Tulis
· 30 Mei 2026

IIC: Masjid Ini Bukan Milik Kami

Masjid di Neasden ini dijalankan Muslim Indonesia — tapi jamaah Jumatnya datang dari Syria, Somalia, Pakistan, Palestina, Yordania. Bukan program. Itu sudah terjadi.

IIC: Masjid Ini Bukan Milik Kami

YANG TIDAK SEMPAT DUDUK DI SINI

Saya tiba di UK tahun 2017. Dari panjang barisan orang-orang yang membangun IIC selama dua dekade lebih, hanya dua yang sempat saya kenal langsung.

Pak Haji Memet dan KH. Hamim tahu bahwa orang Indonesia butuh masjid di London. Bukan musholla sementara. Bukan ruang sewa yang berpindah-pindah. Masjid, dengan alamat tetap, dengan pintu yang selalu bisa diketuk.

Mereka berjuang lebih dari dua puluh tahun untuk itu.

November 2022, Indonesian Islamic Centre akhirnya resmi memiliki tempatnya sendiri di Neasden. Setelah dua dekade lebih menunggu, mengumpulkan, meyakinkan, berdoa.

Tidak lama setelah itu, keduanya dipanggil berturut-turut.

Saya tidak punya kata yang cukup untuk menggambarkan timing itu. Ada yang bilang itu kebetulan. Saya memilih membacanya sebagai tanda, bahwa tugas mereka memang sudah selesai, dan tongkat itu sekarang ada di tangan kami.

Tongkat yang beratnya baru terasa setelah mereka pergi.

JAMAAH YANG TIDAK KENAL ORMAS

Shalat Jumat di IIC tidak terasa seperti shalat Jumat di masjid Indonesia pada umumnya.

Yang datang bukan hanya orang Indonesia. Mayoritas jamaah harian, shalat fardhu, shalat Jumat, adalah warga Neasden sendiri. Syrian. Lebanese. Somali. Pakistani. Palestinian. Jordanian.

Mereka tidak tahu apa itu NU. Mereka tidak tahu apa itu Muhammadiyah. Mereka tidak datang karena organisasi, mereka datang karena masjid ini ada di lingkungan mereka, dan pintunya terbuka.

Di sinilah saya selalu kembali ke cerita KH. Zulfa tentang Hongkong.

Para perempuan itu tidak berdakwah dengan menyebut nama ormas mereka. Mereka berdakwah dengan cara mereka memperlakukan tetangga, cara mereka bekerja, cara mereka hadir dalam kesulitan orang lain. Islam yang mereka tunjukkan adalah Islam yang bisa dirasakan, bukan hanya didengar.

IIC tidak pernah memasang spanduk "masjid untuk semua." Kami tidak perlu. Kalau shalat Jumat kamu diimami Imam IIC dari Indonesia, dan di shaf yang sama ada orang Syria di kiri dan orang Somalia di kanan, itu bukan program. Itu sudah terjadi.

AMANAH YANG DITITIPKAN BERULANG

Setiap guru yang datang ke masjid kami, dan sudah banyak yang datang, selalu menitip pesan yang kurang lebih sama.

Jaga amanah ini. Makmurkan masjid. Jadikan Islam sebagai corong diplomasi yang guyub, bukan yang memecah.

Pesan yang sama dari generasi yang berbeda. Pesan yang sama yang dulu pasti juga diterima Pak Haji Memet dan KH. Hamim dari guru-guru mereka.

Rantai itu panjang. Saya hanya satu mata rantai di dalamnya.

Satu dari tujuh trustee yang diamanahkan jamaah. Di bawah kami ada DKM yang menjalankan operasional setiap hari, gabungan diaspora yang sudah menetap dan para mahasiswa yang datang dan pergi setiap tahun dari tanah air. Merekalah yang membuat masjid ini benar-benar hidup.

Sebagai trustee, posisi saya bukan mewakili satu kelompok. Tidak bisa. Di dalam IIC ada yang berlatar NU, Muhammadiyah, Al Wasatiyah, dan pengajian-pengajian lain yang tidak punya label organisasi. Di luar IIC ada jamaah Neasden yang bahkan tidak tahu Indonesia ada di peta mana.

Tugas saya, tugas kami, bukan menyeragamkan. Tugas kami adalah memastikan atap ini cukup lebar untuk semua yang datang berlindung.

Pak Haji Memet dan KH. Hamim membangun atapnya. Kami yang harus menjaga agar ia tidak bocor.

INDONESIA DI NEASDEN

Ada sesuatu yang tidak biasa tentang masjid yang dijalankan orang Indonesia tapi shaf Jumatnya diisi orang Syria, Somalia, Pakistan, Palestina, dan Yordania.

Orang Indonesia tidak terkenal sebagai eksportir ideologi. Kita tidak punya petrodollar untuk membangun masjid di seluruh dunia. Yang kita punya adalah cara beragama yang, kalau dijalankan dengan jujur, terasa seperti undangan, bukan tuntutan.

Islam Indonesia punya kekhasan itu. Bukan karena kita sempurna. Tapi karena ratusan tahun berdampingan dengan begitu banyak perbedaan di dalam negeri sendiri mengajarkan kita satu hal: bahwa beragama dengan keras kepala hanya mengecilkan ruang, dan ruang yang kecil tidak bisa menampung banyak orang.

IIC ingin menunjukkan sesuatu, bukan dengan pernyataan, tapi dengan cara kami membuka pintu setiap hari.

This mosque is run by Indonesian Muslims. But it is for everyone in this neighbourhood.

Itu bukan slogan. Itu warisan Pak Haji Memet dan KH. Hamim yang kami coba jaga. Sebab pada akhirnya, kami tidak sedang merawat sebuah bangunan; kami sedang menjaga sebuah undangan.

Wallahu a'lam bishshawab.


Sebuah refleksi dan penghormatan yang sangat layak bagi rahim perjuangan IIC London, Pak Haji Memet, serta KH. Hamim dan seluruh senior kami yang telah berpulang.


[1] Situs resmi IIC: iic-london.com
[2] IG resmi IIC: @iic.london
[3] Youtube IIC: @iic.london
[4] Tausiyah KH. Zulfa Mustofa di IIC London: youtube.com/live/7K-9666hGQM

Komentar