Tulis
Harga Rakyat yang Terorganisir · 1 September 2026

Esai III: Satu Hari

Kamis, 27 Agustus 2026, jam demi jam.

III.0 Sebelum hari itu

Dua hari sebelum keberangkatan, beberapa pemilik bus di Pati, Jepara, dan Grobogan membatalkan sewa yang sudah disepakati. Tidak ada surat. Yang ada telepon, alasan yang berubah-ubah, dan bus yang tiba-tiba harus masuk bengkel. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, yang mengorganisir keberangkatan, menuduh ada tekanan aparat di balik pembatalan itu; tuduhan ini belum pernah dibuktikan dan sampai monograf ini ditulis tetap berstatus tuduhan.1 Yang terverifikasi hanya pembatalannya, waktunya, dan sebarannya di tiga kabupaten sekaligus.

Menjelang keberangkatan, rekening yang dipakai aliansi menghimpun dana aksi, atas nama koordinatornya, Supriyono yang dikenal sebagai Botok, diblokir oleh sebuah bank milik negara. Saldonya sekitar Rp 80,9 juta. Pemblokiran itu diperkarakan sampai Komisi III DPR dan direspons Kepala Badan Komunikasi Pemerintah dengan kalimat bahwa jika tidak sesuai regulasi akan dikoreksi. Siapa yang meminta pemblokiran tidak pernah dijelaskan.2

Rombongan tetap berangkat dengan armada pengganti. Senin, 24 Agustus, sekitar Kilometer 54 sampai 56 Tol Jakarta-Cikampek, wilayah Karawang, dua orang berdiri di atas jembatan penyeberangan. Keduanya berjaket bertudung dan menutup wajah. Ketika bus rombongan lewat di bawah, keduanya melempar batu bata. Kaca depan pecah. Tim advokasi mencatat tiga penumpang terluka ringan oleh pecahan kaca; laporan lain menyebut tidak ada yang terluka. Bus menepi di Rest Area Kilometer 52, kacanya ditambal lakban, lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta.3

Dua pelempar itu tidak pernah diidentifikasi. Dalam berkas polisi, kalau ada berkasnya, mereka tercatat sebagai orang tak dikenal.

Rombongan sudah berada di Jakarta ketika, Rabu 26 Agustus sekitar pukul 01.00, rumah anak salah seorang sopir yang mengangkut mereka ditembak, di Pati. Malam harinya warga sekitar berjaga di depan rumah Botok dan rekannya, Teguh Istiyanto, sampai pagi. Penembaknya tidak dikenal.4

Perlu dicatat sejak awal, karena istilah ini akan sering muncul di esai ini: orang tak dikenal adalah sebutan administratif, bukan deskripsi. Ia berarti tidak ada yang mencari, atau ada yang mencari dan tidak menemukan, atau ada yang menemukan dan tidak menyebut. Ketiganya berbeda, dan dokumen resmi hampir tidak pernah memberi tahu kita yang mana.

III.1 Pagi sampai pukul 12.30

Rombongan dari Pati tiba di depan Gedung DPR dengan satu tuntutan yang sangat spesifik untuk ukuran demonstrasi di republik ini: pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset, dengan tenggat akhir Agustus. Tuntutan yang bisa diukur, dengan tanggal, tanpa tafsir.

Sekitar pukul 10.00, Botok dan tiga belas perwakilan aliansi diizinkan masuk ke ruang rapat paripurna dan duduk di balkon yang menghadap mimbar sidang; salah satu agenda paripurna pagi itu adalah laporan Komisi III tentang perkembangan RUU yang sama. Usai paripurna, mereka diarahkan ke Ruang Abdul Moeis di Gedung Nusantara.5 Di sana pimpinan DPR menerima mereka. Hasilnya sebuah surat pernyataan tertulis: DPR berkomitmen menyelesaikan RUU itu paling lambat 15 Desember 2026. Tenggatnya bergeser hampir empat bulan dari tuntutan. Tapi ia tertulis, bertanggal, dan ditandatangani empat wakil ketua DPR dari empat partai berbeda: Sufmi Dasco Ahmad dari Gerindra, Sari Yuliati dari Golkar, Saan Mustopa dari NasDem, dan Cucun Ahmad Syamsurijal dari PKB. Nama Ketua DPR tidak ada di antara penandatangan.

Atas desakan massa, surat itu diperluas dengan satu klausul yang tidak lazim: jika tenggat dilanggar, para penandatangan siap mundur, bukan hanya dari kursi pimpinan, tapi dari keanggotaan DPR. Klausul itu dibacakan di hadapan massa oleh Botok. Massa menerima.6 Sekitar pukul 12.30, rombongan Pati bergerak pulang.

Satu hal prosedural yang layak dicatat tanpa tafsir: pada hari itu, yang bergerak cepat, menemui massa, menegosiasikan tenggat, dan menandatangani, adalah pimpinan partai-partai di parlemen. Institusi negara yang sebenarnya dituntut, yaitu pembentuk undang-undang sebagai lembaga, hadir dalam bentuk surat yang ditandatangani atas namanya oleh orang-orang yang jabatan partainya lebih menentukan daripada jabatan lembaganya. Ini bukan tuduhan. Ini urutan kejadian.

Massa yang datang dari Pati sudah tidak ada di Jakarta ketika Jakarta terbakar.

III.2 Pukul 15.27 sampai 16.30

Pukul 15.27, Presiden Prabowo Subianto tiba di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Selawat Thola'al Badru. Sungkem kepada kiai sepuh. Sambutan pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama,7 dengan kalimat yang sudah dibahas di tempat lain dalam berkas ini: saya tidak mengatur ini semua.

Pukul 16.30, di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, seorang perempuan bernama Sudarsi, 56 tahun, meminta suaminya menutup lapak. Suaminya berjualan cermin di jalan itu. Kabar dari arah DPR sudah sampai ke Pejompongan, dan Pejompongan tahu dari pengalaman apa artinya kabar semacam itu. Suaminya, Bambang Setiyawan, 59 tahun, warga Bendungan Hilir, menutup lapaknya.

III.3 Pukul 18.00 sampai 21.00

Pembubaran paksa di kawasan Slipi dimulai sekitar pukul 18.00. Massa yang tersisa di depan DPR, yang berbeda komposisinya dari rombongan Pati yang sudah pulang, bergerak ke arah flyover. Pos polisi Satlantas di kolong Flyover Slipi dirusak, lalu dibakar. Sebagian besar yang terekam kamera di sekitar pos itu berusia remaja.

Pos polisi itu punya riwayat. Pada Mei 2019, di malam-malam setelah pengumuman hasil pemilu, pos yang sama dibakar. Di flyover yang sama, seorang anak bernama Harun Rasyid, 15 tahun, tewas. Tim pencari fakta Komnas HAM kemudian mencatat sepuluh orang tewas dalam kerusuhan itu, sembilan oleh peluru tajam, empat di antaranya anak-anak; tim menduga anak-anak sengaja dijadikan sasaran untuk memancing emosi massa, menyimpulkan pelaku terlatih dan lebih dari satu orang, serta menemukan tanda-tanda massa terorganisir yang kelompoknya tidak berhasil diidentifikasi. Pelaku penembakan tidak pernah diungkap. Pada Agustus 2025, pos yang sama dirusak. Pada malam 27 Agustus 2026, ia dibakar lagi.

Tiga kali dalam tujuh tahun, di titik koordinat yang sama, dengan aktor yang setiap kalinya dicatat sebagai orang tak dikenal.

Gas air mata yang ditembakkan di Slipi terbawa angin ke permukiman Pejompongan. Warga menutup jendela; sebagian mengungsikan anak-anak ke rumah tetangga yang lebih jauh dari jalan raya. Ruas tol dalam kota di sekitar Slipi ditutup. Perjalanan KRL yang melintas di dekat situ terganggu. Massa bertahan di jalan sampai dini hari.8

Di tengah semua itu, lima truk masuk ke ruas tol yang sudah ditutup. Di bak masing-masing truk berdiri puluhan orang berikat kepala putih, sebagian memegang bambu atau kayu panjang. Truk-truk berhenti di tengah jalan tol dekat Slipi, dan orang-orangnya turun.

Akses keluar Slipi di ruas tol dalam kota sudah ditutup sejak pukul 07.43 pagi hari itu. Menurut keterangan Jasa Marga, penutupan itu dilakukan atas diskresi kepolisian.9 Malam harinya, setelah massa masuk ke jalan tol, pengelola menutup segmen Cawang sampai Slipi.

Siapa yang membuka akses bagi lima truk itu, dan pada pukul berapa persisnya truk-truk itu masuk, sampai naskah ini terbit belum pernah dijelaskan. Jumlahnya pun sempat berbeda-beda di pemberitaan, antara lima dan tujuh, sebelum polisi mengonfirmasi lima. Pertanyaan ini dimuat sebagai pertanyaan.

Menurut keterangan yang dihimpun media dan dikonfirmasi Polres Metro Jakarta Barat, orang-orang dari truk itu memukuli warga yang ada di sekitar lokasi. Tujuannya, menurut keterangan yang sama, agar massa membubarkan diri. Sebagian yang dipukuli adalah pengemudi ojek daring yang sedang menunggu penumpang atau sekadar berteduh; mereka bukan bagian dari massa. Kesaksian seorang pengemudi yang viral malam itu menyebut orang-orang dari truk meneriakkan nama organisasi mereka sendiri.10 Massa dan warga yang marah kemudian berbalik menyerang truk-truk itu. Kaca lima truk pecah. Ada yang mencoba membakar, tapi tidak sampai terbakar.11

Organisasi yang namanya diteriakkan itu adalah Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya. Sore harinya, ketua umumnya, Hercules Rosario Marshal, mengumumkan bahwa organisasinya siaga dua puluh empat jam untuk membantu TNI dan Polri menjaga Jakarta.

Dua hari kemudian, Divisi Hukum GRIB Jaya menyatakan organisasinya tidak terlibat dalam kerusuhan dan anggotanya diperintahkan tidak ikut demonstrasi. Sehari setelah itu, ketika rekaman yang memperlihatkan sosok mirip ketua umumnya di lokasi beredar luas, pernyataannya berubah: Hercules memang berada di titik kericuhan bersama sejumlah anggota, tapi kehadirannya untuk memantau situasi dan menjaga kondusivitas.12

Ada satu klaim lain yang beredar malam itu dan hari-hari sesudahnya, bahwa truk-truk itu masuk beriringan dengan, atau dikawal oleh, pasukan Brimob. Klaim ini dibantah Polda Metro Jaya pada 31 Agustus 2026, yang menyatakan kendaraan Brimob dalam rekaman itu sedang berpatroli,13 dan rekaman yang dijadikan dasarnya tidak cukup untuk membedakan antara kendaraan yang kebetulan berada di ruas jalan yang sama dan kendaraan yang mengawal. Klaim ini dicatat di sini sebagai klaim yang beredar, bukan sebagai kejadian.

Esai ini tidak perlu klaim itu. Yang sudah terkonfirmasi cukup: satu organisasi yang riwayat pembinaannya tertulis di Esai II hadir malam itu secara terorganisir, dengan kendaraan, dengan atribut, dengan alat, di ruas jalan yang tertutup untuk orang lain; anggotanya memukuli orang yang salah; dan pemimpinnya ada di sana.

III.4 Pukul 21.00 sampai dini hari

Bambang Setiyawan pulang ke rumah sekitar pukul 21.00. Sebelum itu, di tengah keributan, ia sempat mengantar seseorang yang sakit ke RS Pelni. Ia di rumah sebentar.

Sekitar pukul 22.00 ia keluar lagi. Lampu di lapak cermin masih menyala, dan ia hendak mematikannya. Istrinya mengingat ia berpakaian serba hitam.

Di gang lain di kelurahan yang sama, seorang pelajar kelas dua belas Madrasah Aliyah bernama Faturohman, 18 tahun, diseret keluar dari gang depan rumahnya oleh sekelompok orang. Ia dipukuli. Salah seorang di antara mereka, menurut keterangan Faturohman dan keluarganya, mengaku sebagai intel polisi yang bertugas di DPR. Ia dipaksa mengaku sebagai provokator. Ia dibawa ke kompleks DPR, lalu ke Polda Metro Jaya. Polisi membantah ada anggotanya yang melakukan itu.

Tetangga mendengar teriakan dari arah jalan bahwa ada yang mati, dan melihat darah di aspal. Tidak ada anggota keluarga yang melihat apa yang terjadi. Ketua RT setempat, berdasarkan warga yang merekam kejadian, kemudian memakai satu kata untuk menggambarkannya: digeret-geret.

Bambang Setiyawan ditemukan tidak sadarkan diri di jalan. Menurut polisi, evakuasi baru dilakukan setelah lokasi dinilai aman bagi petugas; berapa lama jedanya tidak disebutkan. Ia dibawa petugas Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya ke RSAL Mintohardjo, dan meninggal di sana.14 Antara pukul 23.30 dan tengah malam jenazahnya dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati.

Keluarganya mencari ke rumah-rumah sakit sepanjang malam. Sekitar pukul 04.00, seorang kerabat mengirim sebuah video yang beredar di media sosial dengan satu pertanyaan: coba lihat, ini bapak bukan. Anaknya menghentikan video itu, melihat wajahnya, dan mengenali ayahnya. Keluarga tahu dari video. Bukan dari siapa pun.

Keluarga menolak autopsi. Yang dilakukan hanya pemeriksaan luar. Ada versi yang beredar di antara warga bahwa ia dipukuli polisi; ada versi lain yang menyebut orang-orang bertruk. Kedua versi bertentangan, tidak satu pun terverifikasi, dan sampai draft ini ditulis, tidak ada penyebab kematian yang ditetapkan.

Setahun sebelumnya, pada malam 28 Agustus 2025, di kelurahan yang sama, seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan, 21 tahun, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob yang sedang membubarkan massa. Setahun kemudian, pada 28 Agustus 2026, sebuah portal berita menurunkan tulisan mengenang satu tahun kematiannya. Tulisan itu tayang beberapa jam setelah Bambang Setiyawan meninggal di Mintohardjo. Penulisnya belum tahu.

Cermin-cermin di lapak Jalan Pejompongan Raya masih tertutup terpal keesokan paginya.

III.5 Hari-hari sesudahnya

Polda Metro Jaya menangkap 315 orang dalam dan sesudah kerusuhan malam itu. Dari jumlah itu, 45 ditetapkan sebagai tersangka: klaster perusakan, klaster kekerasan yang dilakukan bersama-sama, dan tiga orang yang membawa senjata tajam.15

Lalu, dalam konferensi pers yang sama, penyidik menyampaikan satu kalimat yang dalam berkas ini pantas ditulis lengkap: mereka menemukan fakta hukum adanya klaster yang bertugas mencari dan merekrut massa untuk digunakan dalam kerusuhan, dan klaster penggerak serta pembiayaan sedang diidentifikasi.16

Tujuh tahun sebelumnya, tim pencari fakta Komnas HAM menulis kalimat yang hampir sama tentang malam-malam Mei 2019 di flyover yang sama: ada indikasi massa terorganisir, pelakunya terlatih, kelompoknya tidak berhasil diidentifikasi. Kalimat 2019 berhenti di sana selamanya. Kalimat 2026, sampai draft ini ditulis, masih berupa kata "klaster" tanpa nama.

Enam klaster diumumkan penyidik pada 28 Agustus 2026. Dua di antaranya adalah klaster perekrut massa dan klaster penggerak serta pembiayaan. Sampai naskah ini terbit, tidak satu pun nama dari kedua klaster itu pernah disebut, dan penyidikannya dinyatakan masih berjalan.17

Di hari-hari yang sama, hal-hal berikut terjadi, dicatat berurutan tanpa hubungan sebab-akibat yang dipaksakan. Gubernur Jakarta mendatangi rumah duka di Bendungan Hilir. Bambang Setiyawan dimakamkan di TPU Kemanggisan, kelurahan yang sama dengan jembatan tempat Harun Rasyid tewas pada Mei 2019, dan dengan Jalan Sakti Raya tempat kantor DPP GRIB diresmikan pada 20 Mei 2012. Ketua umum sebuah organisasi yang telah dibubarkan negara pada 2020, Front Pembela Islam, mendatangi keluarga korban kekerasan Pejompongan dan mendesak polisi menangkap pelaku dengan kalimat: jangan ada yang kebal hukum. Organisasi yang kantornya diresmikan calon presiden pada 2012 dan ketua umumnya diterima Sekretaris Kabinet pukul 00.20 pada Juni 2026 mengeluarkan pernyataan bahwa kehadirannya di Pejompongan adalah upaya persuasif menjaga kondusivitas.

Sampai 29 Agustus, tidak satu pun dari 45 tersangka ditetapkan sebagai pelaku dalam kasus Bambang Setiyawan maupun Faturohman.

Pada 30 Agustus, Menteri Koordinator Bidang Hukum menyatakan penyidikan atas kematian Bambang Setiyawan dan penganiayaan Faturohman masih berjalan, dan belum ada kesimpulan tentang siapa yang menyuruh, siapa yang menggerakkan, dan siapa yang melakukan.18

Penutup Esai III

Satu hari itu bisa dibaca dengan berbagai cara, dan sebagian besar pembacaan yang beredar mengisi kekosongan nama dengan nama. Esai ini memilih tidak melakukannya, bukan karena kekosongan itu tidak penting, melainkan karena kekosongan itulah temuannya.

Di Kilometer 54, dua orang tak dikenal. Di flyover Slipi, 2019, pelaku terlatih yang tak pernah ditemukan. Di ruas tol yang tertutup, seseorang yang membuka pintu. Di gang Pejompongan, seseorang yang mengaku intel. Di konferensi pers Polda, klaster tanpa nama. Selama tujuh tahun, di koordinat yang sama, peristiwa-peristiwa yang menentukan selalu dikerjakan oleh orang tak dikenal, dan republik ini tidak pernah merasa cukup perlu untuk mengenali mereka.

Pertanyaannya persis sama dengan pertanyaan Komnas HAM 2019, dan belum berubah satu kata pun: apakah kali ini kata "klaster" akan dibuka sampai nama.

Interlude III

Ruang tamu itu tidak besar. Kursi-kursi kayu berukir dengan dudukan beludru, jenis yang ada di hampir setiap rumah kiai di Jawa, ditata melingkar mengelilingi meja rendah. Di atas meja: air mineral botolan, beberapa toples camilan, kue-kue di wadah plastik, cangkir teh yang sebagian sudah kosong. Lemari kaca berisi piring dan cinderamata. Foto-foto lama di dinding.

Rumah ini milik KH Abdul Wahab Chasbullah, yang mendirikan pesantren di sekitarnya, ikut mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, dan wafat pada 1971. Rumahnya masih dipakai keluarganya. Malam itu, dengan izin keluarga, sembilan orang tua duduk di kursi-kursi tamunya.

Sembilan orang itu baru saja diberi kepercayaan oleh lima ratusan pemilik suara dari seluruh Indonesia untuk memutuskan siapa yang akan memimpin organisasi Islam terbesar di dunia selama lima tahun ke depan. Tidak ada podium. Tidak ada layar. Tidak ada wartawan di dalam. Salah satu dari mereka memegang tongkat. Salah satu dari mereka membaca selembar kertas.

Di luar, sekitar tujuh ratus kilometer ke barat, cermin-cermin di sebuah lapak masih tertutup terpal.

Mereka bermusyawarah sampai larut. Ketika selesai, salah satu dari mereka keluar dan membacakan satu nama: KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh Tebuireng, cicit dari pendiri yang lain.19

Wallahu a'lam bishshawab.

Referensi

  1. "Jelang Aksi 27 Agustus, Bus Massa Warga Pati Batal Berangkat: Sudah di DP", Kompas, 24 Agustus 2026. Perusahaan otobus membatalkan dan mengembalikan uang muka; menurut koordinator aliansi, mereka mengaku ditelepon kepolisian agar tidak mengangkut peserta aksi. tautan kembali
  2. "Rekening Koordinator Warga Pati Diblokir Saat Aksi, Bagaimana Aturan Hukumnya", Hukumonline, dan "Koalisi: Pemblokiran Rekening Aktivis Pati Langgar Hukum", Tempo. Rekening Bank Mandiri atas nama Supriyono berisi sekitar Rp 80,9 juta. Polda Metro Jaya mengakui mengirim permohonan penundaan transaksi. Hukumonline Tempo kembali
  3. "Bus Rombongan Warga Pati Dilempari Batu Saat Menuju Jakarta, 3 Orang Terluka", Kompas, 24 Agustus 2026, dan keterangan polisi di Republika. Dua orang bermasker melempar dari jembatan penyeberangan di Km 54 sampai 56 wilayah Karawang; kaca pecah dan ditambal lakban. Kompas Republika kembali
  4. "Jelang Demo DPR, Rumah Warga Pati jadi Sasaran Tembak", Liputan6, dan "Khawatir Teror, Rumah Koordinator AMPB Botok dan Teguh Dijaga Warga Pati", Suara, 26 sampai 27 Agustus 2026. Liputan6 Suara kembali
  5. "Botok Pati dkk Naik ke Balkon Rapat Paripurna DPR 27 Agustus", detikNews. Paripurna pagi itu membahas RUU Perampasan Aset dan dihadiri 226 anggota. detikNews Kompas kembali
  6. Lembar Surat Komitmen Penyelesaian Pembentukan RUU tentang Perampasan Aset, Jakarta 27 Agustus 2026, ditandatangani empat Wakil Ketua DPR RI: Sufmi Dasco Ahmad, Sari Yuliati, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamsurijal. Nama Ketua DPR tidak ada di antara penandatangan. Lembar aslinya memuat perubahan tulisan tangan pada butir 3 dan 4. BeritaSatu Jawa Pos kembali
  7. "Jadwal Lengkap Muktamar Ke-35 NU di Ponpes Tambakberas Jombang", Kompas. Muktamar berlangsung 27 sampai 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. tautan kembali
  8. "Demo 27 Agustus Berakhir Bentrok, Massa Kuasai Flyover Slipi hingga Serang Aparat", Okezone, dan "Demo 27 Agustus di Gedung DPR, Akses Keluar Slipi Tol Dalam Kota Ditutup", Kompas. Okezone Kompas kembali
  9. "Akses Keluar Slipi Ruas Tol Dalam Kota Arah Grogol Ditutup Sementara", Republika dan ANTARA, 27 Agustus 2026. Akses keluar Slipi di Km 09+650 ditutup sejak pukul 07.43 WIB; Jasa Marga menyatakan penutupan situasional itu dilakukan atas diskresi pihak kepolisian. Malam harinya Jasamarga Metropolitan Tollroad menutup segmen Cawang sampai Slipi setelah massa masuk ke jalan tol. Republika ANTARA penutupan segmen malam, Tribun kembali
  10. "Saat GRIB Jaya Bantah Terlibat Kerusuhan, Viral Kesaksian Driver Ojol soal Massa Teriakan Nama Ormas", Tribun Jakarta, dan "GRIB Jaya Buka Suara soal Massa Turun dari Truk di Slipi dan Serang Ojol", Warta Kota. Tribun Jakarta Warta Kota kembali
  11. "Tidak Sampai Dibakar, Lima Unit Truk yang Angkut Ormas Grib Jaya Dirusak Massa 27 Agustus", Suara, 28 Agustus 2026. Polres Metro Jakarta Barat mengonfirmasi kelima truk dirusak, bukan terbakar. Sebagian media memakai kata dibakar di judulnya, misalnya Monitor Indonesia dan BeritaSatu. Suara versi dibakar, Monitor Indonesia kembali
  12. "GRIB Jaya Bantah Terlibat Kerusuhan Usai Demo 27 Agustus di Gedung DPR", Kompas, 28 Agustus 2026, dan "Isu Hercules Muncul di Tengah Kericuhan 27 Agustus, Polda Metro: Masih Didalami", Suara. Kompas Suara kembali
  13. Bantahan Polda Metro Jaya lewat akun Instagram resminya, Senin 31 Agustus 2026. Narasi bahwa polisi mengawal iring-iringan truk disebut tidak benar; kendaraan Brimob yang terlihat dinyatakan sedang berpatroli dan memantau kamtibmas di beberapa titik yang dinilai perlu atensi. Kompas Okezone iNews kembali
  14. "Sebelum Tewas Dikeroyok, Penjual Cermin di Pejompongan Sempat Pingsan dan Dibawa ke RS Mintohardjo", Suara, 28 Agustus 2026, dan "Tragis! Penjual Cermin Tewas saat Kericuhan Demo 27 Agustus", Kompas TV. Suara Kompas TV kembali
  15. "Polisi Tetapkan 6 Klaster Kasus Ricuh 27 Agustus, 45 Orang Tersangka", CNN Indonesia, 28 Agustus 2026. tautan kembali
  16. "Polisi Duga Ada Penggerak dan Penyandang Dana untuk Kerusuhan Demo 27 Agustus", Viva. tautan kembali
  17. "Polisi Tetapkan 6 Klaster Kasus Ricuh 27 Agustus, 45 Orang Tersangka", CNN Indonesia, 28 Agustus 2026, dan "Polisi Usut Penggerak dan Penyandang Dana Kerusuhan Demo DPR", Sindonews. Keenam klaster diumumkan tanpa satu pun nama dari klaster perekrut, penggerak, maupun pembiayaan. CNN Indonesia Sindonews kembali
  18. "Kasus Kematian Bambang Masih Diselidiki, Yusril Imbau Warga Tak Terprovokasi", Liputan6, 30 Agustus 2026, dan "Bambang Tewas, Fatur Dianiaya: Dua Korban Kericuhan Pejompongan", Kompas. Menteri Koordinator Bidang Hukum menyatakan belum ada kesimpulan atas kedua perkara itu. Liputan6 Kompas kembali
  19. "Profil Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asy'ari Jadi Ketum PBNU", detikJatim, 31 Agustus 2026. KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh kedelapan Pesantren Tebuireng, adalah cicit KH Hasyim Asy'ari lewat garis ibunya: Nyai Hj Abidah Ma'shum, putri Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy'ari. Hasyim Asy'ari mendirikan Tebuireng sekaligus ikut mendirikan Nahdlatul Ulama bersama KH Abdul Wahab Chasbullah, pemilik rumah tempat musyawarah ini berlangsung. detikJatim Kompas kembali