Tulis
· 7 Juni 2026

Sensor Yang Kita Rusak Sendiri

Sensor Yang Kita Rusak Sendiri

OBOR DAN KOMPOR

Pekan ini sebuah narasi beredar luas di media sosial. Intinya begini: penurunan porsi asing di SBN bukan krisis, melainkan strategi. Kita yang dalangnya. Mereka menyulut obor, kita yang membalik apinya jadi kompor. Rupiah melemah? Pintu yang sengaja dibuka. IHSG nyungsep? Ladang yang sedang kita ambil alih diam-diam. Narasi itu ditulis dengan semangat, diakhiri tanda seru, dan ditutup dengan emoji bendera merah putih.

Saya mengerti daya tariknya.

Di tengah kabar buruk yang tidak berhenti datang, cerita bahwa kita sebenarnya yang menang terasa seperti oksigen. Masalahnya: oksigen dan gas beracun sama-sama tidak berbau.

ANGKA YANG BENAR, KESIMPULAN YANG LAIN

Mari kita periksa dulu apa yang benar.

Porsi kepemilikan asing di SBN memang turun ke 12,62% per 2 Juni 2026, level terendah sejak November 2006. Dan pada 2019, asing memang pernah menguasai hampir 40% obligasi pemerintah Indonesia yang beredar.1 Angka-angka ini valid. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini.

Yang perlu diperdebatkan adalah apa artinya.

Posisi Kepemilikan SBN per Kelompok Investor
April 2025, Juni 2026: hanya titik data terverifikasi yang ditampilkan
Bank Indonesia
Asuransi & Dana Pensiun
Perbankan
Asing
Individu
Reksa Dana

Catatan metodologi: Titik-titik yang ditampilkan adalah data yang dapat diverifikasi dari DJPPR Kemenkeu dan laporan resmi. Garis antar titik adalah interpolasi, bukan data aktual. Bulan tanpa data resmi tidak diisi.

Sumber: DJPPR Kemenkeu, Bisnis.com, IDX Channel, Kontan, diolah

Narasi "by design" mengatakan penurunan ini adalah kemenangan, aset kembali ke tangan domestik. Yang dilewatkan: siapa yang mengisi kekosongan itu, dan dengan konsekuensi apa.

Data DJPPR Kementerian Keuangan per 29 Mei 2026 menunjukkan yang paling signifikan menambah kepemilikan SBN adalah Bank Indonesia, naik Rp206 triliun atau 12,55% sepanjang tahun berjalan. Sementara perbankan konvensional justru turun kepemilikannya 10,49% di periode yang sama.2

BI membeli SBN bukan karena strategi kedaulatan. Ini operasi moneter standar, yang dilakukan bank sentral ketika pasar sedang tertekan dan tidak ada pembeli lain yang cukup. Ini bukan "kita memasak di kompor belakang." Ini pemadam kebakaran yang menyiram api sambil kita sibuk bilang api itu sebenarnya tungku yang kita nyalakan sendiri.

Dan kondisinya memang berat. Kedalaman koreksi IHSG pada 2026 sudah mendekati skala kejatuhan era pandemi, meski pemicunya berbeda. Pada 2020 ada shock global yang menghantam semua negara sekaligus. Pada 2026, tekanan yang makin dominan justru berasal dari dalam, capital outflow, pelemahan rupiah, defisit eksternal, dan turunnya kepercayaan investor terhadap prospek Indonesia.3

Ini bukan ladang yang sedang diambil alih. Ini tanah yang sedang longsor.

NARASI YANG TIDAK BISA SALAH

Ada satu ciri yang perlu kita kenali bersama, ciri dari narasi yang berbahaya, bukan karena isinya salah, tapi karena ia dirancang agar tidak bisa salah.

Asing kabur dari SBN? "Kita yang atur, biar mereka keluar dulu." Asing masuk lagi bulan depan? "Nah, terbukti kan kita menarik." Rupiah melemah? "Pintu yang sengaja kita buka." Rupiah menguat? "Bukti fondasi kita kuat."

Apapun yang terjadi, narasi ini selalu benar.

Strategi yang baik tidak perlu dilindungi dari pertanyaan. Justru sebaliknya, ia tahan uji.

Dalam logika sains, kondisi seperti ini punya nama: unfalsifiable. Tidak bisa diuji karena tidak ada kejadian apapun yang bisa membuktikannya salah. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenalnya dengan nama lain: dogma.

Saya tidak sedang mengatakan pemerintah tidak punya strategi. Saya tidak sedang mengatakan semua kritik terhadap Indonesia benar atau datang dari niat baik. Yang saya katakan jauh lebih sederhana: strategi yang baik tidak perlu dilindungi dari pertanyaan. Justru sebaliknya, ia tahan uji.

SENSOR YANG KITA RUSAK SENDIRI

Kita punya kebiasaan lama. Ketika situasi terasa mengancam, kita cenderung mencari narasi yang menenangkan lebih dulu, dan menguji kebenarannya kemudian, atau tidak sama sekali.

Ini bukan kelemahan moral. Ini respons yang sangat manusiawi. Otak kita memang dirancang untuk mengurangi ketidakpastian, dan narasi yang memberi rasa kendali terasa jauh lebih menenangkan daripada data yang ambigu dan terbuka.

Yang berbahaya bukan sekadar bahwa kita keliru. Yang berbahaya adalah narasi unfalsifiable bekerja seperti sensor yang dirusak dari dalam. Ketika sistem ekonomi sedang berdarah-darah, yang pertama dibutuhkan adalah indikator yang jujur, sinyal yang memberitahu kita di mana kerusakannya. Kalau sensornya sudah kita manipulasi sendiri dalam kepala kita, yakin bahwa semua tanda bahaya sebenarnya tanda kemenangan, kita kehilangan kemampuan untuk mendeteksi kerusakan sebelum ia menjadi bencana yang tidak bisa lagi diantisipasi.

Ada harga yang dibayar dari kenyamanan semu ini. Dan yang membayarnya bukan kita yang nyaman berdebat di media sosial.

Tahu dan tempe bukan makanan orang miskin, ia adalah protein rakyat yang dimakan dari Sabang sampai Merauke. Kebutuhan kedelai nasional mendekati 2,8 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 300 ribu ton.4 Ketergantungan impor mencapai 85 persen dari total kebutuhan, dengan Amerika Serikat memasok lebih dari 91 persennya, semua dibayar dalam dolar.5

Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor naik dalam hitungan hari. Pengrajin tahu-tempe di Jawa Timur tidak punya pilihan yang baik: naikkan harga, dan konsumen lari. Tahan harga, dan margin yang sudah tipis jadi minus. Mereka tidak bisa hedge. Tidak ada meja negosiasi yang bisa mereka datangi. Yang mereka punya hanyalah bak perendam kedelai dan jadwal pembayaran utang yang tidak menunggu kurs membaik.

Inilah antitesis paling konkret dari narasi "pintu yang sengaja kita buka." Ketika pintu itu terbuka, oleh desain atau oleh kepanikan, itu pertanyaan yang masih belum terjawab jujur, yang pertama kena angin adalah mereka yang paling kecil perlindungannya.

AKURASI ADALAH BENTUK CINTA

Post yang beredar itu menutup dengan kalimat yang dramatis: kita sedang membuat daftar, siapa yang bawa obor, siapa yang menyiram minyak.

Saya ingin mengusulkan pertanyaan yang berbeda.

Siapa yang diuntungkan ketika kita lebih sibuk merayakan "kemenangan" yang tidak terverifikasi daripada mengajukan pertanyaan yang tepat? Satu analisis menyebut secara langsung: gaya komunikasi publik yang bias justru akan meningkatkan risk premium Indonesia.6 Artinya biaya utang kita naik, kepercayaan investor turun lebih jauh, dan spiral yang susah diputus makin dalam. Narasi "kita dalangnya" bukan hanya tidak akurat, ia aktif memperburuk kondisi yang ingin ia jelaskan.

Saya menulis ini bukan untuk membenci siapapun yang menyebarkan narasi itu. Sebagian dari mereka mungkin benar-benar percaya. Sebagian lagi mungkin memang pekerjaannya menenangkan publik, dan mereka melakukannya dengan cara yang paling mudah: cerita yang tidak bisa salah.

Yang ingin saya ajak berpikir bersama adalah kita, yang membaca, yang meneruskan, yang memberi jempol karena narasi itu terasa melegakan.

Menganalisis masalah secara dalam bukan tanda tidak cinta negara. Justru sebaliknya. Dokter yang jujur tentang diagnosis bukan musuh pasiennya. Dokter yang mengatakan "tidak apa-apa, ini bagian dari proses penyembuhan" ketika lukanya belum diobati, itulah yang berbahaya.

Kedalaman analisis adalah bentuk cinta yang paling jujur.

Kedalaman analisis adalah bentuk cinta yang paling jujur. Bukan karena kita membenci yang sedang berkuasa. Tapi karena masalah yang salah didiagnosis tidak bisa diselesaikan, tidak peduli seberapa lantang kita berteriak Merdeka di akhir postingan.

Wallahu a'lam bishshawab.


[1] IDX Channel, Kepemilikan Asing di Obligasi Indonesia ke Level Terendah Hampir 20 Tahun, 5 Juni 2026. https://www.idxchannel.com/market-news/kepemilikan-asing-di-obligasi-indonesia-ke-level-terendah-hampir-20-tahun

[2] Bisnis.com, Kepemilikan Asing di SBN Turun 1,75% YTD, Porsi Bank Indonesia Naik 12,55%, 3 Juni 2026. https://market.bisnis.com/read/20260603/92/1978125/kepemilikan-asing-di-sbn-turun-175-ytd-porsi-bank-indonesia-naik-1255

[3] Investortrust.id, Investor Asing Terus Tinggalkan Indonesia, IHSG Terpangkas 33%, 1 Juni 2026. https://investortrust.id/market/105140/investor-asing-terus-tinggalkan-indonesia-ihsg-terpangkas-33

[4] CNBC Indonesia, Dunia Banjir Kedelai: Harga Ditentukan AS-Brasil, RI Jadi Penonton, 15 Januari 2026. https://www.cnbcindonesia.com/research/20260115122945-128-702620/dunia-banjir-kedelai-harga-ditentukan-as-brasil-ri-jadi-penonton

[5] Asatunews, NEXT Indonesia Center Soroti Disparitas Harga Impor Kedelai Nasional, 10 Mei 2026. https://www.asatunews.co.id/disparitas-harga-kedelai-impor-nasional

[6] Kompas.id, Rupiah Masih Berisiko Melemah, Masyarakat Bisa Terkena Imbasnya, Mei 2026. https://www.kompas.id/artikel/en-rupiah-masih-berisiko-melemah-masyarakat-bisa-terkena-imbasnya