Tulis
· 25 Mei 2026

Lost and Found

Lost and Found

PAGI ITU

Ia cerita sambil sarapan. Tidak ada pembukaan. Tidak ada "Ayah, boleh cerita sebentar?", langsung saja, sambil menuang susu ke sereal.

"Untuk GCSE Art, aku pilih tema Lost and Found."

Saya taruh gelas kopi. "Kenapa itu?"

Ia tidak langsung jawab. Mengunyah dulu. Lalu: "Karena aku pernah beneran ngerasa lost. Dan sekarang udah found."

Saya diam agak lama setelah itu.

Si bungsu lahir di Singapura. Besar di UK sejak umur sembilan tahun. Bahasa pertamanya campuran, Indonesia di rumah, Inggris di luar, dan kadang Singlish yang keluar sendiri tanpa ia sadari. Selama bertahun-tahun ia tumbuh di antara tiga dunia yang tidak saling menjelaskan satu sama lain. Dan rupanya, semua kebingungan itu ia simpan, lalu ia olah menjadi karya seni.

Itu yang membuat saya menulis pagi ini.

DUA DEKADE MENANAM

Kami sudah menjadi keluarga diaspora selama dua puluh tahun. Jakarta ke Singapura, sempat kembali sebentar, lalu ke UK, sudah sembilan tahun di sini. Empat anak. Empat perjalanan yang berbeda.

Saya dan istri tidak pernah punya program identitas yang formal. Tidak ada jadwal belajar budaya, tidak ada kurikulum ke-Indonesiaan. Yang ada hanya satu kalimat yang kami ulangi, pelan dan konsisten, sampai rasanya menjadi udara di rumah: kita adalah warga dunia, tapi jangan lupakan akarmu.

Kami tidak tahu apa yang akan tumbuh dari kalimat itu. Kami tidak bisa memilihkan. Yang bisa kami lakukan hanya menanam, lalu mundur.

Dan ternyata, empat anak itu tumbuh ke empat arah yang berbeda, semua menuju tempat yang sama.

YANG PALING JELAS AKARNYA

Si sulung tidak perlu penjelasan panjang. Networknya di Indonesia ia jaga dengan telaten. Di sela S1 dan S2, ia mondok di Indonesia. Riset S2-nya pun tentang Indonesia, bolak-balik mengumpulkan data bersama kolega di tanah air.

Baginya, Indonesia bukan nostalgia. Indonesia adalah subjek intelektualnya. Ia mempelajarinya dengan serius, seperti seorang peneliti mempelajari lapangan yang ia cintai.

YANG BERBICARA LEWAT MAKANAN

Anak kedua lebih susah dibaca. Diam lebih banyak dari yang lain. Tapi ada dua momen yang saya tidak akan lupa.

Pertama: waktu kecil di Singapura, satu kali liburan di Jakarta, ia menyaksikan kendaraan umum menerobos lampu merah, dan spontan berkomentar, "What a chaotic country, but I still love Indonesia." Tidak ada yang mengajarinya kalimat itu. Ia menemukannya sendiri, usia yang masih sangat muda.

Kedua: saat pelajaran Food & Nutrition di sekolah UK-nya, ia memilih memasak tiga hidangan. Batagor, kenangan masa kecil di Jakarta. Sate Padang, akar ibunya, Minang. Es pisang ijo, akar saya, Bugis Makassar.

Tiga jam memasak. Tiga cerita keluarga di atas meja dapur sekolah.

YANG MEMILIH JALAN SENDIRI

Anak ketiga suatu hari minta liburan ke Indonesia, sendiri, tanpa orang tuanya.

Alasannya sederhana. "Kalau Ayah Ibu ikut, nanti aku ngobrol pakai bahasa Inggris terus. Kalau sendiri, aku terpaksa ngomong bahasa Indonesia sama Nenek, Tante, Om, sepupu-sepupu."

Ada logika yang tidak bisa dibantah di sana.

Sekarang ia berencana gap year sebelum kuliah, bukan untuk keliling Eropa, tapi untuk mondok di Indonesia. Mengikuti jejak kakaknya. Biar tahu bagaimana rasanya benar-benar hidup di tanah leluhurnya, bukan hanya berkunjung.

Saya tidak mengusulkan itu. Ia yang memutuskan.

YANG BERBICARA LEWAT SENI

Kembali ke si bungsu dan sereal paginya.

Ia akan membuat karya kolase, foto keluarga, kardus, cat, lapisan-lapisan. Ia ingin menunjukkan bagaimana rasanya berpindah dari Indonesia ke Singapura ke UK sejak kecil, dan sempat benar-benar tidak tahu identitasnya di mana. Lost.

Lalu bagaimana ia perlahan menemukan bahwa memiliki tiga budaya bukan beban. Bahwa itu keistimewaan, bukan keanehan. Found.

Ia akan memasukkan foto neneknya, yang mengajarinya hal-hal kecil tentang Indonesia yang tidak ada di buku pelajaran mana pun. Foto kami. Cerita tentang betapa kayanya tanah air yang tidak setiap hari ia lihat tapi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Kesimpulannya dalam karya itu, yang ia ceritakan sambil mengunyah sereal tadi pagi:

I am a citizen of the world. And my roots is Indonesia. That's my advantage.

Saya tidak mengajarkan kalimat itu. Tidak ada di antara kami yang mengucapkannya lebih dulu. Ia menemukannya sendiri, setelah melewati kebingungan yang nyata, krisis yang ia rasakan sendiri, dan perjalanan panjang untuk akhirnya berdamai dengan siapa dirinya.

Itulah yang tidak bisa direncanakan dari parenting. Kita bisa menanam. Kita tidak bisa memilih buah apa yang akan keluar.

SATU PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB

Karya si bungsu belum selesai. Masih dalam proses, foto-foto belum dicetak, kardus belum dipotong, cat belum dipilih warnanya.

Saya tidak sabar menunggu. Tapi juga sedikit takut melihatnya selesai, karena karya itu akan menjadi bukti bahwa ada bagian dari perjalanan anak-anak kami yang kami tidak sepenuhnya lihat. Yang mereka lalui sendiri, dalam diam, sebelum akhirnya menemukan jawabannya.

Sebagai orang tua diaspora, saya kira itu bukan kegagalan. Tapi saya belum sepenuhnya yakin juga apakah itu keberhasilan.

Wallahu a'lam bishshawab.

Komentar