Tulis
· 25 Mei 2026

Jilbab Bukan Pagar

Tentang pilihan yang dibuat seorang anak perempuan sebelas tahun, dan dua narasi yang tidak pernah benar-benar bertanya kepadanya.

Jilbab Bukan Pagar

Ia ragu-ragu sebelum menjawab.

Primary 5. Sebelas tahun. Saya duduk bersamanya, saya tidak ingat tepatnya di mana, tapi saya ingat ia tidak langsung bicara. Ada jeda. Jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya untuk pertanyaan yang saya kira sederhana.

Saya tanya apa maunya: madrasah, atau jalur publik.

Jalur publik mensyaratkan ia melepas jilbabnya di sekolah. Saya tidak menjelaskan itu sebagai beban. Saya hanya meletakkan dua pilihan di depannya dan menunggu.

Keraguan itu, saya baru mengerti belakangan, bukan karena ia tidak tahu maunya. Ia tahu. Ia ingin sains penuh, jalur publik, dunia yang lebih luas. Tapi ia sebelas tahun, dan ia sedang menghitung apakah jawabannya aman untuk diucapkan, bahkan kepada ayahnya sendiri.

Ketika ia akhirnya bicara, saya tidak mempertanyakan apapun. Saya tidak bertanya soal keimanannya. Saya tidak bertanya apakah ia yakin. Saya hanya mulai mencari jalan, agar ia tidak perlu memilih antara identitasnya dan ambisinya.

Tapi jeda itu tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan saya.

KETIKA SIMBOL BERGANTI FUNGSI

Kain adalah kain. Ia menjadi simbol ketika komunitas memutuskan demikian.

Dan simbol, begitu ia cukup kuat, bisa bergeser. Dari ekspresi keyakinan pribadi menjadi alat verifikasi kolektif. Bukan lagi soal keimanan seseorang, tapi soal apakah ia termasuk golongan kami atau tidak.

Pergeseran ini tidak terjadi dengan pengumuman. Ia terjadi perlahan, lewat tatapan yang sedikit lebih lama, lewat pertanyaan yang seolah peduli, masih pakai jilbab kan?, lewat kekhawatiran yang dikemas sebagai kasih sayang. Tidak ada yang melarang secara eksplisit. Tapi pilihan tertentu dibuat terasa sangat mahal.

Dan bebannya, selalu, di komunitas manapun yang melakukan ini, jatuh pada perempuan.

STANDAR YANG BERGERAK, BEBAN YANG TIDAK

Sebelum pindah ke London, saya berbicara dengan guru saya, seorang Syeikh yang kini bermukim di Birmingham. Saya khawatir soal UK. Soal anak-anak perempuan saya. Soal apakah identitas mereka akan aman di sana.

Ia tersenyum. Ia dan istrinya, katanya, berjalan ke mana-mana di Birmingham tanpa masalah. Istrinya berniqab.

Saya diam sebentar setelah itu.

Yang ia tunjukkan bukan argumen tentang niqab. Yang ia tunjukkan adalah sesuatu yang lebih sederhana: bahwa beban itu tidak datang dari identitas itu sendiri. Ia datang dari cara komunitas, komunitas manapun, memutuskan untuk memperlakukan identitas itu.

Ketika sebuah komunitas memperketat standar penampilan, laki-laki dalam komunitas yang sama jarang merasakannya dengan intensitas yang setara. Tidak ada tatapan yang mengukur panjang celananya. Tidak ada pertanyaan yang memverifikasi identitas religiusnya dari cara ia berpakaian. Tubuh laki-laki bukan medan pembuktian kolektif.

Tubuh perempuan diminta menanggung bukan hanya keimanan pribadinya, tapi reputasi kolektif komunitas.

Itu bukan penjagaan. Itu pengalihan beban.

DUA NARASI YANG TIDAK BERTANYA

Ada genre perdebatan yang berulang di media sosial kita. Seseorang mengirim foto lama, perempuan muslim di era lalu, tanpa penutup kepala, di institusi Islam bergengsi. Pesannya tersirat: lihat, dulu pun begini.

Saya mengerti niatnya. Tapi praktik historis bukan dalil hukum. Dan yang lebih penting, narasi itu melakukan hal yang sama persis dengan yang ia kritik.

Di satu sisi, ada yang menjadikan jilbab sebagai pagar. Penanda kepatuhan, alat verifikasi, syarat keanggotaan. Perempuan yang memilih berbeda dipertanyakan keimananannya, dikhawatirkan dengan cara yang terasa seperti pengawasan.

Di sisi lain, ada yang mengirim foto-foto itu sambil berkata lihat, dulu pun begini, seolah pembebasan perempuan muslimah hanya bisa terjadi lewat satu arah tertentu.

Keduanya menjadikan pilihan perempuan sebagai proyeksi agenda mereka sendiri. Dan keduanya tidak benar-benar bertanya: apa yang ia yakini, apa yang ia inginkan, ke mana ia ingin pergi.

Perempuan yang ada di tengah perdebatan itu, ia tidak pernah benar-benar diundang bicara. Ia hanya diminta menjadi bukti.

LONDON, BULAN LALU

Anak perempuan sulung saya baru saja lulus dari London School of Hygiene and Tropical Medicine. Nutritionist. Ia menggeluti public health, pulang-balik antara UK dan Indonesia, membawa ilmu dan memberi impak.

Ia berjilbab.

Bukan karena komunitasnya mengharuskan. Bukan karena takut dipertanyakan. Tapi karena itulah yang ia yakini, dan ia membawa keyakinan itu penuh ke dalam pekerjaannya, ke dalam sains yang ia tekuni, ke dalam setiap ruang yang ia masuki.

Ia tidak sedang membuktikan apapun kepada siapapun.

Tapi tanpa sengaja ia membuktikan sesuatu yang seharusnya sudah tidak perlu dibuktikan: bahwa ukhrawi dan sains bukan pilihan yang berlawanan. Bahwa seorang muslimah bisa berdiri penuh di dunia, dengan identitasnya utuh, dengan intelektualitasnya tajam, dengan pilihannya sendiri.

Komunitas yang menjadikan jilbab sebagai pagar tidak bisa mengklaim dia. Mereka yang mengirim foto-foto historis sebagai argumen pembebasan juga tidak bisa mengklaim dia.

Ia berdiri di luar kedua narasi itu.

Saya tidak mengajarinya cara berdiri seperti itu. Ia menemukannya sendiri, sejak malam di Singapura itu, ketika saya tanya apa maunya dan ia ragu-ragu sebelum menjawab. Bukan karena ia tidak tahu. Tapi karena ia sedang menghitung apakah jawabannya aman.

Ternyata aman.

Wallahu a'lam bishshawab.