Idul Adha kali ini saya di UK bersama keluarga.
Gawai saya tak berhenti bergetar. Film Pesta Babi yang sekarang sudah bebas ditonton di YouTube sedang menjangkau orang-orang yang sebelumnya tidak tahu apa yang terjadi di Merauke. Dan bersamaan dengan itu, serangan terhadap film itu mulai terorganisir.
Dua serangan. Satu pola.
MAMA YASINTA DIPAKAI DUA KALI
Serangan pertama datang melalui wajah seorang perempuan 61 tahun.
Namanya Yasinta Moiwend, tokoh adat Marind dari Merauke, aktivis yang selama ini memperjuangkan hak masyarakat adat melawan pembukaan lahan. Wajahnya mendadak jadi pusat badai digital. Ia marah. Ia lelah. Ia berkata: "Apa saya ini boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa pengetahuan dan izin saya?"1
Kemarahannya perlu didengar dengan serius.
Ia mengaku tidak diwawancara untuk film itu. Tidak tahu rekaman dirinya akan masuk ke dalam produksi apa pun. Baru sadar ketika pemutaran berlangsung di Jayapura, dan wajahnya ada di depan. Itu bukan keluhan kecil. Itu persoalan yang harus dijawab secara terbuka oleh pembuat film.
Dandhy Laksono merespons bukan dengan membantah, tapi dengan kata-kata yang jujur: "Kawan-kawan semua, kita tak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta di pedalaman Papua sana."1
yang belum selesai tidak boleh diperlakukan sebagai sudah selesai.
Tapi kemudian sesuatu terjadi.
Wajah Mama Yasinta muncul lagi, kali ini bukan untuk mempertanyakan film, tapi untuk menutup seluruh percakapan tentang PSN. Keluhannya yang legitimate dijadikan senjata untuk mendelegitimasi bukan hanya filmnya, tapi seluruh isu yang ada di dalamnya: tanah yang diambil, hutan yang dibuka, masyarakat adat yang tidak pernah ditanya.
Ia muncul dalam video yang beredar luas, menyatakan dukungan untuk food estate. Di video yang sama, ia menyebut anak-anaknya butuh pekerjaan. Rumahnya perlu direhab.2
Berhenti sejenak di sini.
Ia dulu aktif menolak pembukaan lahan. Sekarang meminta pekerjaan di perusahaan yang membuka lahan itu. Bukan karena tiba-tiba percaya proyeknya adil. Tapi karena ketika hutanmu hilang, pilihanmu habis. Di titik itu, yang tersisa bukan persetujuan. Itu keputusasaan yang berpakaian dukungan.
ia bukan argumen. ia manusia.
CONSENT UNTUK PSN
2,29 juta hektare. Tujuh puluh kali luas Jakarta.3
Konsesi sudah diterbitkan. Ekskavator sudah datang, dengan pengawalan militer. Di atas tanah itu, 50.000 jiwa tinggal. Delapan puluh persennya orang asli Papua.4
Sebelum semua itu dimulai, siapa yang datang ke kampung Mama Yasinta dan bertanya, apakah Ibu setuju?
Siapa yang meminta persetujuan suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, bukan persetujuan gubernur, bukan persetujuan kementerian, tapi persetujuan orang-orang yang sudah hidup di sana sebelum republik ini ada?
Oktober 2024, lima batalyon infanteri baru diresmikan di Papua. Tugasnya tertulis resmi: mendukung proyek ketahanan pangan, membantu perusahaan swasta.5 Simon Balagaize dari Forum Masyarakat Adat Malind berkata: perusahaan datang dengan tentara dan senjata.
Standar consent yang tiba-tiba begitu tinggi untuk sebuah film dokumenter, ke mana ia pergi ketika ekskavator dan moncong senjata datang mengambil tanah?
SOROS DAN STANDAR TRANSPARANSI
Serangan kedua lebih sederhana dari yang ingin ia tampakkan.
Ya, Watchdoc pernah menerima dana dari Open Society Foundations. Tercatat di situs resmi OSF: $251.983 pada 2022.6 Dandhy tidak menyembunyikannya. Ia justru mempertanyakan balik: mengapa kita lebih penasaran dengan inisiatif sipil daripada dari mana duit parpol untuk konser besar?7
Tapi yang lebih penting: dana 2022 bukan dana film ini. Film Pesta Babi dibuat secara gotong royong, WatchDoc menyumbang kamera dan kameramen, bukan uang tunai. Kolaborator lain menanggung transportasi dan logistik. Tidak ada honor. Tidak ada satu kru pun yang dibayar secara profesional.7
Tempo juga ada di daftar OSF.6 Keduanya tidak menyembunyikannya. Sumber dana mereka terbuka, bisa dicek siapa saja, termasuk oleh orang yang membuat infografis biru gelap itu.
Yang menarik bukan soal Soros-nya. Yang menarik adalah pilihan untuk mempersoalkan transparansi WatchDoc dan Tempo, dua institusi yang justru membuka sumber dananya, sambil diam tentang yang lain.
Pejabat yang tiba-tiba membangun rumah mewah. Rekening yang tiba-tiba penuh menjelang proyek besar disahkan. Konsesi yang berpindah tangan dengan kecepatan yang tidak wajar.
Apakah mereka juga mau sumber dananya diungkap?
Kalau transparansi jadi standar, terapkan ke semua arah.
YANG PALING MUDAH HILANG
Di tengah semua kegaduhan ini, Mama Yasinta sendiri yang paling mudah terlupakan.
Perempuan yang marah karena wajahnya dipakai tanpa izin. Lalu dipakai lagi, untuk narasi yang berbeda, oleh pihak yang berbeda, dengan tujuan yang berbeda.
Dua kali dipakai. Tidak satu pun yang benar-benar bertanya: ia mau apa untuk tanahnya?
Ia berhak atas keadilan yang tidak pilih-pilih. Yang berlaku untuk film dokumenter. Dan untuk 2,29 juta hektare yang diambil tanpa bertanya.
Wallahu a'lam bishshawab.
[1] Kompas.com, Polemik Mama Yasinta di Film Pesta Babi, Sutradara Dandhy Laksono: Jangan Hakimi Beliau, 25 Mei 2026. https://entertainment.kompas.com/read/2026/05/25/115652366/polemik-mama-yasinta-di-film-pesta-babi-sutradara-dandhy-laksono
[2] JawaPos.com, Nama Mama Sinta Viral Soal PSN, Begini Klarifikasinya, 24 Mei 2026. https://www.jawapos.com/berita-daerah/2605240197/nama-mama-sinta-viral-soal-psn-begini-klarifikasinya
[3] Tempo, Potensi Perampasan Tanah di PSN Tebu dan Proyek Sawah di Merauke, 2024. https://www.tempo.co/lingkungan/potensi-perampasan-tanah-di-psn-tebu-dan-proyek-sawah-di-merauke-7313
[4] Katadata, 50 Ribu Penduduk Papua Selatan Terdampak Proyek Food Estate Merauke, 16 Oktober 2024. https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/ekonomi-sirkular/670f98d30274a/50-ribu-penduduk-papua-selatan-terdampak-proyek-food-estate-merauke
[5] Antara, Panglima TNI Resmikan Lima Batalyon Penyangga Daerah Rawan untuk Papua, 2 Oktober 2024. https://www.antaranews.com/berita/4372039/panglima-tni-resmikan-lima-batalyon-penyangga-daerah-rawan-untuk-papua
[6] Open Society Foundations, Grants Database. https://www.opensocietyfoundations.org/grants
[7] Kompas.tv, Dandhy Laksono Jawab soal Sumber Dana Pembuatan Film "Pesta Babi", 20 Mei 2026. https://www.kompas.tv/nasional/670151/dandhy-laksono-jawab-soal-sumber-dana-pembuatan-film-pesta-babi