Minggu siang di Dubai. Koper dari UK masih tergeletak setengah terbuka di lantai, dan besok pagi tekanan kerja sudah mengantre di kepala. Harusnya saya tidur, atau cari hiburan lain yang lebih masuk akal. Tapi layar ponsel saya malah menampilkan ruang tengah Jakarta yang bising. Saya sedang duduk di tengah kota finansial global yang berkilau, tapi pikiran saya tertinggal di sebuah studio podcast, menonton dua orang tua menyelesaikan urusan masa lalu mereka.
VIDEO
RUPIAH AMBRUK, INVESTOR MULAI 'ANGKAT KAKI'? | BERSAMA FERRY LATUHIHIN
Gerakan Rakyat, tonton di YouTube
Begitu nama Purbaya keluar dari mulut Ferry Latuhihin, disusul kata "nonsens", ada yang bergeser dalam kepala saya. Bukan karena saya mendadak peduli pada urusan fiskal atau nasib Rupiah yang mau jebol ke 18.000. Saya cuma mendadak awas karena mencium bau darah dari rivalitas lama yang akhirnya meledak di depan publik. Ini pengakuan yang memalukan, tapi memang itu yang saya cari.
Kenapa harus Ferry? Di luar sana ada banyak ekonom waras yang bikin laporan berkala soal APBN. Metodologinya lebih rapi, grafiknya presisi, bahasanya sopan khas akademisi. Tapi surel-surel itu biasanya cuma menumpuk di inbox tanpa pernah saya baca sampai habis. Terlalu steril. Mereka tidak punya apa yang dimiliki Ferry: keintiman seorang pembelot.
Mereka tidak punya apa yang dimiliki Ferry: keintiman seorang pembelot.
Kita yang menonton tahu, atau setidaknya menebak, bahwa dua orang ini punya sejarah panjang. Dua puluh lima tahun di koridor yang sama di Danareksa. Mereka bukan sekadar nama di kolom opini koran. Mereka mantan rekan kerja yang tahu persis kartu masing-masing. Itu kenapa saat Ferry menyerang proyeksi Purbaya, efeknya beda. Dia bukan buzzer oposisi yang menggonggong di luar pagar sejak hari pertama. Dia orang dalam, mantan penasihat ahli TKN yang ikut memenangkan Prabowo, yang sekarang menuding balik rumah yang ikut dia bangun sebagai bencana finansial. Ada distorsi yang aneh di sini. Apakah kita sedang mendengar kritik objektif, atau sekadar menyaksikan dendam lama yang menemukan panggung politiknya?
Waktu kata "nonsens" itu keluar untuk menertawakan proyeksi Rupiah balik ke 15.000, saya tidak refleks membuka spreadsheet atau mengecek yield US Treasury. Saya cuma mencatat skor di kepala: satu poin untuk Ferry. Angka 18.000 yang merayap naik itu mendadak kehilangan sifatnya sebagai ancaman makro; ia berubah jadi papan nilai. Tiap kali Rupiah babak belur setelah presiden berpidato, atau kalimat "cari negara lain" di hari May Day diungkit lagi, saya tidak sedang menghitung risiko portofolio pribadi. Saya cuma menikmati pukulan demi pukulan, seperti penonton tinju yang diam-diam bertaruh untuk sang penantang.
Dan sialnya, saya tahu saya tidak sendirian.
Kita butuh bumbu permusuhan personal supaya data ekonomi yang kering itu enak dikunyah.
Ini lelucon yang buruk buat kelas menengah atau diaspora profesional yang merasa seleranya di atas rata-rata. Kita sering memandang rendah orang-orang yang menghabiskan malam demi mengunyah gosip artis atau drama selebgram. Kita merasa lebih mulia karena tontonan kita di waktu luang adalah istilah mentereng seperti fiscal sustainability atau risiko nilai tukar.
Padahal kelakuannya sama saja. Kita memasang kuping bukan karena data APBN itu hal baru; para ekonom murni sudah berteriak sampai serak bertahun-tahun tanpa pernah bisa menembus algoritma. Kita berkumpul di sini cuma karena ada orang dalam yang membawa pisau ke dalam ruangan dan menusuk temannya sendiri. Kita butuh bumbu permusuhan personal supaya data ekonomi yang kering itu enak dikunyah. Angka inflasi dan jebolnya Rupiah itu cuma latar panggung. Menu utamanya tetap drama.
Jadi tidak perlu ada kesimpulan moral yang sok bijak di akhir. Kalau minggu depan video Ferry lewat lagi di beranda, saya tahu jempol saya akan otomatis klik play. Bukan karena saya mendadak cemas soal cadangan devisa atau takut badai PHK di semester kedua. Saya cuma ingin tahu apakah baranya makin membesar, dan siapa lagi orang di lingkaran kekuasaan yang bakal dia seret. Itu bukan sesuatu yang perlu disesali, tapi jelas bukan hal yang patut dibanggakan.
Wallahu a'lam bishshawab.
Komentar