Lebaran tahun ini kami rayakan di UK. Seluruh keluarga berkumpul, momen yang tidak selalu bisa dijamin kalender diaspora. Di sela-sela itu, anak-anak mulai merencanakan summer holiday. Amplop dari hasil kerja sendiri sudah terkumpul, sudah rutin, tapi tidak pernah terasa biasa. Si sulung sudah lebih lama. Yang ketiga dan bungsu baru dua tahun belakangan. Rencana sudah lama dicanangkan: Indonesia dulu, lalu singgah Singapura. Dua tempat yang berbeda maknanya. Indonesia untuk makanan, sepupu, silaturahmi. Singapura untuk nostalgia, tempat mereka lahir, kerabat Melayu, sahabat kecil sesama diaspora yang kini tersebar.
Mereka membuka kalkulator kurs. GBP ke SGD. GBP ke IDR.
Reaksi pertama: kuliner Singapura lebih murah dari London. Mereka tidak kaget, London sedang krisis, semua mahal. Tapi reaksi kedua berbeda nadanya. Nasi goreng Solaria. "Wah, sangat terjangkau ya Yah."
Saya mendengar kalimat itu. Dan diam sebentar.
DUA KOTA, DUA UKURAN
Singapura bukan murah. Tapi GBP masih punya martabat di sana. Anak-anak yang lahir di sana, yang ingat naik MRT dan makan di hawker centre, tidak kaget. Harga bergerak, tapi dalam batas yang masuk akal.
Indonesia berbeda. Bukan soal harga absolutnya, tapi soal betapa jauhnya jarak itu sekarang. Ketika anak remaja yang sudah terbiasa menghitung hasil kerjanya sendiri bisa langsung merasakannya tanpa membaca satu pun laporan ekonomi, ada sesuatu yang sedang terjadi di luar ambang batas normal.
Mereka tidak sedang menganalisis rupiah. Mereka hanya sedang merencanakan liburan. Tapi pasar tidak pernah bisa dibohongi, bahkan oleh kegembiraan anak-anak yang baru selesai ujian.
THE INSIDER'S VOTE
Trader asing di New York tidak pernah ke Indonesia. Indonesia baginya adalah satu baris di spreadsheet, emerging market, high yield, elevated risk. Ketika angkanya berubah, ia klik jual. Tidak ada beban moral di sana. Hanya posisi.
Seseorang di Bintaro berbeda. Ia tahu nama jalan di sana. Di mejanya ada cetakan surel dari universitas di UK, tagihan semester depan yang angkanya tetap dalam pound, tapi terasa makin berat setiap bulan saat dikonversi. Siang tadi ia menandatangani invoice dari penyuplai lokal. Di bagian bawah, dengan tinta merah: harga dapat berubah mengikuti kurs JISDOR pada hari pelunasan.
Ia tidak membaca Bloomberg. Ia hidup di dalam datanya.
Dan malam itu, setelah makan malam, ia membuka aplikasi bank dan memindahkan sebagian ke rekening valas.
Bukan karena panik. Karena ia tahu.
Yang paling berbahaya bukan modal yang lari karena tidak kenal. Yang berbahaya adalah modal yang pergi karena terlalu kenal.
Data Bright Institute mencatat bahwa pada kuartal I 2026, modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai $4,2 miliar, sementara modal yang keluar dari tangan penduduk Indonesia sendiri mencapai $9,14 miliar. Arus neto keluar: $4,93 miliar.1 Ekonom Awalil Rizky menyebutnya sebagai yang terburuk yang pernah tercatat. "Biasanya bahkan surplus," katanya.
KETIKA SOLUSI TERBACA SEBAGAI KONFIRMASI
Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan langkah ini langsung dari Istana Merdeka, satu dari enam "jurus" penguatan Rupiah yang dipaparkan kepada Presiden Prabowo.2 Batas pembelian dolar tanpa dokumen pendukung dipangkas: dari $100 ribu ke $50 ribu pada April lalu, dan bersiap terjun ke $25 ribu per Juni ini.
Di atas kertas siaran pers, BI menolak kata "pembatasan." Narasi resminya adalah penertiban administratif. Transaksi besar tetap silakan berjalan, asal ada dokumen yang sah. Secara teknis birokrasi, ini argumen yang kokoh.
Tapi coba letakkan kertas siaran pers itu di meja makan orang di Bintaro tadi.
Ia bukan spekulan yang sedang bertaruh melawan bank sentral di layar Bloomberg. Ia hanyalah seorang ayah yang memegang tagihan dari universitas di UK dan seorang pengusaha yang baru saja meneken invoice berklausul JISDOR. Ketika otoritas moneter mulai memperketat pagar regulasi, dengan alasan penertiban administrasi sekalipun, negara sedang mengirimkan sinyal yang dibaca terbalik di lapangan: pasokan dolar di dalam rumah sedang tidak baik-baik saja.
BI mencatat bahwa pengetatan dokumen pada April berhasil menekan rata-rata transaksi valas harian dari $78 juta menjadi $62 juta.3 Angka itu diklaim sebagai kemenangan taktis. Namun, ada pertanyaan yang tidak ada di dalam siaran pers: apakah transaksi itu benar-benar lenyap, atau ia hanya berpindah ke pintu belakang yang lebih sunyi?
Logikanya selalu berulang: ketika sesuatu mulai dibatasi, urgensi orang untuk memegangnya justru berlipat ganda.
Setiap penurunan batas, $100 ribu, $50 ribu, lalu $25 ribu, dibaca oleh orang dalam bukan sebagai obat penenang, melainkan sebagai hitung mundur. Persis seperti antrean di supermarket sebelum badai datang. Pengumuman bahwa "setiap orang hanya boleh membeli dua kardus mi instan" tidak pernah berhasil menenangkan massa, kebijakan itu justru memicu mereka yang awalnya tidak berniat membeli untuk ikut berebut di rak yang sama.
Seseorang yang cukup memahami cara kerja sistem tidak akan berhenti karena birokrasi mempersulit jalannya. Ia hanya akan mencari jalan lain, meski dengan biaya yang sedikit lebih mahal.
Saya tidak menjelaskan semua ini kepada anak-anak saya malam itu.
Tidak tentang capital outflow domestik yang mengalahkan modal asing yang masuk. Tidak tentang klausul JISDOR di invoice antar-tetangga. Tidak tentang hitung mundur threshold yang bergerak dari $100 ribu ke $50 ribu, dan sebentar lagi $25 ribu.
Mereka duduk di depan saya, berkumpul seperti yang tidak selalu bisa dijamin kalender diaspora. Mereka bangga dengan rencana yang sudah mereka tabung sendiri. Dan kebanggaan itu nyata, lebih nyata dari angka apapun yang sedang bergerak di pasar valas Jakarta malam itu.
Saya hanya bilang: bersyukurlah, itu jerih payahmu. Sisakan sedikit untuk yang memerlukan.
Saya tahu persis apa yang sedang mereka ukur tanpa mereka sadari. Saya tahu ada badai yang merayap di bawah permukaan kalkulator kurs yang mereka buka dengan riang. Dan saya memilih diam.
Bukan karena tidak tahu. Karena di momen itu, saya memilih menjadi seorang ayah ketimbang menjadi seorang ekonom.
Apakah itu penghindaran, atau kebijaksanaan, saya sendiri belum sepenuhnya yakin.
Wallahu a'lam bishshawab.
[1] Republika, Tren Pelemahan Rupiah Dinilai Mirip Awal Krisis Baht 1997, 29 Mei 2026. https://ekonomi.republika.co.id/berita/tfsxc3423/tren-pelemahan-rupiah-dinilai-mirip-awal-krisis-baht-1997
[2] Antara, BI akan turunkan batas pembelian USD tanpa underlying jadi 25 ribu dolar AS, 5 Mei 2026. https://www.antaranews.com/berita/5555555/bi-akan-turunkan-batas-pembelian-usd-tanpa-underlying-jadi-25-ribu-dolar-as
[3] Investor Daily via mediakompeten.co.id, Bank Indonesia Turunkan Batas Pembelian Dolar AS untuk Jaga Rupiah, 22 Mei 2026. https://www.mediakompeten.co.id/bi-turunkan-batas-pembelian-dolar