Sebuah catatan dari seseorang yang percaya Rasulullah, dan tidak bisa berhenti bertanya
Guru-guru saya tidak pernah menyebut nama Hajar dengan nada yang datar. Ia selalu hadir dengan hormat, perempuan yang berlari antara Safa dan Marwa, yang menemukan Zamzam, yang diabadikan dalam ritual yang diulang jutaan kaki setiap tahun. Ketika saya kecil, nama itu terasa sudah selesai. Tidak perlu pertanyaan.
Sampai saya membaca Genesis.
Bukan untuk mencari masalah. Tapi karena dua puluh tahun hidup di antara berbagai tradisi mengajarkan satu hal: kalau sebuah cerita terasa terlalu rapi di satu versi, biasanya ada sesuatu yang tidak diceritakan.
DUA HAJAR
Dalam Bibel, Hajar adalah budak. Bukan secara konotatif, secara tekstual, eksplisit. Milik Sara. Ditawarkan kepada Ibrahim untuk melahirkan anak karena Sara mandul. Ketika ia hamil dan mulai memandang Sara dengan berbeda, ia dihajar, kata yang terasa tidak kebetulan. Ia lari. Malaikat menemukannya di padang dan menyuruhnya kembali, tunduk.
Ia kembali. Melahirkan Ismail.
Lalu Sara melahirkan Ishaq. Dan ketika Ishaq disapih, Sara melihat Ismail bermain, dan meminta Ibrahim mengusir Hajar dan anaknya. Ibrahim keberatan. Tapi Allah berkata: turuti Sara, karena lewat Ishaqlah namamu akan diteruskan.
Hajar diusir untuk kedua kalinya. Kali ini dengan bekal roti dan sekantong air. Ketika air habis dan anaknya hampir mati, ia menjauh agar tidak melihat anaknya sekarat. Ia menangis. Allah mendengar. Sumur muncul.
Dalam versi ini, Hajar adalah perempuan yang bertahan, bukan karena ia pilihan, tapi karena ia tidak punya pilihan lain.
Dalam Islam, gambarnya berbeda. Hajar hadir sebagai perempuan yang dipilih, bukan sekadar dipakai. Ritualnya diabadikan. Umat Islam meyakini kuburannya berada di sana, di Hijr Ismail. Area setengah lingkaran di samping Ka'bah yang secara hukum dianggap bagian dari rumah suci itu sendiri, sehingga jutaan kaki yang sedang tawaf harus memutarinya, menyisakan ruang kosong di atas tanah tempat peristirahatan terakhirnya.
Dua perempuan dengan nama yang sama. Satu cerita yang sangat berbeda.
QURAN YANG DIAM
Yang membuat ini lebih rumit: Quran tidak menyebut nama Hajar sama sekali.
Bukan karena Hajar tidak penting. Tapi karena Quran bekerja dengan cara yang berbeda dari Bibel. Ia tidak membangun narasi, ia mengoreksinya. Ia masuk langsung ke inti, mengasumsikan pendengar pertamanya sudah tahu garis besar cerita Abrahamik, lalu meletakkan poin yang ingin diluruskan. Latar belakang, karakter, konteks, semua itu bukan urusan Quran. Itu urusan yang diisi kemudian.
Dan yang mengisinya adalah hadis.
Riwayat panjang Ibnu Abbas dalam Sahih Bukhari, salah satu hadis paling detail tentang Hajar, menceritakan perjalanan Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus, berlarinya Hajar antara dua bukit mencari air, munculnya Zamzam. Dari sanalah gambar Hajar yang kita kenal terbentuk. Bukan dari Quran. Dari hadis yang disahkan lewat sanad yang panjang, diterima sebagai wahyu kedua dalam epistemologi Islam.
Di sinilah pertanyaan yang sesungguhnya mulai terbuka.
Bukan soal apakah hadis itu sahih. Tapi soal apa yang terjadi ketika wahyu yang abstrak harus bertemu dengan realitas sosiologis manusia. Hadis itu disampaikan oleh Nabi kepada masyarakat Arab abad ketujuh yang membutuhkan sesuatu yang lebih dari ajaran, mereka membutuhkan koordinat sejarah. Tempat dalam cerita besar. Leluhur yang bisa dibanggakan.
Dan Nabi berbicara kepada manusia itu, dalam bahasa yang bisa mereka terima, dengan memori kolektif yang sudah mereka bawa.
Itulah yang sering tidak kita renungkan: bahwa transmisi wahyu, bahkan dalam bentuk hadis sekalipun, selalu terjadi melalui medium manusia, dalam konteks manusia, kepada kebutuhan manusia yang sangat spesifik pada satu titik waktu tertentu.
Tangan manusia bukan berarti rekayasa atau kebohongan. Tangan manusia berarti keterbatasan yang tak terhindarkan dari cara wahyu bekerja di bumi.
KEBUTUHAN YANG SAH
Saya tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa penghormatan terhadap Hajar adalah kesalahan. Justru sebaliknya.
Yang ingin saya tunjukkan adalah mekanisme di baliknya, dan betapa mekanisme itu brilian.
Islam tidak datang ke ruang kosong. Ia hadir di tengah lanskap narasi yang sudah berdiri, tradisi Abrahamik yang sudah punya arsitektur, tokoh, dan hierarki. Dalam arsitektur itu, Hajar adalah properti yang dibuang. Budak yang tidak punya nama dalam beberapa bagian teks. Perempuan yang diusir dua kali dan tidak mewarisi apa pun.
Yang dilakukan tradisi Islam bukan sekadar meminjam cerita itu lalu menerimanya apa adanya. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih radikal: membongkar seluruh arsitektur itu, mendeteksi apa yang dianggap sebagai penyimpangan di dalamnya, lalu merakitnya kembali dengan logika yang dibalik sepenuhnya.
Hajar yang dalam Bibel adalah properti yang dibuang menjadi batu penjuru dari seluruh bangunan spiritual yang baru. Perempuan yang tidak punya hak kesulungan menjadi ibu dari nabi terakhir. Tempat di mana ia dibuang, padang tandus yang tidak ada dalam peta keselamatan Yahudi, menjadi pusat dari kiblat seluruh umat.
Ini bukan pencurian narasi. Ini rekayasa balik yang sistematis, dalam pengertian terbaik dari kata itu.
Dan ia lahir dari kebutuhan yang sangat sah: komunitas Arab awal membutuhkan tempat dalam sejarah keselamatan. Bukan sebagai cabang yang lebih rendah dari pohon Ibrahim, tapi sebagai batang utamanya, atau setidaknya, cabang yang tidak kalah tua dan tidak kalah sah.
Israiliyyat dalam konteks ini bukan sekadar pinjaman dari sumber yang diragukan. Ia adalah bahan baku yang diambil, dibongkar, dan dirakit ulang dengan tujuan yang berbeda sepenuhnya. Para penafsir awal tidak sedang menerima narasi Bibel, mereka sedang berpolemik dengannya, kalimat demi kalimat, status demi status.
CERMIN YANG KITA HINDARI
Sampai di sini, ada keberatan yang saya bayangkan akan datang.
"Itu kan karena Yahudi yang menyimpangkan teksnya. Versi Islam yang benar."
Saya mengerti. Dan saya tidak akan mendebat keyakinan itu.
Tapi saya ingin mengajukan pertanyaan yang lebih sempit: apakah pola ini unik untuk Islam?
Yahudi mengklaim bahwa perjanjian Ibrahim adalah milik mereka, lewat Ishaq, anak yang sah, anak perjanjian. Kristen mengklaim bahwa perjanjian itu dipenuhi dan digenapi dalam Yesus, yang menjadikan semua orang sebagai keturunan Abraham secara rohani. Islam mengklaim bahwa perjanjian itu dikembalikan ke bentuk aslinya lewat Muhammad, dan bahwa cabang yang selama ini dianggap pinggiran, ternyata adalah yang utama.
Masing-masing tradisi melakukan hal yang sama: mengambil bahan baku dari tradisi sebelumnya, merakitnya dengan logika baru, lalu menegaskan bahwa versi sebelumnyalah yang telah menyimpang.
Bukan karena mereka tidak jujur. Tapi karena wahyu tidak pernah turun di ruang hampa. Ia selalu menyapa manusia yang sudah punya memori, sudah punya pertanyaan, sudah punya kebutuhan untuk menemukan diri mereka dalam cerita yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Hajar berdiri di persimpangan semua proses itu.
Perempuan yang tidak punya suara dalam wahyu manapun, tidak disebutkan namanya dalam Quran, diperlakukan sebagai objek dalam Bibel, justru menjadi salah satu figur yang paling banyak diperebutkan maknanya. Dan dalam perebutan itu, ia berubah. Bukan karena ia sendiri yang berubah, tapi karena komunitas yang membutuhkannya berubah, dan membawa kebutuhannya ke dalam teks.
Itulah cerminnya. Bukan cermin yang menunjukkan siapa yang benar. Tapi cermin yang menunjukkan bagaimana semua tradisi, tanpa kecuali, mewarisi wahyu bersama dengan proses dialektika yang sangat panjang dan sangat manusiawi yang menyertainya.
APA YANG SAYA PERCAYA
Saya percaya Rasulullah membawa wahyu dari Allah.
Saya juga percaya bahwa wahyu itu selalu tiba kepada manusia, lewat lisan manusia, ditulis oleh tangan manusia, ditafsirkan dalam konteks manusia, dan diwariskan dengan segala keterbatasan yang melekat pada kondisi manusia. Bukan sebagai kelemahan. Sebagai cara kerja wahyu di bumi.
Guru-guru saya yang mulia mengajarkan Hajar dengan hormat dan keyakinan yang dalam. Saya tidak meragukan kejujuran mereka. Yang saya lakukan hanyalah meneruskan pertanyaan satu langkah lebih jauh: dari mana pengetahuan tentang Hajar itu pertama kali datang, lewat proses apa ia terbentuk, dan kebutuhan apa yang ikut membentuknya, bukan untuk membatalkan hasilnya, tapi untuk memahami cara kerjanya.
Karena iman yang tidak tahu cara kerjanya sendiri adalah iman yang mudah goyah ketika pertanyaan datang.
Hajar adalah cermin yang paling jujur dari proses itu. Perempuan yang tidak ada namanya dalam wahyu, tapi namanya kita ucapkan dalam ritual yang paling sakral, karena komunitas yang meneruskan wahyu itu membutuhkannya, menghormatinya, dan dengan melakukan itu, mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ada dalam teks aslinya.
Saya tidak tahu apakah itu menambah atau mengurangi keajaibannya.
Mungkin keduanya sekaligus.
Wallahu a'lam bishshawab.
Komentar