Kalimantanku: Api Yang Berhenti Di Garis Batas

Saya menamatkan SMP di Banjarmasin. Ayah saya membuka lahan transmigrasi di zaman Orde Baru. Malam itu di peta satelit, ikon api menyala di samping nama kota itu, dan ratusan titik bara berhenti persis di garis perbatasan Sarawak. Ini esai tentang mengapa apinya tahu batas negara.

Kalimantanku: Api Yang Berhenti Di Garis Batas

Pada malam 21 Agustus 2026, siapa pun yang membuka aplikasi peta satelit dan menggeser layar ke tengah Kalimantan akan melihat sesuatu yang aneh. Pulaunya gelap. Di atas kegelapan itu bertaburan ratusan titik bara, oranye dan merah, padat di barat, merapat di selatan. Lalu, di sepertiga atas pulau, taburan itu berhenti. Bukan menipis perlahan. Berhenti.

Garis tempat ia berhenti adalah perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak. Sebagian ruasnya mengikuti punggung pegunungan, rangkaian Kelingkang dan Kapuas Hulu, dan orang bisa berhenti di penjelasan itu: tentu saja hutan basah di perbukitan tidak terbakar. Tapi lihat lagi petanya. Titik-titik itu tidak menumpuk di kaki gunung. Ia menumpuk di dataran rendah pesisir, di gambut. Dan gambut pesisir ada di kedua sisi garis. Sarawak menyimpan 1,6 juta hektare gambut yang sama basahnya dulu, sama keringnya sekarang di atas kertas, sebagian sudah didrainase untuk sawit pula. El Nino yang memanggang tahun ini tidak memeriksa paspor. Kalau geografi yang menentukan, gambut pesisir mereka seharusnya ikut menyala. Malam itu ia gelap.

Di peta itu ada satu nama yang tidak bisa saya baca sebagai sekadar label: Banjarmasin. Saya menamatkan SMP di kota itu. Lima tahun masa kecil saya, sejak SD, ada di sana. Malam itu, di layar, ikon api menyala persis di samping namanya.

Saya menatap layar cukup lama. Sebagai orang yang dua puluh tahun bekerja dengan sistem, saya tahu apa yang sedang saya lihat. Itu bukan peta bencana alam. Itu peta hasil audit. Dua rezim tata kelola (Indonesia dan Malaysia) sedang diuji oleh kemarau yang sama, dan hasilnya digambar oleh satelit, tanpa juru bicara, tanpa siaran pers.

I. DUA KABAR DARI SATU ANGIN

↑ kembali ke daftar isi

Angin tenggara bergerak dari Kalimantan menuju barat laut. Di sepanjang jalurnya, ia membawa dua kabar ke dua negara.

Di Palangka Raya, indeks kualitas udara menyentuh 487, kategori berbahaya. Jarak pandang turun ke 1,4 kilometer. Dua belas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut tertunda. Sekolah dari PAUD sampai SMP pindah ke daring. Dinas Kesehatan Kalteng mencatat 2.052 kasus ISPA hanya dalam sepekan, 7 sampai 14 Agustus, naik 39,2 persen.1 Di Banjarbaru, api mendekati permukiman.

Di seberang garis, Sarawak menutup hampir 600 sekolah. Sekitar 200 ribu siswa terdampak.2 Tebedu mencatat indeks polusi 212, Serian 202, kategori sangat tidak sehat.3 Sarawak menanggung semua itu nyaris tanpa memiliki satu pun klaster api besar di wilayahnya sendiri.

Satu negara membakar. Dua negara menghirup.

Angka di sisi Indonesia: BNPB mendeteksi 1.487 titik panas di Kalimantan per 20 Agustus, dengan konsentrasi tertinggi Kalimantan Tengah 767 titik dan Kalimantan Barat 560 titik.4 Greenpeace, memantau 11 sampai 16 Agustus, menemukan 592 titik sumber asap, dan 455 di antaranya berada di lanskap gambut.5 Nusantara Atlas mencatat sekitar 182 ribu hektare terbakar pada Juli saja, hampir dua kali lipat seluruh paruh pertama tahun.2

Kehati-hatian dulu, sebelum melangkah: hotspot bukan berarti api terverifikasi, dan satu kebakaran bisa terdeteksi sebagai beberapa titik. Kementerian Kehutanan sendiri mengingatkan itu.6 Tapi kehati-hatian ini tidak menolong, karena satelitnya sama untuk kedua sisi perbatasan. Artefak deteksi berlaku setara di Kalbar dan di Sarawak. Yang tersisa untuk dijelaskan adalah selisih kepadatan berordo besaran, dan selisih itu tidak bisa dijelaskan oleh satelit. Ia hanya bisa dijelaskan oleh apa yang terjadi di tanah.

II. KANAL YANG TIDAK PERNAH DITUTUP

↑ kembali ke daftar isi

Untuk memahami tanah itu, saya harus mundur lebih jauh dari yang saya inginkan.

Almarhum ayah saya kontraktor di zaman Orde Baru. Dari Banjarmasin, ia mengerjakan apa yang dikerjakan republik ini pada masa itu: membuka lahan untuk transmigrasi, membangun Stadion 17 Mei tempat orang Banjarmasin menonton bola. Suatu hari ia membawa saya, Ruly kecil, naik speed boat menyusuri sungai Kapuas untuk sebuah survey. Saya tidak ingat apa yang disurvey. Saya ingat air cokelat, dinding hijau di kedua tepi, dan punggung ayah saya di depan, menghadap lahan yang akan dibuka.

Ayah saya percaya pada apa yang ia bangun. Generasinya diajari bahwa membuka lahan adalah membangun negeri, dan sebagian memang benar: stadion itu masih berdiri, transmigran gelombang pertama kini punya cucu yang lahir di Kalimantan. Saya menulis bagian ini bukan untuk mengadili ayah saya. Saya menulisnya supaya jujur tentang satu hal: kanal yang akan saya ceritakan di bawah ini tidak digali oleh orang jahat. Ia digali oleh orang-orang seperti ayah saya, atas perintah negara, dengan keyakinan penuh bahwa mereka sedang membangun.

Lalu, 1995.

Tahun itu, melalui Keppres 82/1995, negara memutuskan mengubah sejuta hektare rawa gambut Kalimantan Tengah menjadi sawah. Proyek Lahan Gambut namanya. Untuk mengeringkan rawa, ribuan kilometer kanal digali. Salah satu saluran induknya, karena perhitungan yang tidak cermat, membelah kubah gambut sedalam sepuluh meter.7 Kubah gambut adalah tandon air alami; ia menyimpan air di musim hujan dan melepaskannya perlahan di musim kemarau. Saluran itu memotongnya seperti pipa yang ditusukkan ke jantung tandon. Airnya keluar. Gambutnya kering.

Proyek itu dihentikan tahun 1998, dinyatakan gagal. Tapi kanalnya tidak ikut berhenti. Kanal adalah infrastruktur, dan infrastruktur bekerja terus tanpa peduli proyeknya masih hidup atau sudah mati. Warisan bekerja dua arah: stadion yang dibangun ayah saya masih menggelar pertandingan, dan kanal yang digali generasinya masih mengeringkan gambut. Keduanya bekerja persis seperti dirancang. Sekitar 876 ribu hektare gambut bekas PLG menjadi rentan terbakar hebat setiap kemarau, dari 1997 sampai malam 21 Agustus kemarin.7 Kebakaran besar 2015, 2019, 2023, dan yang sedang berlangsung sekarang, semuanya menyala di atas peta yang sama.

Lalu, alih-alih menutup kanal itu, negara membangun di atasnya. Tahun 2020, kawasan bekas PLG ditetapkan sebagai lokasi food estate, Proyek Strategis Nasional, dengan gelontoran Rp1,5 triliun pada 2021 dan 2022.7 Kini program cetak sawah melanjutkan pola yang sama. Walhi Kalteng mencatat provinsi ini memiliki sekitar 2,55 juta hektare ekosistem gambut, dan izin usaha terus diterbitkan di atasnya. Lahan cetak sawahnya sendiri mungkin tidak terbakar. Tapi pengurukan dan pembukaannya mengeringkan gambut di sekelilingnya, dan yang di sekeliling itulah yang menyala.8

TIGA DEKADE SATU KANAL

1995Keppres 82/1995: sejuta hektare gambut Kalteng dibuka, ribuan km kanal digali
1997Kebakaran besar pertama di gambut yang baru kering
1998Proyek dihentikan, dinyatakan gagal. Kanal tetap bekerja
2015Karhutla 2,6 juta hektare, 34 persen di gambut. BRG dibentuk
2020Food estate PSN dibangun di atas kawasan eks-PLG
2024Desember: masa kerja BRGM berakhir, tidak diperpanjang
2025Inpres 1/2025: efisiensi Rp306 T. BNPB, BMKG, Basarnas ikut dipangkas
20261.487 titik panas di Kalimantan. Jawaban negara: menyemai awan

Tiga presiden mewarisi kanal itu. Tidak satu pun menutupnya. Presiden keempat membangun sawah di atasnya.

III. PARAMETER YANG DIJAGA TETANGGA

↑ kembali ke daftar isi

Sarawak bukan tanpa gambut. Ia justru memiliki gambut terluas di Malaysia, sekitar 1,6 juta hektare.9 Iklimnya identik. Ekonominya sama-sama bertumpu pada sawit. Kalau geografi yang menentukan, Sarawak seharusnya ikut menyala. Sebagian perbatasan memang dilindungi pegunungan dan hutan lintas batas yang masih utuh, dari Lanjak-Entimau sampai Betung Kerihun. Tapi gambut Sarawak tidak ada di gunung; ia di pesisir, di delta Rajang dan Mukah, persis jenis lanskap yang di Kalbar sedang terbakar.

Yang berbeda adalah parameter yang dipilih untuk dijaga.

Malaysia melarang pembakaran terbuka sejak 1998. Di lahan gambut yang ditanami sawit, sertifikasi MSPO mewajibkan muka air tanah dijaga antara 40 sampai 60 sentimeter; gambut yang basah tidak bisa terbakar, sesederhana itu. Penanaman sawit baru di gambut dilarang. Total luas kebun sawit nasional dikunci di 6,5 juta hektare.10 Frontier ekspansinya ditutup, dan begitu frontier tertutup, api kehilangan fungsi ekonominya sebagai alat pembersih lahan termurah.

Lalu lapisan penegakannya. Department of Environment Malaysia menyelidiki setiap hotspot NOAA-20 yang dilaporkan pusat meteorologi ASEAN.11 Setiap titik. Di Sarawak, ketika indeks polusi melewati 100 dan indeks cuaca kebakaran melewati ambang, larangan bakar total berlaku otomatis, termasuk untuk pekarangan, dengan ancaman denda RM100 ribu atau lima tahun penjara.3 Ladang berpindah tradisional di bawah 40 hektare tetap diizinkan, terkontrol, dengan pengecualian yang dicabut otomatis saat udara memburuk.12 Sistemnya tidak sempurna; Sarawak tetap punya titik api, dan tahun-tahun tertentu gambut Mukah menyala juga. Tapi arsitekturnya jelas: deteksi tersambung ke tindakan, dan tindakan terpicu oleh ambang, bukan oleh rapat.

DUA SISI SATU GAMBUT

Kalimantan Barat + Tengah
Sarawak
Gambut luas, kanal eks-PLG aktif
Gambut 1,6 juta ha, muka air diatur
Ekspansi lahan berlanjut (cetak sawah, PSN)
Frontier ditutup, sawit dikunci 6,5 juta ha
Hotspot dihitung, diumumkan
Setiap hotspot NOAA-20 diselidiki
Penegakan setelah api: 12 tersangka sepekan
Larangan otomatis saat API lewat 100
927 hotspot high confidence (17 sd 19 Agu)
600 sekolah tutup. Oleh asap tetangga

Di sisi kita, deteksinya justru mengesankan. SIPONGI memantau real-time dengan tingkat kepercayaan tersertifikasi. BNPB menghitung sampai satuan: 767, 560, 74, 74, 3. Angka-angka itu presisi, mutakhir, dan publik. Lalu angka itu mengalir ke mana? Ke siaran pers. Kapolda Kalteng mengumumkan 12 tersangka ditahan dalam sepekan, dan Menteri Kehutanan berjanji menindak siapa pun tanpa kecuali.2 Keduanya tindakan setelah api. Sensornya bekerja. Aktuatornya tidak tersambung.

Bagi pembaca yang mengikuti esai tentang negara yang tidak punya alarm, ini variasi yang lebih pahit: alarmnya ada, menyala, akurat sampai satuan. Ia hanya tidak dikabelkan ke apa pun.

IV. RANTAI YANG DIPUTUS DI TIGA TITIK

↑ kembali ke daftar isi

Sampai di sini masalahnya masih bisa disebut warisan. Kanal 1995 bukan salah pemerintah hari ini. Yang menjadi tanggung jawab pemerintah hari ini adalah apa yang dilakukannya terhadap rantai pengaman yang tersisa. Dan dalam 18 bulan terakhir, rantai itu diputus di tiga titik sekaligus.

Titik pertama: lembaganya. Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, satu-satunya lembaga yang tugas khususnya membasahi kembali gambut kering, habis masa kerjanya 22 Desember 2024 dan tidak diperpanjang. April 2025 pembubarannya diresmikan lewat surat Mensesneg, tugasnya dipecah ke tiga kementerian tanpa kejelasan anggaran penerus.13 Padahal rekam jejaknya terukur: 1,6 juta hektare direstorasi, dan restorasi itu terbukti menurunkan kebakaran lahan 29,59 persen di wilayah kerjanya.14 Lembaga dengan hasil yang bisa diaudit, dibubarkan tepat delapan bulan sebelum kemarau El Nino yang sudah diramalkan.

Titik kedua: cadangan daruratnya. Anggaran BNPB bergerak seperti ini: Rp4,92 triliun pada 2024. Pagu Rp1,427 triliun pada 2025, dipangkas lagi di tengah jalan menjadi Rp956,67 miliar. Lalu pada APBN 2026, tahun yang sejak awal diketahui akan dihantam El Nino kuat: Rp491 miliar. Terendah dalam 15 tahun. Nol koma nol satu tiga persen dari belanja negara.15

ANGGARAN BNPB, 2022 SD 2026

Triliun rupiah. Sentuh batang untuk detail.

 

Titik ketiga: matanya. BMKG, lembaga yang meramalkan kemarau ini dan yang mengoperasikan modifikasi cuaca, dipangkas 50,35 persen pada awal 2025, dari Rp2,826 triliun menjadi Rp1,423 triliun, sebelum sebagian dikembalikan setelah publik ribut.16

Dan Kementerian Kehutanan, yang kini mewarisi urusan gambut sekaligus membawahi Manggala Agni? Pagu 2025-nya Rp5,16 triliun, diminta efisiensi Rp1,21 triliun.17 Pagu 2026-nya memang naik menjadi Rp6,04 triliun, tapi bacalah komposisinya pelan-pelan: Rp4,2 triliun untuk Dukungan Manajemen, Rp1,72 triliun untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan.18 Tujuh puluh persen anggaran kementerian penjaga hutan dipakai untuk mengurus kementeriannya sendiri. Dan pada Juni 2026, ketika asap sudah mulai naik, kementerian yang sama mengusulkan tambahan Rp6,23 triliun untuk menghadapi El Nino. Untuk tahun anggaran 2027.19

Mereka tahu siklusnya. Mereka menganggarkannya untuk tahun depan. Apinya tidak menunggu.

V. KE MANA UANGNYA MENGALIR

↑ kembali ke daftar isi

Tidak ada dokumen yang menulis "dana gambut dipindahkan ke program makan siang". Anggaran negara tidak bekerja sekasar itu, dan saya tidak akan mengklaim yang tidak tertulis. Yang tertulis justru cukup.

Januari 2025, Inpres 1/2025 memerintahkan efisiensi Rp306 triliun. Menteri Keuangan saat itu menjelaskan ke publik: pemotongan diinstruksikan Presiden agar dana penghematan dialihkan ke program yang berdampak langsung, utamanya makan bergizi gratis, layanan kesehatan, serta ketahanan pangan dan energi. Tiga lembaga kebencanaan, BNPB, BMKG, dan Basarnas, tercatat di antara yang dipotong.20 Rantai sebabnya tidak perlu diduga-duga. Ia diumumkan.

Lalu lihat skalanya. MBG masuk APBN 2026 dengan pagu Rp335 triliun. Mei 2026 diturunkan menjadi Rp268 triliun.21 Juli 2026 menjadi Rp229 triliun.22 Perhatikan: Rp106 triliun menguap dari satu program dalam dua putaran evaluasi, dan republik ini tidak goyah sedikit pun.

SATU SKALA, SEMUA PEMAIN

Anggaran 2026, triliun rupiah, skala logaritmik agar yang kecil terlihat. Sentuh batang untuk detail.

 

Uang yang dibuang dari kelebihan satu program itu setara 17 kali seluruh anggaran Kementerian Kehutanan, 215 kali anggaran BNPB, dan berkali-kali lipat dari total biaya menutup semua kanal eks-PLG yang pernah dihitung siapa pun.

Saya pernah menulis panjang soal kekeliruan membaca mana belanja yang investasi dan mana yang konsumsi, juga soal pengawasan program raksasa ini. Kasus gambut menambahkan babak yang paling literal dari seluruh argumen itu: membasahi gambut adalah belanja modal dengan pengembalian terukur, 29,59 persen penurunan kebakaran, plus ISPA yang tidak terjadi, penerbangan yang tidak batal, sekolah yang tidak tutup, dan hubungan baik dengan dua negara tetangga. Negara memotong yang itu. Yang dipertahankan, dengan segala pemborosan yang kemudian diakuinya sendiri lewat dua kali pemangkasan, adalah belanja konsumsi.

VI. MENYEWA AWAN

↑ kembali ke daftar isi

Maka sampailah kita pada jawaban negara atas kemarau ini.

Sebelas Agustus 2026, instruksi Presiden turun melalui Menteri Sekretaris Negara: tangani karhutla dengan operasi modifikasi cuaca.5 Pesawat disewa. Garam ditabur. Untuk Kalimantan Barat, operasi dijadwalkan 23 sampai 27 Agustus, menunggu awan yang cukup untuk disemai.23 Peneliti Greenpeace menyebutnya dengan sopan: bukan jawaban yang pas, sebab akar masalahnya ada di tata air gambut yang rusak.5 Saya akan menyebutnya dengan bahasa profesi saya: ini sistem yang memilih membayar denda keterlambatan berulang setiap tahun karena menganggap melunasi pokok utangnya terlalu mahal. Dan lembaga yang menerbangkan pesawat penyemai itu, BMKG, adalah lembaga yang sama yang anggarannya dipangkas separuh tahun lalu.

Sementara itu di darat, di Palangka Raya, seorang pengemudi ojol tetap keluar mencari order dengan mata perih dan napas berat, mengelap jok motornya yang berdebu abu setiap kali berhenti, karena aplikasi tidak mengenal status tanggap darurat.24 Anak-anaknya belajar lewat layar telepon di rumah, karena sekolah ditutup oleh udara. Keluarga itu tidak muncul dalam Nota Keuangan. Tapi merekalah yang membayar bunga dari utang yang tidak pernah dilunasi negara sejak 1995.

Pada April 2026, Kepala BNPB menegaskan anggaran karhutla tidak terdampak efisiensi.25 Pada Agustus 2026, Ketua Komisi VIII DPR menilai efisiensi anggaran berdampak pada kemampuan pemerintah mengantisipasi karhutla.26 Dua pernyataan resmi. Empat bulan berjarak. Saling meniadakan. Saya biarkan keduanya berdiri bersebelahan di sini, karena di antara dua kalimat itulah 1.487 titik panas menyala.

PENUTUP

↑ kembali ke daftar isi

Kembalilah ke peta malam itu. Geser layarnya sekali lagi.

Dua negara sama-sama punya satelit. Hanya satu yang menyambungkan satelitnya ke tanah.

Garis yang memisahkan gelap dari bara itu tidak dijaga tentara. Tidak ada pagar di sana, tidak ada patroli. Yang menjaganya hanya ini: di satu sisi, angka muka air tanah yang diperiksa dan ambang yang memicu tindakan; di sisi lain, angka titik panas yang dihitung dengan teliti lalu diumumkan.

Dan di sudut peta itu, ikon api masih menyala di samping nama kota tempat saya menamatkan SMP, tidak jauh dari sungai yang pernah saya susuri dari belakang punggung ayah saya seolah langit sendiri sedang mencatat, dengan tinta bara, utang yang sejak 1995 belum pernah dilunasi.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] Akurasi.id, Daftar Kebakaran Hutan di Kalimantan 2026, 21 Agustus 2026

[2] Associated Press, Indonesia warns against starting open blazes as haze spreads to Malaysia, 21 Agustus 2026

[3] DayakDaily, Open burning ban as haze worsens, 12 Agustus 2026

[4] Antara, BNPB deteksi 1.487 titik panas potensi karhutla di Pulau Kalimantan, 21 Agustus 2026

[5] Kompas.com, Greenpeace Indonesia Temukan Lebih dari 500 Titik Karhutla di Kalimantan, 21 Agustus 2026

[6] Kompas.com, 750 Titik Hotspot Terdeteksi di Kalimantan Pertengahan Agustus 2026, 21 Agustus 2026

[7] Pantau Gambut, Food Estate Kalimantan Tengah, Riwayatmu Kini, November 2022

[8] Mongabay Indonesia, Ketika Kebakaran Hutan dan Lahan Menggila di Kalimantan, 6 Agustus 2026

[9] WWF-Malaysia via Malay Mail, The transboundary haze will keep returning until we treat the root cause, 17 Agustus 2026

[10] MPOB via The Borneo Post, Malaysia practises zero-burning techniques, November 2022

[11] Department of Environment Malaysia, Open Burning, doe.gov.my

[12] The Star, Sarawak comes down hard on open burning culprits, 6 November 2019

[13] Alinea.id, Nasib lahan gambut dan mangrove setelah BRGM bubar, Mei 2025

[14] Antara, BRGM laporkan capaian restorasi 1,6 juta ha gambut, Maret 2025

[15] CNBC Indonesia, Anggaran BNPB 2026 Terendah 15 Tahun, 29 November 2025

[16] Tempo, Ahli Kebencanaan Ungkap Risiko Efisiensi Anggaran Sistem Peringatan Dini, Februari 2025

[17] Antara, Kementerian Kehutanan minta tambahan anggaran Rp408,17 miliar, 2 Juli 2025

[18] Antara, Komisi IV DPR setujui anggaran Kemenhut 2026 sebesar Rp6,04 triliun, 16 September 2025

[19] Antara, Kemenhut usul tambahan anggaran Rp6,23 triliun hadapi El Nino 2027, 11 Juni 2026

[20] JawaPos, Anggaran Tiga Badan yang Menangani Bencana Dipangkas, Februari 2025

[21] Kompas.id, Anggaran MBG Dipangkas dari Rp335 Triliun Menjadi Sekitar Rp268 Triliun, Juni 2026

[22] Cepos Online, Pemangkasan Anggaran MBG Berlanjut, Pagu 2026 Kini Rp229 Triliun, Juli 2026

[23] Liputan6, Titik Panas Kebakaran Hutan di Kalimantan Naik 4 Kali Lipat dalam Sehari, 21 Agustus 2026

[24] Tirto.id, Fakta-Fakta Kebakaran Hutan Kalimantan, 21 Agustus 2026

[25] Duta Nusantara Merdeka, Djamari Chaniago Tekankan Pencegahan Karhutla 2026, April 2026

[26] Disway, Efisiensi Anggaran Disebut Pengaruhi Mitigasi Karhutla, 21 Agustus 2026