Ada rekaman rapat kabinet yang beredar. Kepala BGN saat itu, Dadan Hindayana, menjelaskan kepada Presiden Prabowo bagaimana program Makan Bergizi Gratis bekerja di lapangan.
Satu anak, satu lele.
Satu SPPG, satu sapi dipotong setiap hari.
Penjelasan itu disampaikan dengan keyakinan. Presiden mendengarkan. Rapat berlanjut.
Yang tidak masuk ke rapat kabinet: video seorang siswa yang diwawancara di sekolahnya. Ia menjawab dengan jujur, maksimum satu kali dalam sebulan ia mendapat daging sapi. Kadang tidak sama sekali.
Dua kenyataan. Satu program. Satu pertanyaan yang tidak pernah masuk ke agenda rapat: data siapa yang benar?
ANGKA YANG BERJALAN SENDIRI
Rp71 triliun dihabiskan di 2025. Untuk 2026, pemerintah mengalokasikan Rp335 triliun.1 Hampir lima kali lipat dalam satu tahun, bukan karena modelnya terbukti jalan, tapi karena skalanya harus diperbesar.
Angka itu berjalan. Program itu berjalan. Dadan berjalan juga, keluar dari Gedung Kejaksaan Agung pada Rabu 3 Juni 2026, pukul 17.11 WIB, dengan rompi pink dan tangan diborgol.2
Dua wakil kepala BGN menyusul beberapa menit kemudian.
Mereka dicopot Selasa malam. Ditangkap Rabu subuh. Kurang dari sepuluh jam antara pemecatan dan penangkapan, sebuah kecepatan yang tidak pernah dicapai program itu sendiri di lapangan.
Kejaksaan Agung kemudian membuka detail yang lebih dalam: yayasan-yayasan SPPG yang terafiliasi langsung dengan Dadan, Sony, dan Lodewyk, yayasan yang tidak memenuhi syarat, tapi tetap lolos verifikasi lewat "atensi khusus" dari para tersangka, mendapat insentif miliaran rupiah setiap hari, triliunan rupiah setiap tahun.3
Di luar itu, ada pengadaan yang di-markup: 21.801 unit motor listrik senilai sekitar Rp1 triliun. Tiga puluh dua ribu pasang sepatu.4
Motor listrik dan sepatu. Untuk program makan bergizi.
Saya tidak akan menambahkan komentar di sini. Faktanya sudah cukup berbicara sendiri.
YANG TIDAK DITANGKAP
Dadan, Sony, Lodewyk ditangkap. Kasusnya real. Kerugian negaranya sedang dihitung.
Tapi ada pertanyaan yang lebih besar dari siapa yang ditangkap: seberapa luas celah yang mereka masuki?
Program dengan 19.000 lebih SPPG, dijalankan tanpa pilot, diluncurkan langsung ke skala nasional, adalah program yang membuka pintu lebar untuk siapapun yang tahu cara membaca celah sistem. Dadan cs bukan satu-satunya yang tahu cara itu.
Yang tertangkap sedang menjalani pemeriksaan. Yang lain sedang menunggu keadaan tenang.
Bukan tuduhan. Hanya logika sistem yang tidak punya pengaman.
VISI YANG TERTUKAR
Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 sudah mencantumkan sasaran MBG: ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah.5 Semua masuk dari awal. Tidak ada yang ditambahkan belakangan.
Yang terjadi di lapangan adalah urutan prioritas yang terbalik.
Ibu hamil, kelompok yang paling kritis dalam pencegahan stunting, yang berada di jendela 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang tidak bisa diulang, menjadi yang paling sedikit tersentuh.6 Sementara foto-foto anak SD membuka kotak makan siang mendominasi narasi publik.
Ini bukan soal niat. Ini soal desain insentif. Program yang terlihat, anak sekolah, foto bareng, angka penerima yang bisa diumumkan tiap minggu, jauh lebih mudah dikelola secara politik daripada program yang hasilnya baru terlihat dua puluh tahun kemudian.
Stunting tidak menghasilkan foto yang bagus hari ini. Ia terlihat dalam angka produktivitas generasi berikutnya, yang tidak ada yang akan ingat siapa yang bertanggung jawab.
LEBIH SENANG MEMBERI SEDIKIT PADA BANYAK ORANG
Ada logika politik yang bekerja di balik ini, dan ia lebih jujur dari semua press release yang pernah dikeluarkan BGN.
Memberi sedikit pada banyak orang itu terlihat. Ia menghasilkan angka: 19.000 SPPG, 60 juta penerima, foto setiap hari. Ia menghasilkan liputan. Ia menghasilkan perasaan bahwa sesuatu sedang terjadi.
Memberi banyak pada sedikit orang itu tidak terlihat. Ibu hamil di desa terpencil yang mendapat protein cukup selama sembilan bulan tidak menghasilkan foto yang bagus. Anaknya yang lahir dengan berat badan normal tidak ada di berita. Generasi yang tidak stunting tidak ada yang akan ingat siapa yang bertanggung jawab dua puluh tahun kemudian.
Maka yang dipilih adalah yang terlihat. Bukan yang bekerja.
19.000 SPPG dengan daging sapi yang muncul sekali sebulan, kalau muncul. Dibanding ratusan Puskesmas yang sudah ada, yang tinggal diperkuat, yang bisa menjangkau ibu hamil dengan protein berkualitas setiap hari.
Skala bukan tanda keseriusan. Kadang ia adalah tanda sebaliknya.
PENGGANTI YANG TIDAK PERLU PENJELASAN
Setelah Dadan pergi, Presiden menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru.
Nanik adalah mantan jurnalis. Timses Prabowo sejak 2019. Komisaris Pertamina sebelum jadi Wakil Kepala BGN, lalu kini Kepala BGN.
Ia juga adalah orang pertama yang menyampaikan kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet kepada Prabowo, kabar yang kemudian terbukti bohong.7 Informasi itu tidak diverifikasi sebelum disampaikan ke calon presiden.
Kini ia memimpin lembaga senilai Rp335 triliun, lembaga yang baru saja tersandung karena, antara lain, angka di podium tidak cocok dengan kenyataan di lapangan.
Ada yang berulang di sini. Saya cukup mencatatnya.
BUKAN MENOLAK. MENGEMBALIKAN.
MBG bukan program yang salah secara visi. Stunting adalah krisis nyata. Intervensi gizi adalah investasi yang benar.
Yang salah adalah cara eksekusinya, dan pola yang sama terus berulang.
Tidak ada pilot. Langsung 19.000 lebih SPPG. Langsung Rp71 triliun, lalu Rp335 triliun. Langsung pengumuman angka penerima manfaat setiap minggu, sementara di baliknya, titik SPPG diperjualbelikan, yayasan terafiliasi menerima miliaran per hari, dan siswa yang diwawancara mengaku daging sapinya muncul paling banyak sekali sebulan.
Ini bukan anomali kepemimpinan. Ini adalah hasil yang hampir pasti dari sistem yang didesain tanpa pengaman, karena terlalu terburu-buru untuk terlihat berjalan.
Pola ini bukan hanya MBG. Koperasi Merah Putih: 80.000 unit, Rp83 triliun dari APBN 2026, mekanisme pembiayaan yang sudah diubah tiga kali sebelum program benar-benar berjalan, dan studi terhadap 108 kepala desa di 34 provinsi menemukan 65% dari mereka mengindikasikan celah besar di tata kelola, bahkan sebelum program berjalan penuh.8 Sekolah Rakyat: ratusan lokasi, konsep yang belum selesai didefinisikan sebelum dieksekusi. Skala dulu, verifikasi kemudian, kalau sempat.
TAGIHAN
Ada Rp335 triliun yang masih bisa diputar ulang arahnya tahun ini.
Kembalikan MBG ke visinya: intervensi stunting untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Salurkan lewat Puskesmas dan Posyandu yang sudah ada, bukan SPPG baru yang perlu dibangun, diawasi, dan rupanya bisa dijadikan ladang. Untuk anak sekolah, batasi hanya pada desa tertinggal, lewat kantin sekolah yang sudah ada.
Selisih anggarannya? Gaji guru yang masih di bawah layak. Gedung sekolah yang masih banyak roboh. Investasi itu tidak menghasilkan berita hari ini, tapi dua puluh tahun dari sekarang, ia yang menentukan apakah generasi berikutnya bisa berdiri sendiri atau tidak.
Dan satu hal yang tidak bisa lagi diabaikan: setiap program berskala nasional wajib melalui pilot. Bukan karena birokrasi suka pilot. Tapi karena tanpa pilot, yang berjalan bukan programnya, yang berjalan adalah improvisasi berbiaya triliun, diawasi oleh rompi pink.
Wallahu a'lam bishshawab.
[1] Antara, Anggaran MBG 2025 Terserap 72,5 Persen dari Pagu Rp71 Triliun, 8 Januari 2026. https://www.antaranews.com/berita/5339457/anggaran-mbg-2025-terserap-725-persen-dari-pagu-rp71-triliun
[2] Antara, Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, 3 Juni 2026. https://banten.antaranews.com/berita/382367/mantan-kepala-bgn-dadan-hindayana-ditahan-kejagung
[3] Bisnis.com, Kejagung Ungkap Yayasan Terafiliasi Dadan Cs Raup Insentif Miliaran Rupiah Per Hari, 3 Juni 2026. https://kabar24.bisnis.com/read/20260603/16/1978252/kejagung-ungkap-yayasan-terafiliasi-dadan-cs-raup-insentif-miliaran-rupiah-per-hari
[4] Kompas.com, Cara Dadan Tunjuk Mitra SPPG Terafiliasi Dirinya sehingga Dapat Miliaran, 3 Juni 2026. https://nasional.kompas.com/read/2026/06/03/18381651/cara-dadan-tunjuk-mitra-sppg-terafiliasi-dirinya-sehingga-dapat-miliaran
[5] Ombudsman RI, Perempuan dan Pangan: Jangan Lupakan Ibu Hamil dan Menyusui dalam Program MBG. https://ombudsman.go.id/artikel/r/artikel--perempuan-dan-pangan-jangan-lupakan-ibu-hamil-dan-menyusui-dalam-program-mbg
[6] S2 Kesehatan Masyarakat Universitas Alma Ata, MBG untuk Menangani Stunting? Tepatkah? https://s2kesmas.almaata.ac.id/mbg-untuk-menangani-stunting-tepatkah/
[7] Lelemuku.com, Mengingat Nanik Sudaryati Deyang, Orang Pertama yang Sampaikan Hoaks Ratna Sarumpaet ke Prabowo, 2026. https://www.lelemuku.com/2026/06/mengingat-nanik-sudaryati-deyang-orang.html
[8] CELIOS via The Stance, Koperasi Merah Putih Berisiko Jadi Ladang Korupsi Terstruktur, 2025. https://thestance.id/koperasi-merah-putih-berisiko-jadi-ladang-korupsi-terstruktur
Komentar