Tulis
· 21 Juni 2026

Mario Kempes dan Apartment di Dubai

Dua belas Piala Dunia. Dua belas kota. Dari Mattoangin bersama kakek yang kenal Ramang, sampai apartemen Dubai dengan layar menyala dan keluarga di seberang.

Mario Kempes dan Apartment di Dubai

Dua belas Piala Dunia. Dua belas kota. Satu orang yang sama.

Nama pertama yang saya ingat dari sepakbola dunia adalah Mario Kempes.

Saya tidak ingat golnya. Tidak ingat lawannya. Yang saya ingat hanya namanya, menggantung di udara kampung Bogor 1978, diucapkan orang-orang dewasa dengan nada yang berbeda dari nama-nama lain. Saya masih TK. Tapi nama itu nyangkut, tanpa saya tahu kenapa.

Empat tahun kemudian, saya baru benar-benar melihat Piala Dunia.

1982. Saya SD, sudah di Pinrang dan Ujung Pandang. Dan yang membuat Piala Dunia itu berbeda dari semua yang sebelumnya bukan Paolo Rossi yang menyengat di final, bukan Karl-Heinz Rummenigge yang berlari dengan kaki yang belum pulih dari cedera. Yang berbeda adalah ada kakek duduk di samping saya.

Beliau bukan orang sembarangan di dunia bola Sulawesi. Beliau pernah main untuk PSM Makassar, sejaman dengan Ramang, teman baiknya. Tidak terkenal, tidak masuk koran nasional, tapi di kampung kami beliau adalah orang yang tahu bola dari dalam, bukan dari tribun.

Saya tidak ingat persis apa yang beliau ceritakan malam itu. Tapi saya ingat caranya bicara tentang permainan, tentang PSM, tentang bagaimana bola itu bukan soal menang atau kalah tapi soal cara bermain yang membuat orang berdiri dari kursi.

Dan sebelum Piala Dunia itu, beliau pernah membawa saya ke Stadion Mattoangin.

Saya tidak pernah melupakan malam itu. Lampu stadion yang begitu terang sampai rumput hijaunya terasa bukan dari dunia nyata. Sorakan penonton PSM yang naik dari perut, bukan dari tenggorokan. Ruly kecil yang berdiri di antara orang-orang dewasa, kepala mendongak, matanya tidak berkedip.

Itulah pertama kali saya mengerti kenapa orang mencintai sepakbola.


Setelah 1982, Piala Dunia menjadi penanda waktu yang paling jujur dalam hidup saya. Lebih jujur dari tahun akademik, lebih jujur dari tanggal kontrak kerja. Karena Piala Dunia tidak bisa dimanipulasi memorinya. Semua orang tahu kapan itu terjadi.

1986: saya di Banjarmasin, SMP. Argentina juara, Maradona berkibar, Jerman Barat kalah final lagi. Saya sudah mulai memilih: saya pendukung Jerman, garis keras, tidak peduli hasilnya.

1990: Jakarta, SMA, tinggal jauh dari orang tua di kolong Bearland Matraman, kawasan Zeni TNI. Final nobar bareng anak-anak SMANDEL. Malam itu Jerman akhirnya balas dendam ke Argentina. Saya masih ingat rasanya, di ruangan penuh anak-anak yang sebagian besar tidak peduli siapa yang menang, tapi ikut bersorak karena suasananya.

1994: Asrama STT Telkom Bandung. Mahasiswa ikatan dinas, budget nonton diukur dengan sangat cermat. Brazil juara, Romario dan Bebeto, tapi yang saya ingat bukan itu. Yang saya ingat adalah kebersamaan di asrama, layar kecil, dan kopi yang selalu ada sampai subuh.

1998: Masih Bandung, sudah bekerja di Telkom. Nobar dengan teman-teman kantor. France juara di kandang sendiri, Zidane dua gol di final. Jerman tersingkir di perempat final. Saya kecewa tapi hidup berjalan.

2002: Jakarta, sudah resign dari Telkom, nobar dengan teman-teman Bank Danamon. Brazil juara lagi. Ronaldo menebus dirinya dari 1998. Jerman kalah final dari Brazil.

Di antara dua Piala Dunia itu ada satu perpindahan yang tidak terasa besar pada saat terjadinya: saya berhenti jadi karyawan dan mulai punya karyawan sendiri.

2006: Saya punya usaha sendiri, nobar bareng karyawan-karyawan saya. Bukan di kantor orang lain, tapi di ruangan yang saya yang bayar listriknya, sambil begadang mengerjakan proposal. Italy juara lewat adu penalti lawan France, Zidane tanduk Materazzi, dan Jerman? Jerman juara tiga setelah kalah semifinal dari Italy. Saya tetap bangga.

2010: Singapura. Nobar sama client tempat saya bekerja. Spain juara, tiki-taka, Iniesta di extra time. Jerman kalah semifinal dari Spain.

2014: Masih Singapura, nobar dengan teman-teman diaspora Indonesia. Götze menit 113. Jerman juara dunia. Saya tidak ingat pernah merasa sepuas itu nonton bola sendirian jauh dari rumah.

2018: UK. Nobar dengan teman-teman diaspora. France juara. Football coming home gagal lagi, Inggris kalah semifinal dari Croatia. Orang-orang Inggris di sekitar saya patah hati dengan cara yang sangat Inggris, diam dan mengangguk pelan.

2022: Masih UK. Nobar dengan client tempat saya bekerja. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya berkhianat dari Jerman, ikut mendukung Inggris karena sudah terlalu lama tinggal di sana dan Jerman memang sedang lemah. Argentina juara, Messi akhirnya dapat trofinya, dan Inggris lagi-lagi pulang lebih cepat dari yang diharapkan. Client saya kecewa dengan cara yang persis sama seperti 2018.


2026. Dubai.

Keluarga saya di UK.

Piala Dunia kali ini saya nonton sendiri, di apartemen, layar menyala tanpa ada yang perlu diajak bicara di sebelah.

Dari Mattoangin bersama kakek yang kenal Ramang. Ke Anfield, stadion yang saya datangi sendiri setelah tidak pernah menyangka hidup akan membawa saya sejauh itu dari Sulawesi Selatan. Dari anak kecil yang matanya besar melihat lampu stadion pertama kali, ke orang yang pernah duduk di tribun Anfield dan merasakan You'll Never Walk Alone dinyanyikan tujuh puluh ribu orang sekaligus.

Piala Dunia kali ini tidak ada yang menemani. Tapi saya tidak sendiri dalam arti yang sesungguhnya. Ada dua belas kota di kepala saya. Ada abang-abang di Matraman, teman asrama Bandung, karyawan yang nobar bareng saya waktu saya masih punya usaha, diaspora Singapura, orang-orang Inggris yang patah hati dengan elegan.

Dan selalu ada kakek. Lampu Mattoangin. Rumput yang terlalu hijau untuk dunia nyata.

Jerman masih saya dukung. Itu tidak berubah.

Wallahu a'lam bishshawab.