Yang mengejutkan dari perkara ini bukan isinya. Yang mengejutkan adalah tidak ada satu pun bagiannya yang pernah disembunyikan.
Unggahan Facebook seorang calon presiden. Cuitan yang berbalik menghadap penulisnya bertahun-tahun kemudian. Temuan komisi negara yang berhenti di kalimat bahwa kelompoknya tidak berhasil diidentifikasi. Surat bertanggal dan bertanda tangan, dengan dua butirnya dicoret dengan tangan di atas kertas berlambang Garuda. Unggahan akun resmi sebuah lembaga negara pada pukul nol nol dua puluh dini hari. Kalimat seorang presiden di pembukaan sebuah muktamar, bahwa ia tidak mengatur apa-apa. Semuanya dipublikasikan oleh pelakunya sendiri, dan sebagian besar masih bisa dibaca hari ini.
Monograf ini tidak membongkar apa-apa. Ia menyusun. Enam puluh tujuh tahun dokumen yang tercerai-berai diletakkan menurut urutan waktunya, dari sebuah organisasi pemuda yang didirikan di markas pada 1959 sampai satu malam di bulan Agustus 2026, lalu dibiarkan berbicara sendiri.
Yang tersusun ternyata bukan riwayat premanisme. Ia riwayat tentang bagaimana kekuasaan memperlakukan setiap kerumunan rakyat yang berhasil mengorganisir dirinya. Otot dihargai nasi bungkus dan pembiaran. Suara dihargai posko dan proyek. Dan wibawa, yang paling mahal karena tidak menerima uang sewa, didekati dengan cara yang paling sopan: sungkeman, hajatan yang dihadiri, muktamar yang ditata.
Negara sudah punya berkasnya sendiri. Berkas polisi, berkas perkara, laporan tim pencari fakta, masing-masing rapi di lacinya dan tidak pernah dipertemukan satu sama lain. Yang belum pernah ada adalah satu berkas yang membaca semuanya sekaligus. Monograf ini menyusunnya, dan karena itu ia menyebut dirinya berkas juga.
Lima esai. Masing-masing bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi kelimanya ditulis untuk dibaca berurutan, sebab yang dicari memang bukan satu kejadian.
Yang membacanya sampai habis tidak akan menemukan dalang. Ia akan menemukan pola, dan pola jauh lebih sulit dilupakan.