I. KAIN
Mula-mula ia hanya sehelai kain.
Dijahit di kamar yang panas,
oleh perempuan yang sedang mengandung,
dengan tangan gemetar bukan oleh takut.
Merah diambil dari satu warna.
Putih dari yang lain.
Di antara keduanya tidak ada apa-apa,
kecuali janji yang belum pernah diuji.
Kami menyebutnya bendera.
Ia memang cuma kain, kami tahu itu.
Tapi pagi itu kain bisa membuat orang
berdiri lebih tegak daripada senapan.
II. KAMI
Sebelumnya kami bukan satu.
Ribuan pulau yang saling memunggungi,
ratusan raja yang mengukur dunia
sejauh bunyi kentongan masih terdengar.
Kami punya seribu cara menyebut beras,
dan tidak satu pun cara menyebut bersama.
Lalu ada yang menuliskan satu kata: kami.
Dan anehnya, kata itu muat.
Muat untuk Aceh, muat untuk Larantuka,
muat untuk anak yang lahir di atas kapal
antara dua pelabuhan yang tak pernah ia hafal namanya.
Penjajah kami usir dengan bambu dan doa,
dengan tubuh yang tidak dihitung,
dengan nama-nama yang sampai hari ini
hanya dikenal oleh ibunya.
III. PELUH
Aku mencintaimu sejak kau belum punya apa-apa.
Sejak jalan di kampung kami masih tanah,
dan lampu menyala hanya sampai pukul sembilan,
sesudah itu kami belajar mengeja
dengan mata perih di dekat teplok.
Kami menggali. Kami mengaduk semen.
Bapak berangkat sebelum subuh, pulang lewat isya,
membawa bau aspal di lengan bajunya
yang tidak hilang meski dicuci tiga kali.
Dan setiap kali ada jembatan selesai,
kami berdiri di ujungnya seperti orang bodoh,
tertawa, berfoto dengan kamera pinjaman,
seolah yang kami bangun adalah masa depan
dan bukan sekadar beton di atas sungai.
Kami percaya. Itu bagian yang paling penting.
Kami benar-benar percaya.
IV. RUANG MAKAN
Yang paling perih ternyata tidak datang dari laut.
Ia datang dari ruang makan.
Dari tangan yang tadi malam ikut berdoa bersama kami,
dari mulut yang hafal Pembukaan sampai alinea keempat,
dari orang yang kami pilih justru karena ia tampak lelah
seperti kami.
Kami menjaga pagar sepanjang malam.
Kunci rumah diduplikasi di dalam.
Ada angka yang berpindah sebelum sempat menjadi sekolah.
Ada beton yang retak sebelum diresmikan.
Ada kapal yang diberangkatkan tanpa muatan,
dan ongkosnya dibayar penuh oleh orang
yang seumur hidup belum pernah melihat laut.
Kau tidak pernah menangis di depan tamu.
Kau selesaikan jamuan, kau antar mereka sampai pintu.
Baru setelah lampu dimatikan
aku melihat matamu: sembab, tua, dan masih juga
mencoba mengerti kenapa.
V. DARI KEJAUHAN
Aku menulis ini dari kota yang lampunya tidak pernah padam.
Tiga negara sudah kutinggali. Aku tahu rasanya
sistem yang bekerja: kereta yang datang tepat waktu,
izin yang selesai tanpa perlu kenal siapa-siapa,
air yang tetap mengalir walau tidak ada yang mengawasi.
Aku membangun benda-benda semacam itu untuk orang lain.
Itu pekerjaanku. Aku dibayar untuk itu.
Tapi tidak ada satu pun dari kota-kota itu
yang membuat dadaku sesak
oleh sebuah lagu yang cuma tiga menit,
di ruangan kecil, jauh, tujuh belas Agustus,
di antara orang-orang yang paspornya sama denganku
dan yang tidak satu pun kukenal.
Anak-anakku tumbuh dengan aksen yang bukan aksenmu.
Mereka menyebut namamu seperti menyebut nama nenek
yang hanya mereka temui setahun sekali.
Dan aku, setiap kali, menahan diri
untuk tidak menjelaskan terlalu banyak.
Sebab bagaimana caranya aku menerangkan
bahwa aku mencintai sesuatu yang berkali-kali
membuatku malu.
VI. DOA
Maka izinkan aku berdoa, dengan cara orang yang tidak pandai berdoa.
Semoga datang satria piningit itu.
Bukan dari langit, bukan dari ramalan
yang kami hafal turun-temurun supaya punya alasan menunggu.
Datangkan ia dalam rupa yang paling tidak kami duga:
guru yang tetap masuk kelas ketika tunjangannya belum cair,
petugas yang menolak amplop tanpa merasa jadi pahlawan,
auditor yang tidak melompati satu baris pun,
anak muda yang pulang padahal ia punya semua alasan untuk tidak.
Kami sudah terlalu lama menunggu satu orang.
Yang kami perlukan adalah cukup banyak orang
yang kebetulan datang di waktu yang sama.
Semoga kami sempat melihatnya:
negeri sekaya ini akhirnya berhenti membuktikan bahwa ia kaya,
dan mulai membuktikan bahwa ia adil,
seperti yang dulu dijanjikan
oleh orang-orang yang tidak sempat menikmatinya.
Delapan puluh satu tahun.
Cukup tua untuk berhenti menyalahkan penjajah.
Cukup muda untuk masih bisa berubah.
VII. PENUTUP
Dan kini, di ujung doa yang belum selesai,
aku meletakkan kata-kata ini di telapak tanganmu,
negeri yang masih belajar berdiri tegak
meski lututnya sudah berlutut berkali-kali.
Engkau bukan lagi sehelai kain.
Engkau sudah menjadi napas yang kami hirup
bersama debu jalanan dan bau bensin,
bersama tawa anak-anak di halaman sekolah
yang atapnya bocor di musim hujan.
Aku tidak meminta engkau sempurna.
Aku hanya meminta engkau jujur
kepada darah yang pernah mengalir di sini,
kepada keringat yang mengeras menjadi beton,
kepada malu yang kami simpan di saku baju
supaya tidak terlihat oleh orang luar.
Delapan puluh satu tahun.
Cukup lama untuk belajar bahwa kemerdekaan
bukanlah hadiah yang sekali diberikan,
melainkan pekerjaan yang harus dikerjakan
setiap pagi, setiap malam,
oleh tangan-tangan yang gemetar
bukan karena takut,
melainkan karena cinta yang masih bandel
meski sudah berkali-kali dikhianati.
Maka berdiri saja, kain merah-putih.
Berdiri lebih tegak daripada senapan,
lebih tegak daripada angka-angka di laporan,
lebih tegak daripada janji yang mudah diucapkan.
Kami masih di sini.
Kami masih percaya.
Dan selama ada satu orang saja
yang masih mau berdiri di ujung jembatan
tertawa seperti orang bodoh
karena percaya bahwa yang dibangun
bukan sekadar beton,
maka engkau masih layak disebut
rumah.
···
Ditulis di London, 17 Agustus 2026.
Wallahu a'lam bishshawab.