.
Rencana kecil itu hilang begitu saja, sebelum sempat dimulai.
Minggu lalu saya cek kurs. Rp17.736.
Saya diam agak lama.
TAPI INI BUKAN 1998
Saya perlu jujur soal ini, karena kalau tidak jujur, argumen saya tidak akan berdiri.
1998 adalah kejatuhan vertikal dalam hitungan bulan. Sekarang adalah pelemahan gradual dalam hitungan tahun, dari Rp13.000-an ke Rp17.700-an, perlahan, hampir tidak terasa sampai tiba-tiba terasa. Tidak ada bank run. Tidak ada hiperinflasi. Tidak ada kontraksi ekonomi 13,6%.1 Suku bunga tidak mencapai 70%.
Fondasi hari ini memang berbeda. Cadangan devisa Indonesia per April 2026 tercatat $146,2 miliar2, jauh di atas cadangan 1998 yang di puncak krisis hanya $14,4 miliar.3 Sektor perbankan lebih sehat. Indonesia bukan lagi negara dengan rating junk bond.
Semua itu nyata. Semua itu penting.
Dan justru karena itu, pertanyaannya menjadi lebih mengganggu.
KALAU FONDASINYA KUAT, MENGAPA RUPIAHNYA TIDAK?
Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan teknis yang punya jawaban, dan jawabannya tidak menyenangkan.
Defisit APBN 2025 ditutup di angka 2,92% dari PDB, melampaui target awal 2,53%, melampaui revisi 2,78%, dan mendekati batas maksimal yang diizinkan undang-undang.4 Sri Mulyani, menteri yang selama bertahun-tahun menjadi jangkar kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal Indonesia, pergi dalam reshuffle September 2025, setelah gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang bahkan menyasar rumahnya sendiri.5 Lalu keponakan presiden dikukuhkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Januari 2026.6
Pasar tidak membaca fundamental. Pasar membaca pola.
Pasar tidak membaca fundamental. Pasar membaca pola.
Dua sinyal dalam satu tahun cukup untuk membuat investor global bertanya: apakah fondasi itu masih dirawat, atau sedang dipinjam? Ketika pertanyaan itu muncul, modal keluar. Saat modal keluar, rupiah tertekan. Saat rupiah tertekan, importir bayar lebih mahal, gandum, kedelai, komponen, bahan baku. Mereka tidak menyerap selisihnya sendiri.
Kita yang menyerap. Di kasir minimarket, di warung sebelah, di tagihan akhir bulan yang tiba-tiba terasa tidak cukup.
KUAT UNTUK SIAPA
Saya tidak memantau kurs dollar.
Yang saya pantau adalah GBP.
Istri dan anak-anak berdomisili di UK, yang perempuan mengajar sebagai private tutor, yang laki-laki kadang masak paruh waktu di dapur orang. Mereka punya penghasilan sendiri. Kalau pulang ke Indonesia, mereka bawa pound. Saya bawa dirham.
Semua masuk ke Indonesia. Dalam mata uang yang berbeda, tapi arahnya sama.
Belakangan ini, angka rupiah yang kami terima terasa besar. Buat kami yang melihatnya dari sisi GBP, Indonesia terasa terjangkau. Liburan keluarga, transfer bulanan untuk keluarga di sana, nominalnya lebih dari cukup.
Saya berhenti sejenak tiap kali sadar ini.
Karena "terjangkau buat kami" artinya satu hal: rupiah sedang lemah.
Kami tidak sedang beruntung. Kami sedang menyaksikan daya beli orang-orang yang tinggal di sana, yang digaji rupiah, yang belanja pakai rupiah, yang tidak punya GBP atau dirham sebagai cadangan, perlahan tergerus.
Kami diaspora. Setiap transfer yang kami kirim, setiap pound dan dirham yang masuk, secara teknis adalah devisa. Kami bagian kecil dari sistem yang katanya kuat itu.
Tapi Ibu yang beli tahu di kampung tidak punya pound. Tidak punya dirham. Ia hanya punya rupiah, dan rupiah sedang tidak baik-baik saja.
Ia hanya punya rupiah, dan rupiah sedang tidak baik-baik saja.
MENAHAN APA, MELINDUNGI SIAPA
Cadangan devisa kita besar. Ia dirancang untuk menahan satu hal: agar Indonesia tidak kolaps sebagai entitas finansial, agar kita tetap bisa berutang, tetap dipercaya pasar global, tetap bisa impor di saat darurat.
Itu penting. Saya tidak menyepelekannya.
Tapi ia tidak dirancang untuk Ibu yang beli tahu di kampung. Tidak ada dalam blueprint-nya. Bukan kelalaian, memang bukan itu fungsinya.
Yang jadi pertanyaan saya: kalau bukan cadangan devisa, lalu instrumen apa yang dirancang khusus untuk dia?
Tidak ada yang saya temukan.
Mungkin memang tidak ada.
Wallahu a'lam bishshawab.
[1] Indonesia Investments, Kontraksi PDB Indonesia 1998, diakses Mei 2026. https://www.indonesia-investments.com/id/keuangan/angka-ekonomi-makro/produk-domestik-bruto-indonesia/item253
[2] Trading Economics, Cadangan Devisa Indonesia April 2026, diakses Mei 2026. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/foreign-exchange-reserves
[3] Tempo, 23 Tahun Reformasi: 4 Penyebab Utama Krisis Moneter 1998, 21 Mei 2021. https://tempo.co/ekonomi/23-tahun-reformasi-4-penyebab-utama-krisis-moneter-1998-nilai-mata-uang-anjlok-513692
[4] DDTCNews, Defisit APBN 2025 Capai 2,92% dari PDB, Lampaui Target Awal, 8 Januari 2026. https://news.ddtc.co.id/berita/nasional/1816449/defisit-apbn-2025-capai-292-dari-pdb-lampaui-target-awal
[5] Antara, Ini Alasan Mengapa Sri Mulyani Diganti dari Menteri Keuangan, 9 September 2025. https://www.antaranews.com/berita/5095485/ini-alasan-mengapa-sri-mulyani-diganti-dari-menteri-keuangan
[6] Merdeka, Thomas Djiwandono Kini Jabat Deputi Gubernur Bank Indonesia, 27 Januari 2026. https://www.merdeka.com/uang/segini-kekayaan-thomas-djiwandono-keponakan-prabowo-yang-kini-jabat-deputi-gubernur-bank-indonesia-527141-mvk.html
Komentar