Ada perasaan yang sudah saya kenal dua puluh tahun.
Ia tidak datang saat saya sedang susah. Tidak datang saat saya lelah, atau saat kabar buruk tiba dari rumah. Ia datang sendiri, tidak permisi, di tengah hari yang biasa, di meja yang sama, di kota yang sudah lama saya tinggali tapi belum tentu saya huni sepenuhnya.
Dua puluh tahun itu artinya apa?
Jawabannya, rumah. Rumah saya di Indonesia.
Bukan kesedihan yang akut. Bukan rindu yang bisa diberi nama dan diselesaikan dengan satu tiket pulang. Lebih seperti, ruang kosong kecil yang sudah menjadi bagian dari cara saya bernapas. Sudah akrab. Sudah tidak mengagetkan. Tapi tidak pernah benar-benar pergi.
ruang kosong kecil yang sudah menjadi bagian dari cara saya bernapas.
VAKUM YANG TIDAK PERNAH KOSONG
Suatu hari saya membaca tentang fisika kuantum dan ruang hampa.
Yang saya baca sederhana tapi tidak mudah diabaikan: ruang yang tampak kosong, vakum sempurna, tempat tidak ada materi, tidak ada cahaya, tidak ada apapun, ternyata tidak pernah benar-benar kosong.
Di dalamnya, terus-menerus, muncul pasangan partikel dari ketiadaan. Sepersekian detik mereka ada. Lalu hilang kembali. Fisikawan menyebutnya fluktuasi vakum, getaran yang tidak bisa dihentikan bahkan di dalam kekosongan yang paling mutlak.
Termasuk angkasa luar yang tampak paling gelap. Jarak yang paling jauh dari bintang apapun, dari cahaya apapun. Di sana pun, tetap sama. Bergetar. Tidak pernah benar-benar kosong.
Alam semesta, rupanya, tidak mengenal sunyi.
Saya baca itu, dan diam agak lama.
Bukan karena saya tiba-tiba mengerti fisika kuantum. Tapi karena ada sesuatu di sana yang terasa seperti sedang berbicara tentang hal lain.
APA YANG SAYA RASAKAN
Selama dua puluh tahun, saya sudah mencoba berbagai cara untuk mengisi ruang kosong itu.
Kerja lebih keras, ini yang paling sering. Ada kepuasan kecil dalam kelelahan yang produktif; setidaknya ada hasil yang bisa ditunjukkan, ada alasan untuk tidak duduk diam terlalu lama. Berhasil, untuk beberapa jam.
Menelepon rumah. Suara Ibu, suara anak-anak yang berebut bicara, suara latar yang familiar, dapur, televisi, pintu yang dibanting seseorang. Berhasil, sampai sambungan putus dan layar kembali gelap.
Scrolling sampai mata berat, ini yang paling jujur untuk diakui, dan yang paling tidak pernah benar-benar berhasil. Tapi tetap dilakukan.
Yang tidak pernah saya pertanyakan adalah ini: kenapa saya berasumsi bahwa kekosongan itu harus diisi?
Fisika kuantum tidak mengisi vakum. Ia hanya menunjukkan bahwa vakum tidak pernah benar-benar kosong sejak awal. Getaran itu sudah ada, sebelum kita mendeteksinya, sebelum kita tahu cara mengukurnya, sebelum kita bahkan percaya bahwa ada sesuatu di sana.
PEMILIK KEKOSONGAN
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
"Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada."
Saya biarkan ayat itu tinggal sebentar sebelum saya lanjutkan.
Saya sudah hafal ini sejak kecil. Tapi ada bedanya antara hafal dan merasakan, dan dua puluh tahun di luar negeri mengajarkan saya perbedaan itu dengan cara yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas.
Di Singapura dulu, saya hafal, di sela jadwal yang tidak pernah berhenti, di kota yang bergegas bahkan saat tidur. Di London, saya hafal, di balik langit yang jarang cerah, di musim dingin yang sopan tapi menusuk dengan caranya sendiri. Di Dubai sekarang, dari lantai empat belas, jendela kantor saya menghadap ke arah yang tidak ada apa-apanya, bukan laut, bukan gunung, hanya jalan tol dan deretan gedung yang bersinar terlalu terang. Saya sering berdiri di sana beberapa detik sebelum rapat berikutnya. Tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri.
Di saat-saat itu, saya masih sering cukup hafal saja.
Tapi sesekali, biasanya bukan di momen yang saya siapkan, biasanya justru saat perasaan tanpa nama itu datang tidak permisi, saya berhenti cukup lama untuk merasakan bahwa kekosongan yang saya kira harus saya isi itu, mungkin, tidak pernah benar-benar kosong.
Bukan karena saya berhasil mengisinya.
Bukan karena saya berhasil mengisinya. Tapi karena Dia sudah ada di sana sejak sebelum saya merasa kehilangan.
Fisikawan butuh instrumen paling sensitif di dunia untuk mendeteksi getaran di dalam vakum.
Kita cukup diam. Dan jujur.
Wallahu a'lam bishshawab.