Tulis
· 24 Mei 2026

Mukaddimah

Tak sebentar telah menjadi diaspora. Sosial media memberi panggung, tapi bukan ruang. Tulis adalah ruang itu.

Mukaddimah

Saya pernah rajin membuat video.

Bukan untuk diunggah. Bukan untuk ditonton orang asing. Hanya untuk keluarga, ulang tahun, liburan, momen-momen kecil yang kalau tidak direkam akan hilang begitu saja. Saya edit dengan serius. Pilih musik. Susun urutan. Kadang satu video pendek butuh beberapa jam untuk selesai.

Lalu saya berhenti.

Bukan karena tidak ada waktu. Bukan karena tidak ada momen. Tapi karena dunia tempat video itu hidup sudah berubah. Landscape jadi portrait. Lima belas menit jadi satu menit. Kedalaman jadi noise di antara konten yang lebih cepat, lebih keras, lebih mencolok. Saya mencoba mengikuti. Gagal. Dan saya tidak yakin kegagalan itu ada di pihak saya.

Yang ironis: anak-anak saya masih menonton video lama itu. Bukan reels. Bukan shorts. YouTube keluarga dari sepuluh tahun lalu, dengan aspect ratio yang salah dan editing yang tidak didikte oleh algoritma. Mereka masih menontonnya.

💡
Artinya kedalaman masih dicari. Hanya perlu rumah yang tepat.

Media sosial memberi panggung. Itu benar. Tapi panggung dan ruang adalah dua hal yang berbeda.

Di panggung, kamu tampil. Ada lampu sorot, ada penonton, ada tepuk tangan, atau diam yang terasa seperti hukuman. Kamu belajar membaca sinyal cepat: mana yang dapat likes, mana yang dilompati. Perlahan, tanpa disadari, kamu mulai menulis untuk sinyal itu. Bukan untuk pikiran yang ingin kamu selesaikan.

Saya tahu ini karena saya melakukannya.

Keresahan jadi konten. Kemarahan jadi engagement. Isu yang kompleks harus muat dalam tiga paragraf sebelum tombol Lihat Selengkapnya, karena setelah itu pembaca sudah pergi. Media sosial adalah gula: cepat memberi energi, tidak benar-benar memberi gizi. Dan seperti gula, ia membuat kita lapar lagi lebih cepat dari sebelumnya.

Saya tidak anti media sosial. Saya masih ada di sana. Tapi saya mulai sadar bahwa ada pikiran-pikiran yang tidak bisa hidup di sana, bukan karena terlalu panjang, tapi karena butuh udara yang berbeda untuk tumbuh.

, -

Tulis lahir dari kebutuhan itu.

Bukan sebagai manifesto. Bukan sebagai kritik terhadap platform lain. Hanya sebagai ruang, tempat pikiran bisa duduk lebih lama, dikerjakan lebih serius, dan dibaca oleh orang yang memang datang untuk membaca.

Saya tidak punya ilusi bahwa Tulis akan mengubah kebiasaan digital jutaan orang. Perubahan seperti itu tidak datang dari satu website. Ia datang dari gerakan yang tumbuh pelan, seperti film yang bertahan bukan karena viral, tapi karena bermakna. Seperti gelar seni yang tidak pernah trending tapi selalu punya penontonnya.

Yang saya tahu: setiap medium punya pembacanya. Dan pembaca yang saya cari, yang cukup sabar untuk duduk dengan argumen yang kompleks, mereka ada. Hanya perlu tempat untuk bertemu. Dan di tempat ini, kompleksitas itu akan saya arahkan pada satu hal yang paling sering mengusik isi kepala saya: Indonesia.

,

Di sini, saya menulis tentang Indonesia. Tentang kebijakan yang tampak masuk akal di podium tapi layu sebelum sampai ke sawah. Tentang sistem yang bocor dari desainnya sendiri. Tentang jarak, geografis, sekaligus jarak dari kepentingan dan afiliasi, yang kadang memberi lensa lebih tajam dari kedekatan.

Dua puluh tahun dari jauh mengajarkan satu hal: Indonesia tidak pernah benar-benar pergi dari kepala saya. Yang pergi hanyalah saya.

Dan dari jauh, kadang kita melihat lebih jelas.

Wallahu a’lam bishshawab.

Komentar