Tulis
· 20 Juni 2026

Listrik Padam Bergilir, Penjelasan Berganti

Indonesia penghasil batu bara terbesar di dunia. Tapi Juni 2026, listrik mati bergilir dua minggu di seluruh Jawa. Pemerintah memberi tiga penjelasan berbeda dalam sepuluh hari. Dua nama pembangkit yang gagal sampai hari ini belum disebut.

Listrik Padam Bergilir, Penjelasan Berganti

Mas Budi menulis di Facebook, Sabtu malam, 20 Juni 2026:

"Listrik di rumah mati LAGI. Kali ini 5 jam. Beberapa 2 hari yang lalu (belum sampai seminggu) nyaris 3 jam matinya. Hadoh. Bagaimana PLN?"

Bandung. Kota dengan 2,5 juta penduduk. Ibu kota provinsi. Bukan desa terpencil tanpa gardu.

Saya membaca postingan itu dari Dubai. Di luar sedang 41 derajat, tapi AC di kantor saya tidak pernah sekali pun mati karena PLN-nya Dubai kehabisan batu bara. Dua anak pertama saya lahir di Singapura. Selama bertahun-tahun tinggal di sana, saya tidak punya memori tentang listrik yang tiba-tiba padam di tengah malam. Dua anak berikutnya besar di Inggris. Sama saja. Listrik adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, seperti udara.

Saya sadar ini bukan perbandingan yang adil. Singapura negara kecil. Dubai dibangun dari nol dengan uang minyak. Inggris punya infrastruktur tua yang dirawat mahal. Indonesia kepulauan dengan 270 juta penduduk yang tersebar.

Tapi Indonesia juga penghasil batu bara terbesar di dunia.

Dan itulah yang membuat postingan Mas Budi itu tidak bisa saya biarkan begitu saja.

I. SEPULUH HARI YANG TIDAK DIJELASKAN

Pemadaman bergilir di Pulau Jawa mulai dilaporkan 8 Juni 2026. Dalam dua minggu berikutnya, giliran padam menyapu seluruh provinsi di Jawa: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Yogyakarta. Durasi bervariasi antara dua hingga lima jam per sesi, kadang berulang dalam hari yang sama.1

PLN menyebutnya "manajemen beban." Kata yang terasa teknis dan dingin untuk menggambarkan warung soto yang kehilangan pembeli dua jam di tengah hari, atau pedagang aksesori HP di Kediri yang melayani pelanggan dengan penerangan lilin.

Penjelasan resmi datang bertahap. Dan di situlah masalahnya mulai terlihat.

II. TIGA VERSI KEBENARAN DALAM SATU MINGGU

Saya ingin mencatat kronologinya dengan hati-hati, karena setiap pernyataan resmi bisa diverifikasi.

11 Juni. Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, berbicara di depan kompleks Istana Kepresidenan. Ia menegaskan: batu bara tidak langka. Penugasan DMO sudah mencapai 170 juta ton. Yang terjadi hanyalah "beberapa trouble di beberapa mesin." Pemerintah sedang menangani.2

15 Juni. Empat hari kemudian, dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR, narasi bergeser. Bahlil menjelaskan bahwa sejumlah PLTU mengalami kekurangan pasokan batu bara berkalori medium. Harga DMO PLN dipatok US$70 per ton, sementara Harga Batu Bara Acuan periode I Juni 2026 sudah menyentuh US$84,53 untuk kalori medium dan US$121,83 untuk kalori tinggi. "Jadi, harga jual ke PLN itu untuk perusahaannya sudah tidak ada," kata Bahlil.3

Tunggu sebentar. Empat hari sebelumnya batu bara tidak langka. Sekarang batu bara kurang karena pengusaha tidak mau rugi menjual ke harga DMO.

19 Juni. PLN akhirnya berbicara langsung. EVP Komunikasi Korporat Gregorius Adi Trianto mengakui dua pembangkit besar keluar dari sistem. Tapi bukan pembangkit PLN sendiri. Keduanya milik Independent Power Producer, mitra swasta PLN. Nama keduanya tidak disebutkan.4

20 Juni. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo merilis video permohonan maaf. Ia mengonfirmasi kedua masalah sekaligus: pasokan batu bara kalori medium yang terganggu, dan dua PLTU milik IPP yang keluar dari sistem. Mana yang lebih dominan? Tidak dijelaskan.5

Empat pernyataan dalam sepuluh hari. Tiga versi yang berbeda tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan dua nama IPP yang sampai hari ini belum pernah disebut secara publik.

Dalam sepuluh hari, pemerintah menghasilkan tiga versi kebenaran yang berbeda. Pembaca bebas memilih mana yang paling dipercaya. Tapi tidak ada yang menawarkan pilihan keempat: transparansi penuh sejak awal.

III. MASALAH DI BALIK MASALAH

Kalau kita berhenti di "gangguan teknis dua PLTU IPP," kita melewatkan sesuatu yang lebih struktural.

Sejak awal 2026, Kementerian ESDM memangkas kuota produksi batu bara nasional melalui perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya. Produksi yang sebelumnya berjalan stabil di kisaran 900 juta ton per tahun ditekan menjadi sekitar 600 juta ton. Pemangkasan ini, menurut Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia, berkisar antara 40 hingga 70 persen dari kuota yang sudah direncanakan masing-masing perusahaan.6

Bersamaan dengan itu, Bahlil juga mengubah masa berlaku RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun. Perubahan ini menciptakan ketidakpastian perencanaan di seluruh rantai pasok: dari investasi alat berat, kontrak jangka panjang dengan pembangkit, hingga jadwal pengiriman ke PLTU.7

Lembaga riset Stockholm Environment Institute menyebut perubahan ini sebagai akar persoalan yang sesungguhnya, bukan gangguan teknis pembangkit semata.8

Lalu ada soal DMO itu sendiri. Harga $70 per ton yang ditetapkan pemerintah untuk pasokan domestik bukan angka baru. Tapi selisihnya dengan harga pasar kini terlalu lebar untuk diabaikan. Biaya produksi batu bara sekitar $40 per ton. Menjual ke PLN dengan harga $70 masih untung, tapi marginnya tipis. Sementara harga pasar ekspor menawarkan $84 untuk kalori medium dan $121 untuk kalori tinggi. Insentif untuk memenuhi kewajiban DMO lebih dulu, sebelum mengekspor, praktis tidak ada.9

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyebutnya dengan lebih langsung: pengusaha cenderung menunggu perkembangan harga dunia. Kalau harga masih tinggi, ekspor didahulukan. Kewajiban DMO dipenuhi menjelang akhir tahun. Akibatnya, stok batu bara di PLTU bisa turun ke bawah batas aman sebelum suplai kembali normal.10

Hari Operasi Pembangkit (HOP, ukuran berapa hari sebuah PLTU bisa beroperasi dengan stok batu bara yang ada) jatuh di bawah ambang aman. Kalau satu atau dua pembangkit besar mengalami gangguan teknis di saat yang sama, sistem tidak punya cukup cadangan untuk menyerap kejutan itu.

Dan itulah yang terjadi.

IV. KETIKA HARGA $400 TIDAK MEMATIKAN LISTRIK

Ada satu ironi yang sulit diabaikan jika melihat grafik harga batu bara Newcastle dari 2017 hingga sekarang.

Visualisasi 1
Harga Batubara Newcastle vs Harga DMO PLN
USD per metrik ton · 2017-2026 · Hover untuk detail bulan
Harga pasar Newcastle
Harga DMO PLN (US$70/ton)
Era Presiden Prabowo (Okt 2024)
Sumber: TradingEconomics (Newcastle futures) · ESDM RI (HBA & DMO)

September 2022. Harga batu bara Newcastle menyentuh $439 per ton. Level tertinggi sejak data tercatat, dipicu perang Rusia-Ukraina yang memutus pasokan gas ke Eropa. Seluruh dunia berlomba mencari batu bara pengganti. Indonesia, sebagai eksportir terbesar, menjual dengan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tidak ada pemadaman bergilir skala Jawa saat itu.

Juni 2026. Harga sudah turun jauh ke $144 per ton. Harga DMO masih sama: $70. Selisihnya $74, lebih kecil dari selisih di puncak 2022 yang mencapai $370. Tapi justru sekarang listrik mati bergilir selama lebih dari dua minggu.

Satu penjelasan yang mungkin: di 2022, harga ekspor yang tinggi justru membuat pengusaha berlomba memproduksi sebanyak mungkin. Volume total batu bara yang beredar melimpah. Bahkan setelah kewajiban DMO dipenuhi, masih ada cukup stok di PLTU. Sekarang, dengan kuota produksi yang dipangkas pemerintah sendiri, volume total lebih kecil, dan persaingan antara ekspor dan DMO lebih terasa.

Ini inferensi, bukan kesimpulan yang bisa dikunci. Data produksi dan stok HOP aktual di PLTU tidak dipublikasikan secara real-time oleh PLN. Yang pasti: ada sesuatu dalam desain sistem ini yang tidak bekerja seperti yang seharusnya, dan penjelasan "gangguan teknis sementara" tidak cukup menjawab pertanyaan itu.

V. TIGA NEGARA, SATU PERTANYAAN

Saya tidak memilih tiga negara ini secara acak untuk dibandingkan.

Singapura: tempat dua anak pertama saya lahir. UK: tempat empat anak saya besar. Dubai: tempat saya bekerja sekarang, membangun sistem teknologi untuk pemerintah. Dua puluh tahun lebih berpindah-pindah, dan tidak satu pun dari ketiga tempat itu membuat saya pernah bertanya-tanya kapan listrik akan menyala kembali.

Visualisasi 2
Berapa Lama Listrik Mati Per Tahun?
SAIDI / Customer Minutes Lost per pelanggan per tahun · data terbaru tersedia per negara
Pelanggan PLN di Jawa Timur kehilangan listrik rata-rata 276 menit per tahun (2019, World Bank). Di Dubai, angka itu 0,94 menit. Selisihnya bukan soal teknologi. Ini soal prioritas dan desain sistem.
Sumber: EMA Singapore (2024) · Ofgem UK (2024/25) · DEWA Dubai (2024) · World Bank/PLN (2019, Jawa Timur)

SAIDI adalah System Average Interruption Duration Index: ukuran berapa menit rata-rata seorang pelanggan kehilangan listrik dalam setahun. Semakin rendah, semakin andal sistemnya.

Singapura mencatatkan 0,26 menit per pelanggan per tahun pada 2024.11 Bukan karena mereka tidak punya tantangan. Singapura tidak punya sumber daya energi sendiri, 100 persen bergantung pada impor. Keandalannya bukan dari kekayaan alam, tapi dari desain sistem yang tidak memberi ruang untuk kegagalan berantai.

Dubai melampaui itu. DEWA, otoritas listrik Dubai, mencatat 0,94 menit Customer Minutes Lost per pelanggan per tahun di 2024. Rekor dunia, turun dari 6,88 menit di 2012.12 Di kota yang suhu panasnya 41 derajat dan AC bukan kemewahan tapi kebutuhan keselamatan, angka itu bukan kebetulan. Ia hasil investasi AED 7 miliar untuk smart grid, dan tata kelola yang tidak mentolerir eksternalitas yang dilempar ke pelanggan.

UK mencatatkan 39,71 menit per pelanggan per tahun untuk periode 2024/25.13 Angka ini relatif tinggi untuk standar Eropa Barat: infrastruktur tua, jaringan overhead di pedesaan, cuaca ekstrem. Tapi bahkan angka ini tidak pernah terasa sebagai krisis nasional. Ketika terjadi, ada penjelasan teknis yang spesifik, ada kompensasi, ada akuntabilitas.

Data terkini yang tersedia untuk Indonesia: 276 menit per pelanggan per tahun untuk Jawa Timur, menurut laporan World Bank menggunakan data PLN 2019.14 Itu sebelum krisis Juni 2026. Itu sudah sepuluh kali lipat UK. Seribu kali lipat Singapura.

Dan angka itu bukan karena Indonesia miskin atau terbelakang secara teknologi. PLN mengoperasikan pembangkit, transmisi, dan distribusi di salah satu kepulauan paling kompleks di dunia. Kapasitas teknisnya tidak diragukan. Yang berbeda adalah desain insentif, kedalaman cadangan, dan (ini yang paling sulit) kesediaan untuk jujur ketika sistem gagal.

VI. YANG BELUM DIJAWAB

Per hari ini, ada beberapa pertanyaan yang belum dijawab secara publik.

Siapa dua IPP yang pembangkitnya keluar dari sistem? Dalam sistem kelistrikan yang benar, nama pembangkit yang gagal dan kronologi kegagalannya adalah informasi publik, bukan rahasia korporat. Pelanggan yang membayar tagihan listrik berhak tahu infrastruktur mana yang tidak bekerja dan mengapa.

Berapa HOP aktual PLTU-PLTU utama Jawa sebelum krisis ini terjadi? Kalau stok batu bara memang aman seperti yang diklaim di awal, angka itu seharusnya bisa dipublikasikan. Kalau tidak bisa, perlu ada penjelasan mengapa tidak bisa.

Apa contingency plan pemerintah ketika memangkas kuota RKAB 40-70 persen? SEI dan APBI sudah memperingatkan potensi gangguan pasokan sejak Februari 2026. Empat bulan sebelum pemadaman terjadi. Respons apa yang disiapkan?

Dan satu yang keempat, yang bagi saya paling sulit diabaikan.

Di saat yang sama dengan semua ini, pemerintah sedang mendorong jutaan orang untuk bergantung lebih dalam pada listrik. Program konversi kompor LPG ke kompor induksi kembali digalakkan sejak 2025.15 Subsidi kendaraan listrik terus berjalan. Dari Rp7 juta per motor di 2024, direncanakan naik ke Rp10 juta di 2026. Penjualan mobil listrik menembus 103.931 unit sepanjang 2025.16

Kompor yang bergantung pada listrik. Motor yang bergantung pada listrik. Mobil yang bergantung pada listrik. Semua didorong oleh kebijakan, semua disubsidi oleh anggaran negara, di atas fondasi pasokan listrik yang ternyata belum siap menanggung beban yang sudah ada, apalagi beban yang sedang dibangun.

Ini bukan pertanyaan tentang apakah transisi energi itu baik atau buruk. Transisi energi perlu terjadi. Tapi ada urutan yang seharusnya tidak bisa dibalik: pastikan dulu jaringan yang ada bisa diandalkan, baru undang lebih banyak ketergantungan padanya.

Mas Budi di Bandung sudah menyalakan kembali lampunya. Warung soto di Solo sudah buka lagi. Tapi sistem yang membuat semua itu bisa terjadi (desain DMO yang tidak realistis, RKAB yang berubah mendadak, HOP yang dibiarkan kritis, IPP yang tidak transparan dalam kontrak publiknya) belum berubah. Sistem itu belum berubah.

Dan selama belum berubah, postingan berikutnya tinggal menunggu waktu.

Wallahu a'lam bishshawab.


Referensi

[1] Tempo, "Produksi Batu Bara dan Harga DMO Dinilai Picu Krisis Listrik," 19 Juni 2026. https://www.tempo.co/ekonomi/produksi-batu-bara-dan-harga-dmo-dinilai-picu-krisis-listrik-2270352

[2] Kompas, "Bahlil Bantah Kelangkaan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir," 11 Juni 2026. https://nasional.kompas.com/read/2026/06/11/20452931/bahlil-bantah-kelangkaan-batubara-jadi-penyebab-pemadaman-listrik-bergilir

[3] Tempo, "PLN: Pemadaman Bergilir Dipicu Gangguan Dua Pembangkit Besar," 19 Juni 2026. https://www.tempo.co/ekonomi/pln-pemadaman-bergilir-dipicu-gangguan-dua-pembangkit-besar-2270235

[4] Bisnis.com, "Mati Listrik Bergilir di Jawa, PLN: 2 Pembangkit Besar Alami Gangguan," 19 Juni 2026. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260619/44/1981897/mati-listrik-bergilir-di-jawa-pln-2-pembangkit-besar-alami-gangguan

[5] Kontan, "Pemadaman Listrik Landa Pulau Jawa, Dirut PLN Ungkap Kendala Pasokan Batubara ke PLTU," 20 Juni 2026. https://industri.kontan.co.id/news/pemadaman-listrik-landa-pulau-jawa-dirut-pln-ungkap-kendala-pasokan-batubara-ke-pltu

[6] AFU.id, "Produksi Batu Bara Nasional Dipangkas Bahlil," 14 Juni 2026. https://afu.id/nasional/produksi-batu-bara-nasional-dipangkas-bahlil-jadi-penyebab-listrik-jamali-byarpet

[7] Senator.id, "Bahlil Ubah Aturan RKAB, CBA: Jadi Penyebab Tersembunyi Krisis Listrik," 17 Juni 2026. https://senator.id/2026/06/18/bahlil-ubah-aturan-rkab-cba-jadi-penyebab-tersembunyi-krisis-listrik/

[8] RMOL.id, "SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil," 16 Juni 2026. https://rmol.id/amp/2026/06/16/710904/sei-bongkar-dampak-kebijakan-batu-bara-bahlil

[9] Kompas.id, "Listrik Byarpet: Masalah Pasokan Batubara atau Manajemen Pemeliharaan?" 18 Juni 2026. https://www.kompas.id/artikel/listrik-byar-pet-masalah-pasokan-batubara-atau-manajemen-pemeliharaan

[10] Republika, "Pemadaman Listrik Berulang Terjadi, Ini Analisis dari Pakar UGM," 19 Juni 2026. https://ekonomi.republika.co.id/berita/tgvehn490/pemadaman-listrik-berulang-terjadi-ini-analisis-dari-pakar-ugm

[11] Energy Market Authority Singapore, Annual Sustainability Report 2024/2025. https://www.ema.gov.sg/resources/corporate-publications/annual-sustainability-report-2024-2025

[12] DEWA, "Dubai Achieves World's Lowest Electricity Customer Minutes Lost at 0.94 Minutes Per Year," Februari 2025. https://markets.financialcontent.com/clarkebroadcasting.mycentraloregon/article/bizwire-2025-2-12-dubai

[13] StatRanker, "Top 10 Countries by Reliability of Electricity Supply," 2025. https://statranker.org/economy/construction-infrastructure/top-10-countries-by-reliability-of-electricity-supply-outage-minutes-per-year-2025/

[14] World Bank, Indonesia Sustainable Least-cost Electrification (ISLE-1), P174350. https://documents1.worldbank.org/curated/en/099060223111034380/pdf/P1743500d92d28050b90b0e4ff4b6ea41d.pdf

[15] Kompas, "Alasan Pemerintah Lanjutkan Program Bagi-bagi Kompor Listrik," 18 Januari 2024. https://www.kompas.com/tren/read/2024/01/18/113000365/alasan-pemerintah-lanjutkan-program-bagi-bagi-kompor-listrik-untuk-warga

[16] Readers.id, "Prabowo Subianto Dorong Transformasi Besar Besaran Kendaraan Listrik di Indonesia," April 2026. https://www.readers.id/prabowo-subianto-dorong-transformasi-kendaraan-listrik