Tulis
· 7 September 2026

Diukur di Meja Makan

Di Vladivostok, di depan Putin, Presiden mengatakan pembangunan harus diukur di meja makan keluarga biasa. Pagi yang sama di Lasem, 777 murid dan guru diare setelah makan siang gratis. Ini kali kelima pidato dan puskesmas jatuh di rentang hari yang sama.

Sketsa pena dan tinta di atas kertas krem: sebuah ompreng stainless tertutup diletakkan di podium kayu bersama satu mikrofon, menghadap deretan kursi kosong di aula yang tidak berpenghuni.

Rabu, 2 September 2026, pukul 11.45 WIB. Di SMA Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, ompreng dibagikan ke kelas-kelas. Nasi, ayam bakar, tempe, lalapan, sambal teri goreng, semangka potong. Dimasak di SPPG Soditan sejak pukul tiga dini hari. Disantap pukul 12.00, saat jam istirahat. Beberapa anak bilang semangkanya asam. Sisanya makan seperti biasa.

Kamis pagi, anak-anak masuk kelas. Satu orang mengangkat tangan: "Pak, saya diare." Guru mendata. Dalam beberapa menit, laporan dari tiap kelas masuk: 777 orang. Toilet sekolah penuh. Kepala sekolah, Juhartutik, membuka kamar mandi pribadinya untuk murid-murid yang antre. Pukul sepuluh, 1.174 siswa dipulangkan. Enam puluh satu persen warga sekolah tumbang dalam satu pagi.

Di hari yang sama, tiga zona waktu ke timur laut, Presiden Prabowo Subianto berdiri di podium Far Eastern Federal University, Vladivostok, sebagai tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum ke-11. Di depan Vladimir Putin. Ia bicara tentang pembangunan yang harus diukur di meja makan keluarga biasa. Apakah anak-anak menerima makanan bergizi.

Esai ini tidak ditulis karena dua kejadian itu jatuh di hari yang sama. Kebetulan bukan argumen. Esai ini ditulis karena ini kali kelima.

I. PIDATO YANG DIBAWA KELILING

Makan Bergizi Gratis pertama kali dibawa ke panggung dunia sebelum ia ada. Rio de Janeiro, 18 November 2024, KTT G20. Dalam pidato perdananya di forum sebesar itu, Prabowo menyebut program makan bergizi sebagai bagian dari jawaban Indonesia atas tema presidensi Brasil: kelaparan dan kemiskinan.1 Program itu baru mulai 6 Januari 2025. Sepuluh hari kemudian, empat puluh murid SD Negeri Dukuh 03 di Sukoharjo keracunan setelah menyantap ayam marinasi dari dapur MBG.2 Kasus pertama, sepuluh hari setelah porsi pertama.

3 September 2025. Prabowo tiba di Beijing untuk parade peringatan akhir Perang Dunia II. Hari yang sama, Al Jazeera menurunkan berita dari Bengkulu: sekitar 400 anak usia empat sampai dua belas tahun dilarikan ke rumah sakit setelah makan siang gratis, kasus terbesar sejak program dimulai.3

23 September 2025. Prabowo berpidato di Sidang Umum PBB, New York. Minggu itu, lebih dari seribu anak di empat daerah Jawa Barat keracunan. Reuters mencatatnya sebagai kemunduran lagi bagi program andalan presiden.4 NBC menghitung total korban sejak Januari: 4.711 orang. Organisasi masyarakat sipil meminta program dihentikan sementara.5 Sepulang dari New York, Prabowo mengumpulkan seluruh mitra dapur. Yang ia tekankan, menurut Kepala BGN saat itu: telur harus disajikan satu butir utuh per anak. Diceplok atau direbus. Tidak boleh didadar, karena kalau didadar lima telur bisa dibagi untuk sepuluh orang.6

22 Januari 2026. Davos, World Economic Forum. Prabowo menyebut MBG akan melampaui McDonald's dalam jumlah makanan yang disediakan setiap hari.7 Sepuluh hari sebelumnya, 803 orang dari beberapa sekolah dan pesantren di Gubug, Grobogan, jatuh sakit dari satu dapur; 115 dirawat inap.8 Seminggu setelah Davos, 521 siswa dan 24 guru SMAN 2 Kudus.9

3 September 2026. Vladivostok.

Lima podium. Lima puskesmas. Saya tidak menambahkan komentar di antara keduanya, karena polanya tidak membutuhkan komentar. Yang ia butuhkan hanya diletakkan berdampingan.

VISUALISASI 1: PODIUM DAN PUSKESMAS, NOVEMBER 2024 SAMPAI SEPTEMBER 2026

Jalur atas: pidato Presiden di forum internasional yang menyebut MBG. Jalur bawah: kasus keracunan massal MBG dalam rentang hari yang sama. Ketuk titik mana pun.

Ketuk sebuah titik.

Sumber: Bisnis.com, Al Jazeera, Reuters, NBC News, Kompas, Tempo, NU Jateng, CNN Indonesia. Semua kasus adalah dugaan keracunan berdasarkan laporan resmi daerah atau pemberitaan pada tanggal tersebut.

II. UKURAN YANG DITETAPKAN SENDIRI

Mari baca pidato Vladivostok dengan cermat, karena ia lebih menarik dari pemberitaan tentangnya.

Tema forum tahun ini: The Far East: Development for the Benefit of People. Prabowo mengambil tema itu dan mengklaimnya sebagai mandat: "Itulah arti 'pembangunan untuk kepentingan rakyat' bagi Indonesia: kebaikan terbesar bagi sebanyak-banyaknya orang. Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur di meja makan keluarga biasa."10

Lalu ia memberi daftar ukurannya. "Apakah anak-anak menerima makanan bergizi, apakah petani bisa mendapatkan pupuk dan menjual hasil buminya dengan harga yang pantas, apakah keluarga bisa tinggal di rumah yang layak, apakah generasi muda dapat memperoleh pekerjaan yang produktif, dan apakah listrik dapat menjangkau setiap rumah di setiap desa."10

Dan dari daftar itu ia turun ke program: "Inilah sebabnya Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi semua anak kami dan bagi ibu-ibu mereka yang sedang hamil."10

Perhatikan urutannya. Prinsip, lalu alat ukur, lalu program. Ini urutan yang benar. Ini persis cara seorang arsitek sistem menulis spesifikasi: tetapkan tujuannya, tetapkan metriknya, baru bangun. Saya tidak punya keberatan pada satu kalimat pun di sana.

Keberatan saya pada apa yang terjadi kalau ukuran itu benar-benar dipakai.

Ukuran pertama: apakah anak-anak menerima makanan bergizi. Di Lasem, hari itu, jawabannya adalah 777 orang diare. Di Sidoarjo, dua hari sebelumnya, 566 santri. Dalam rentang 1 sampai 3 September, CELIOS menghitung sedikitnya 1.995 orang di Sidoarjo, Nganjuk, Jombang, Rembang, Agam, Bener Meriah, dan Tana Toraja.11 Reuters, yang mengirim wartawan ke Lasem, menulis angka lebih dari 1.700 dalam tiga hari.12

Ini bukan ukuran saya. Ini ukuran yang ditetapkan Presiden sendiri, di depan Putin, di hari yang sama.

Kalau ukuran itu dipakai, Lasem adalah hasilnya. Kalau tidak dipakai, kalimatnya hanya kalimat. Tidak ada pilihan ketiga.

Saya pernah menulis tentang arsitektur keputusan yang hanya punya satu pintu masuk: sistem yang secara struktural tidak menerima kabar buruk karena tidak ada mekanisme yang dirancang untuk menyampaikannya. Pidato Vladivostok adalah artefak dari arsitektur itu. Ia ditulis oleh orang-orang yang tahu Lasem sedang terjadi, karena Reuters tahu, Kompas tahu, dan JPPI merilis data nasionalnya di hari yang sama. Tapi teks pidatonya tidak tahu. Podium dan puskesmas hidup di dua sistem yang tidak berbagi data.

III. SATU MILIAR PORSI

Ada satu pembelaan yang layak dibaca dengan serius, karena ia diucapkan oleh negara sendiri dan karena ia tidak bodoh.

September 2025, setelah Jawa Barat, Kepala BGN saat itu, Dadan Hindayana, mengatakan kepada wartawan: total keracunan hanya 4.711 porsi dari satu miliar porsi yang dimasak selama sembilan bulan program.5 Hitung: 0,00047 persen. Angka yang, kalau ditempel di dinding kantor mana pun, terlihat seperti prestasi.

Ini argumen base rate. Setiap populasi besar punya angka dasar sakit perut. Di antara puluhan juta anak yang makan setiap hari, sebagian akan sakit apa pun yang mereka makan. Anak sekolah keracunan bukan hal baru; ia ada sebelum MBG dan akan ada setelahnya. Diukur terhadap satu miliar porsi, 4.711 memang kecil.

Dan di sinilah argumen itu berhenti bekerja.

Angka dasar berlaku untuk kejadian yang saling bebas. Seorang anak sakit di Bengkulu tidak ada hubungannya dengan seorang anak sakit di Kudus kalau keduanya makan dari dapur yang berbeda, dengan pemasok berbeda, prosedur berbeda, pengawas berbeda. Kejadian seperti itu tersebar acak, dan angka dasar menjelaskannya. Tapi Bengkulu, Jawa Barat, Gunungkidul,19 Grobogan, Kudus, Sidoarjo, dan Lasem tidak saling bebas. Semuanya keluar dari satu desain: satu badan, satu model SPPG, satu standar jam matang ke jam santap, satu rantai pengawasan, satu mekanisme sanksi. Ketika satu sumber pasokan menghasilkan 40.759 orang sakit di 36 provinsi dalam dua puluh bulan, sebagaimana dicatat JPPI per Agustus 2026,13 yang kita lihat bukan derau. Itu sinyal. Kegagalan yang berkorelasi menunjuk ke satu titik desain, dan pembagi "satu miliar porsi" justru menyembunyikan titik itu.

Dalam bahasa yang saya pakai sehari-hari selama dua dekade membangun sistem untuk pemerintah: kalau error rate tersebar acak, kita mencari operator yang lalai. Kalau error rate berkerumun pada satu komponen, kita mencari cacat di komponen itu, dan mengganti operator satu per satu tidak akan mengubah apa-apa.

Ribuan orang sakit perut itu biasa. Ribuan orang sakit perut dari satu program yang sama, tidak. Seluruh esai ini berdiri di celah antara dua kalimat itu.

VISUALISASI 2: KUMULATIF KORBAN KERACUNAN MBG, JANUARI 2025 SAMPAI AGUSTUS 2026

Lima titik data yang terpublikasi. Dua angka pertama dari BGN, tiga berikutnya dari JPPI. Keduanya tidak memakai definisi yang sama, sehingga kurva ini menunjukkan arah, bukan presisi.

Sumber: BGN via NBC News (Juni dan September 2025); JPPI via Tempo dan Kompas.id (Oktober 2025, April 2026, Agustus 2026). Per Januari sampai Agustus 2026 saja, JPPI mencatat 15.735 korban, 3.079 di antaranya pada Agustus.

Sekali lagi, saya tidak menuduh niatnya. Saya membaca datanya. Data itu tidak bilang programnya jahat. Data itu bilang programnya punya cacat yang berulang di tempat yang sama, dan bahwa cara negara membaca datanya sendiri, dengan pembagi satu miliar, dirancang untuk tidak melihat cacat itu.

IV. KELALAIAN YANG DISENGAJA

Kepala BGN yang sekarang, Sudaryono, dilantik 22 Juli 2026 menggantikan Nanik S. Deyang, yang menggantikan Dadan Hindayana, yang keluar dari Gedung Bundar Kejaksaan Agung dengan rompi pink pada Juni. Tiga kepala dalam dua puluh bulan. Dari 22 Juli sampai 1 September, Tribunnews menghitung dua belas kasus keracunan dengan 2.886 korban di bawah kepemimpinan yang baru.14 Rekapitulasi yang dibawa ke rapat Komisi IX, untuk rentang 23 Juli sampai 2 September, mencatat sedikitnya tujuh kejadian dengan korban ratusan orang.14 Yang sampai ke ruang rapat adalah angka yang lebih kecil. Orangnya diganti. Angkanya tidak.

Untuk Sidoarjo, Sudaryono memberi diagnosis yang menarik. Makanan matang pukul lima pagi, seharusnya disantap sebelum pukul sembilan. Tapi dikirim setelah pukul sebelas, dimakan setelah pukul dua belas. Label pada ompreng ditulis matang pukul delapan, batas santap pukul sepuluh. Dan labelnya hanya ada di satu ompreng, yang difoto, dimasukkan ke aplikasi, lalu ditangkap sistem pemantauan. Ia menyebutnya "kelalaian yang disengaja."15

Frasa itu perlu dibaca dua kali. Yang disengaja bukan kelalaian. Kalau label dipalsukan untuk lolos dari pemantauan, itu bukan orang lupa; itu orang yang memahami sistem cukup baik untuk mengakalinya. Dan sistem yang bisa diakali dengan satu foto satu ompreng bukan sistem pengawasan. Ia sistem pelaporan. Bedanya: pengawasan melihat apa yang terjadi; pelaporan melihat apa yang dikirim.

Lasem punya versi yang lebih sederhana. Ayam dimasak sejak pukul tiga dini hari. Dibagikan 11.45. Dari matang ke santap, delapan sampai sembilan jam, dua kali batas yang BGN tetapkan sendiri. Pihak dapur menjelaskan sambalnya digoreng tiga jam.16 Tidak ada yang bertanya kenapa ayam untuk makan siang harus matang sebelum subuh. Karena jawabannya sudah diketahui semua orang di rantai itu: dapur satu, sekolah banyak, truk terbatas, jarak jauh. Itu bukan kelalaian koki. Itu geometri.

Dan responsnya, dari kasus ke kasus, adalah skrip yang sama. Permintaan maaf. Suspensi dapur dua puluh hari. Biaya pengobatan ditanggung. "Evaluasi total SOP." Grobogan Januari, Kudus Januari, Sidoarjo September, Lasem September: kalimat-kalimatnya bisa ditukar antar kasus tanpa ada yang menyadari. JPPI mencatat, sampai September 2026, belum ada satu pun SPPG yang menghadapi proses hukum yang tuntas; penanganan berhenti pada penutupan sementara, teguran, atau pergantian pengelola.13 Di DPR, seorang anggota Komisi IX meminta agar kemungkinan persaingan bisnis ikut diselidiki sebagai penyebab keracunan.11

Perhatikan kategori jawaban yang tersedia. SPPG lalai. Persaingan bisnis. Oknum. Tidak ada kategori "desain kami yang salah." Sebuah lembaga yang tidak punya cara untuk menyalahkan dirinya sendiri tidak akan pernah memperbaiki dirinya sendiri, dan itu bukan soal karakter siapa pun. Itu soal formulir yang tersedia di meja kerja mereka.

Saya pernah menulis bahwa semua titik untuk membuat MBG bekerja sudah ada: DTSEN, Puskesmas, Posyandu, PKH. Yang tidak ada adalah keputusan untuk menyambungkannya. Dan saya pernah menulis tentang sistem yang berhenti berfungsi tanpa alarm berbunyi. MBG bukan silent failure. Alarmnya berbunyi 40.759 kali. Ini kegagalan yang berisik, dan itulah yang membuatnya lebih sulit dipahami: bagaimana sistem yang mendengar alarm sebanyak itu tetap tidak berubah?

Malam 3 September, di Senayan, Sudaryono duduk di depan Komisi IX dan mengajukan pagu 2027: Rp240,20 triliun. Ia menjamin tidak ada belanja modal dan tidak ada pengadaan yang aneh-aneh. Anggaran itu, katanya, tidak bisa dipakai seenaknya "seolah-olah itu uang nenek saya". "Ini adalah uang rakyat yang setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan dan manfaatnya harus sebesar-besarnya."17 Kalimat yang baik. Di hari yang sama dengan Lasem. Di hari yang sama dengan Vladivostok.

V. DATELINE: LASEM

Infografik yang beredar di media sosial minggu ini bilang media Rusia menampar Presiden sehari setelah pidatonya. Itu tidak akurat, dan saya tidak mau esai ini berdiri di atas sesuatu yang tidak akurat. MK.ru terbit di hari yang sama, 3 September, dengan judul "hampir 800 orang keracunan makan siang gratis di sekolah." Ia tabloid Moskow yang mengambil kawat internasional. Tidak ada bukti ia sedang menjawab pidato siapa pun.18

Koreksi itu tidak meringankan apa pun. Ia justru memberatkan. Sidang pleno di Pulau Russky dibuka pukul 12.20 waktu Vladivostok.10 Kurang dari sepuluh jam kemudian, pukul 15.00 waktu Moskow, MK.ru menurunkan beritanya. Hari itu belum berakhir.

Yang dibaca pembaca Rusia hari itu bukan pidato tamu kehormatan mereka. Yang mereka baca adalah tiga kalimat yang lebih kering daripada apa pun yang ditulis pers Jakarta: ratusan murid dan guru di Jawa dan Sumatera keracunan; semua kasusnya terkait program makan gratis negara yang disebut sebagai salah satu proyek utama Presiden Prabowo Subianto; dan parlemen negara itu menuntut pengawasan atas pemasakan serta pengiriman makan siang sekolah diperketat.18

Tuan rumah tidak menampar siapa pun. Ia hanya memberitakan. Itu lebih dingin.

Yang lebih layak dicatat adalah dateline-nya. Reuters mengirim wartawan ke Lasem. Bukan ke Vladivostok. Berita Reuters tanggal 3 September dibuka dengan kata LASEM, Indonesia, dan berisi 777 murid dan guru, lebih dari 1.700 dalam tiga hari, survei SMRC Juli yang menemukan hanya sepertiga publik puas dengan program ini, dan satu kalimat sebab yang berulang dari tahun lalu: penyimpanan yang tidak tepat dan pengiriman yang terlambat.12 Pidato di Vladivostok tidak disebut satu kali pun.

Dunia sudah memilih meja makan mana yang ia ukur.

Saya membayangkan Juhartutik pagi itu. Ia bukan pejabat. Ia kepala SMA di kota kecil pesisir yang, di antara mendata 777 orang dan menelepon puskesmas, memutuskan bahwa toilet sekolah tidak cukup dan pintu kamar mandinya sendiri harus dibuka. Tidak ada SOP untuk itu. Tidak ada label. Tidak ada aplikasi yang memotretnya. Ia hanya ada di sana, dan anak-anak itu perlu ke kamar mandi.

Pembangunan diukur di meja makan keluarga biasa. Saya setuju. Saya hanya ingin tahu siapa yang memegang penggarisnya.

Sebuah pidato dikemas rapi ke dalam koper,
dibawa ke Rio, Beijing, New York, Davos, Vladivostok,
dan tiap kali dibuka, isinya masih utuh.
Ompreng yang dibawa truk dari Soditan
tidak seberuntung itu.
Sembilan jam di jalan,
dan yang sampai adalah semangka yang asam.
Yang satu bepergian dengan pesawat kepresidenan.
Yang satu lagi hanya sampai di kamar mandi kepala sekolah.
Keduanya berangkat dari niat yang sama.

Kita yang mengizinkan pembagi satu miliar.
Kita yang menerima permintaan maaf sebagai perbaikan.
Kita yang menyebut geometri sebagai kelalaian, dan kelalaian sebagai oknum.
Anak-anak itu tidak memilih dapurnya. Kita yang memilih.
Ukur. Sekarang. Di meja yang benar.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] Bisnis.com, Laporan dari KTT G20 Brasil: Prabowo Singgung Makan Bergizi Gratis di Pidato Perdananya, 19 November 2024

[2] Kompas, Puluhan Siswa SD Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis, BGN: Ini Jadi Bahan Evaluasi, 17 Januari 2025

[3] Al Jazeera, Some 400 Indonesian school children fall ill after eating free school meals, 3 September 2025

[4] Reuters via Malay Mail, Over 1,000 Indonesian students in West Java fall ill in latest school meal food poisoning outbreaks, 25 September 2025

[5] NBC News, Indonesia faces calls to halt free meal program as over 5,000 schoolchildren fall ill, September 2025

[6] CNN Indonesia, Prabowo Bakal Kumpulkan Seluruh Mitra MBG Sepulang Pidato di PBB, 22 September 2025

[7] Pidato Prabowo di World Economic Forum, Davos, 22 Januari 2026 (rekaman video)

[8] Tempo, JPPI: Ada 1.242 Korban Keracunan MBG Per Januari 2026, 13 Januari 2026

[9] Kompas, Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Diduga Keracunan Soto MBG: Antre Kamar Mandi Hingga Pingsan, 29 Januari 2026; NU Jateng, Kepsek Beberkan Kronologi Keracunan MBG di SMAN 2 Kudus, 521 Siswa Terdampak, 31 Januari 2026

[10] Liputan6, Prabowo Bicara di Forum Ekonomi Rusia, Tekankan Pentingnya MBG, 3 September 2026; Kremlin.ru, Plenary meeting of the 11th Eastern Economic Forum, transkrip resmi sidang pleno, Pulau Russky, Vladivostok, 3 September 2026

[11] Joglosemar News, Kasus Keracunan MBG Malah Semakin Marak, CELIOS: Penerima Manfaat Bisa Gugat Negara dan BGN, 4 September 2026

[12] Reuters via US News, More Than 1,700 Fall Sick From Indonesia Free School Meals in Three Days, 3 September 2026

[13] Databoks, Jumlah Korban Keracunan MBG sampai Agustus 2026 menurut JPPI, 3 September 2026; Kompas.id, JPPI Catat 40.759 Korban Keracunan MBG di 36 Provinsi, 13 Agustus 2026

[14] Tribunnews, Sejak Sudaryono Jabat Kepala BGN, Ada 12 Kasus Dugaan Keracunan MBG, Korban Tembus 2.800 Orang, 2 September 2026; Bloomberg Technoz, 7 Kasus Keracunan MBG Terjadi di Era Sudaryono: Korban Ratusan, dari rekapitulasi yang disampaikan dalam rapat Komisi IX DPR untuk periode 23 Juli sampai 2 September 2026, 4 September 2026

[15] Detik, Kepala BGN soal Keracunan MBG di Sidoarjo: Kelalaian yang Disengaja, 3 September 2026

[16] Kompas, Diduga Keracunan MBG, 752 Siswa SMAN 1 Lasem Rembang Diare Hingga Toilet Sekolah Overload, 3 September 2026; Disway Jateng, 3 September 2026; Beritasatu, SPPG Disuspensi, 5 September 2026

[17] Tribunnews, Kepala BGN Pastikan Tak Ada Lagi Pengadaan Aneh-aneh: Ini Uang Rakyat, Bukan Uang Nenek Saya, 3 September 2026; Viva, Sudaryono Pastikan Anggaran MBG Rp240 Triliun Tak Mengada-ada: Ini Uang Rakyat, 4 September 2026 (memuat kutipan utuh)

[18] Arikamedia, Prabowo Banggakan MBG di depan Putin, Media Rusia Malah Soroti Kasus Keracunan, 4 September 2026; MK.ru, Pochti 800 chelovek otravilis besplatnymi shkolnymi obedami (Hampir 800 orang keracunan makan siang sekolah gratis), Aleksandr Smirnov, 3 September 2026, pukul 15.00 waktu Moskow

[19] Reuters via Yahoo News, Indonesia investigates more free meal poisoning cases, after 700 students fall ill, official says, Oktober 2025

Esai terkait di Tulis: MBG: DPR Kemana?, Semua Titiknya Sudah Ada, Presiden Yang Tidak Mau Mendengar, Negara dalam Ancaman Silent Failure, Negara Tanpa Alarm.