Di sebuah warung Indonesia di London, pemiliknya bercerita tanpa diminta.
Bawang. Cabai. Rempah-rempah yang ia beli di pasar lokal untuk memasak rendang dan nasi goreng. Semua naik. Bukan sedikit-sedikit, tapi cukup untuk membuatnya harus berpikir ulang setiap kali belanja. Semangkuk nasi goreng di sini £12. Sudah lama tidak naik, karena pelanggannya mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di London, anak-anak yang hidup dari kiriman orang tua, yang juga sedang menghitung dari seberang lautan.
Di luar, pompa bensin yang saya lewati minggu ini menunjukkan 164p per liter. Beberapa bulan lalu masih 133p.
Saya sedang berlebaran di London. Dan dari sini, saya membuka Google Finance.
Satu pound sterling: Rp24.016.
Lalu saya geser grafiknya ke titik tertinggi sepanjang sejarah. Tertera: Rp24.128. Tanggal: 26 Juni 1998.
Saya diam agak lama melihat angka itu.
1998 adalah tahun ketika saya, pegawai Telkom yang baru beberapa tahun menikmati gaji pertama, terpaksa menunda membeli Peugeot bekas yang sudah lama saya incar. Cicilan yang sudah saya hitung buyar dalam hitungan minggu. Rupiah jatuh dari Rp2.500 ke lebih dari Rp16.000 per dolar, bukan dalam berbulan-bulan, tapi dalam tempo yang tidak memberi siapapun waktu untuk bernapas. Harga-harga berubah sebelum orang sempat belanja. Perusahaan yang berutang dolar bangkrut sebelum sempat berpikir. Inflasi melampaui 70 persen.1
Peugeot itu akhirnya terbeli, di tahun 1999, setelah menikah. Dua karyawan BUMN, dua gaji, satu mobil bekas. Kami menyebutnya double gardan.
Hampir tiga dekade kemudian, saya berdiri di London dan melihat angka yang sama di layar.
PERTANYAAN YANG SALAH
Ketika rupiah melemah, pertanyaan yang paling cepat muncul selalu sama: seburuk 1998 kah ini?
Itu pertanyaan yang bisa dijawab dengan cepat, dan karena itu ia populer. Jawabannya: tidak. Hari ini berbeda dalam satu hal yang penting, pelemahan berlangsung perlahan, bertahap, terkelola. Bukan keruntuhan dalam kepanikan.
Tapi ada pertanyaan yang lebih penting, yang jarang diajukan karena jawabannya tidak sepraktis ya-atau-tidak.
Bukan: apakah ini 1998?
Tapi: mengapa rupiah melemah terhadap pound, mata uang dari negara yang ekonominya juga sedang tidak baik-baik saja?
DUA CERMIN
Semua orang membaca rupiah terhadap dolar. Itu wajar, dolar adalah mata uang cadangan dunia, cermin yang paling sering dipakai. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, ada argumen yang tersedia: dolar sedang kuat, Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi, investor global lari ke aset dolar, hampir semua mata uang emerging market tertekan. Argumen itu sebagian benar.
Tapi pound memberikan cermin yang berbeda.
UK bukan ekonomi yang sedang jaya. Pertumbuhan GDP 2026 diperkirakan hanya sekitar 0,5 persen, dengan risiko resesi yang nyata.2 Petrol naik tajam sejak konflik Timur Tengah memukul pasokan energi global. Inflasi masih di atas target Bank of England. Rumah tangga Inggris menghadapi tagihan yang lebih tinggi dari sebelum pandemi.
Dan tetap, satu pound hari ini membeli lebih dari Rp24.000.
Kalau pound yang sedang sakit pun masih jauh di atas rupiah, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi: mengapa pound kuat? Tapi: mengapa rupiah begitu lemah?
YANG MEMBUAT POUND BERBEDA
Di awal 2026, rupiah tidak hanya tertekan terhadap dolar Amerika. Ia melemah terhadap seluruh mata uang ASEAN, baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dong Vietnam, hingga peso Filipina.3 Termasuk mata uang negara-negara yang ekonominya lebih kecil dari Indonesia.
Ketika satu mata uang melemah terhadap semua mata uang lain secara serentak, itu bukan cerita tentang siapa yang kuat. Itu cerita tentang siapa yang rapuh.
Kerapuhan rupiah bukan misteri. Ia punya nama, alamat, dan sejarah yang panjang.
Indonesia membangun ekonominya di atas komoditas, batu bara, CPO, nikel, mineral. Ketika harga komoditas global naik, rupiah ikut menguat. Ketika turun, rupiah ikut terkapar. Ini bukan nasib buruk yang datang tiba-tiba. Ini adalah pilihan arsitektur yang sudah diwarisi sejak lama dan belum selesai diubah.4
Di saat yang sama, Indonesia mengimpor energi dalam jumlah besar. Setiap kali harga minyak dunia naik, seperti yang terjadi sepanjang 2026 akibat ketegangan di Selat Hormuz, neraca pembayaran langsung tertekan. Surplus perdagangan nonmigas habis dimakan defisit migas. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal pertama 2026 adalah yang terdalam dalam lebih dari enam tahun.5
Pound punya masalah yang berbeda. UK juga mengimpor energi, juga tertekan oleh harga minyak global. Tapi UK punya dua hal yang tidak dimiliki rupiah.
Pertama: mekanisme perlindungan konsumen yang terstruktur. Ofgem, regulator energi UK, menetapkan price cap yang membatasi berapa banyak perusahaan energi boleh menagih konsumen rumah tangga, terlepas dari lonjakan harga wholesale global. Antara April dan Juni 2026, cap itu ditetapkan £1.641 per tahun untuk rumah tangga rata-rata.6 Energi di sini tetap mahal. Tapi ada lantai. Ada batas. Ada mekanisme yang menahan harga agar tidak meledak langsung ke wajah warga, sesuatu yang membuat ekonomi lebih dapat diprediksi di mata pasar.
Kedua: ekonomi yang berbasis jasa dan teknologi, bukan siklus komoditas. Ketika harga batu bara global turun, pound tidak ikut terkapar. Fondasinya berbeda.
Dan yang paling mendasar, yang tidak terlihat di grafik manapun: kepercayaan pasar terhadap institusi. Pound melemah terhadap dolar karena Bank of England berhadapan dengan Federal Reserve yang hawkish. Tapi pound tetap kuat terhadap rupiah karena pasar masih menilai fondasi institusional UK lebih kredibel, bank sentral yang independen, sistem hukum yang stabil, fiskal yang meski defisit tetap dapat diprediksi.
Pound yang sedang sakit masih punya lantai yang lebih kokoh.
WAJAH YANG TIDAK ADA DI GRAFIK
Kembali ke warung London itu.
Pemiliknya menanggung dua tekanan dari dua arah sekaligus. Dari satu sisi: bahan baku naik karena inflasi dan harga energi global yang memukul daya beli di UK. Dari sisi lain: pelanggannya, mahasiswa Indonesia yang kuliah di London, semakin terjepit karena kiriman dari orang tua di Indonesia nilainya terus terpotong oleh rupiah yang melemah. Mereka tidak bisa makan lebih banyak. Tapi ia juga tidak bisa menaikkan harga.
Jadi ia berkreasi. Mengatur komposisi. Mencari yang lebih efisien. Bertahan.
Ada banyak versi dari cerita ini. Di setiap titik di mana rupiah bersentuhan dengan mata uang lain, ada orang yang sedang menghitung ulang. Orang tua yang mentransfer dan mendapati nilainya semakin sedikit di seberang. Mahasiswa yang memangkas pengeluaran dari bulan ke bulan. Pemilik warung yang tidak bisa menaikkan harga kepada sesama yang juga sedang tertekan.
Grafik tidak menampilkan wajah-wajah itu.
TAGIHAN YANG BELUM DIBAYAR
Pertanyaan yang tepat bukan: apakah ini 1998?
Pertanyaan yang tepat adalah: apa yang belum berubah sejak 1998?
Ketergantungan pada komoditas, belum selesai diubah. Defisit migas yang kronis, masih ada. Industri manufaktur dan jasa yang belum cukup dalam untuk menyerap volatilitas global, masih menjadi pekerjaan rumah.
Prabowo dan Inggris baru saja menandatangani Economic Growth Partnership pada Januari 2026, kemitraan yang menargetkan perdagangan bilateral USD 2,78 miliar untuk terus tumbuh.7 Angka yang baik. Arah yang benar. Tapi kemitraan dagang tidak akan mengubah grafik selama struktur fondasinya belum berubah.
GBP/IDR hari ini: Rp24.016. Hampir sama dengan titik 1998.
Bedanya, 1998 terjadi dalam kepanikan. Hari ini terjadi dalam ketenangan yang perlu kita pertanyakan.
Karena ketenangan bisa berarti ketahanan. Tapi bisa juga berarti kita sudah terbiasa dengan lantai yang terus turun, perlahan, bertahap, nyaris tidak terasa. Kita tahu mana yang lebih mengkhawatirkan: ketika sebuah bangsa berhenti panik bukan karena keadaan membaik, melainkan karena sudah lelah berharap.
Wallahu a'lam bishshawab.
[1] CNBC Indonesia, Rupiah Jatuh ke Terendah Sepanjang Masa, Ini 10 Titik Paling Kelam, 20 Januari 2026. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260119151517-128-703420
[2] RSM UK, UK Economic Outlook 2026, April 2026. https://www.rsmuk.com/insights/real-economy/uk-economic-outlook
[3] CNBC Indonesia, Awal 2026 Suram: Rupiah Kalah dari Semua Mata Uang Tetangga, 21 Januari 2026. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260121162410-128-704123
[4] Universitas Andalas, Neraca Pembayaran dan Stabilitas Nilai Tukar Rupiah, Mei 2026. https://www.unand.ac.id/berita/kepakaran/1833-neraca-pembayaran-stabilitas-nilai-tukar-rupiah.html
[5] Trading Economics, Rupiah Terus Melemah Akibat Defisit Transaksi Berjalan Terbesar dalam 6 Tahun, 25 Mei 2026. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/currency
[6] Ofgem, Changes to energy price cap between 1 April and 30 June 2026, Februari 2026. https://www.ofgem.gov.uk/news/changes-energy-price-cap-between-1-april-and-30-june-2026
[7] Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Menko Airlangga Tandatangani Economic Growth Partnership, 21 Januari 2026. https://ekon.go.id/publikasi/detail/6774