Foto itu beredar dengan judul dari Financial Times: "Indonesia wanted to give children free school meals. How did it go so wrong?" Di dalamnya, seorang lelaki menggendong anak perempuan yang lunglai dalam pelukannya, diapit orang-orang berjaket ojek dan seragam sekolah yang menunggu giliran diangkut. Judul itu ditulis dari jarak aman: pertanyaan yang bisa diajukan orang yang tidak perlu menunggu hasil laboratorium untuk tahu siapa nama anaknya.
Di republik ini, pertanyaan yang sama sudah lama diajukan. Dengan nada yang lebih keras. Dan diabaikan dengan cara yang jauh lebih tenang.
Esai ini bukan tentang keracunan itu sendiri. Sudah cukup banyak yang menulis angkanya. Esai ini tentang jarak: berapa banyak cermin yang sudah disodorkan ke istana, dari dalam maupun luar negeri, dan berapa banyak yang benar-benar sampai ke meja yang bisa mengubah sesuatu.
DAFTAR ISI
I. CERMIN YANG DITAWARKAN DARI LUAR
II. CERMIN YANG PECAH DI DALAM NEGERI SENDIRI
III. CERMIN YANG SAMPAI KE PASAR, TAK SAMPAI KE ISTANA
I. CERMIN YANG DITAWARKAN DARI LUAR
FT bukan yang pertama. Enam bulan sebelum foto itu beredar, Bloomberg sudah menulis "Sell Indonesia' Sweeps Trading Desks as Prabowo Tightens Grip"1, menyebut kasus Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu pemicu meja-meja trading mulai menjauh dari aset Indonesia. Tiga minggu setelahnya, Reuters menulis Indonesia mempertimbangkan pemangkasan dua miliar dolar dari program andalan presiden2, mengutip dokumen internal dan sumber yang mengetahui pembahasan.
Dua kantor berita besar dunia, dalam rentang tiga minggu, menyimpulkan hal yang sama: sesuatu di jantung program ini tidak bekerja sebagaimana dijanjikan. Bukan tuduhan aktivis. Bukan cuitan warganet. Analisis dari meja yang biasanya berbicara ke investor, bukan ke rakyat kecil yang gendong anaknya ke rumah sakit.
Pertanyaannya bukan apakah cermin itu ada. Cermin itu ada, ditawarkan berkali-kali, dari sumber yang tidak bisa dituduh punya agenda politik domestik. Pertanyaannya adalah ke mana pantulannya pergi setelah sampai di Jakarta.
II. CERMIN YANG PECAH DI DALAM NEGERI SENDIRI
Reuters Institute di Oxford merilis laporan tahunannya soal media Indonesia bulan Juni lalu. Satu angka berdiri sendiri di antara yang lain: delapan dari sepuluh jurnalis Indonesia pernah melakukan self-censorship, dan topik yang paling sering disensor sendiri adalah MBG3.
Bukan pemerintah yang membungkam mereka dengan surat somasi. Anggaran iklan pemerintah, yang selama ini menopang media kecil dan menengah, dialihkan ke program yang justru sedang mereka liput. Media yang seharusnya jadi cermin domestik pertama, yang paling dekat dengan dapur SPPG dan bangsal rumah sakit, kehilangan sebagian penopang hidupnya justru karena program yang sama.
Cermin yang paling dekat dengan kejadian pecah duluan. Yang sampai ke istana bukan laporan lapangan, tapi versi yang sudah disaring sebelum berangkat.
III. CERMIN YANG SAMPAI KE PASAR, TAK SAMPAI KE ISTANA
Ironinya, laporan Bloomberg dan Reuters itu sampai. Bukan ke istana, tapi ke Bloomberg Terminal, ke meja analis risiko di Singapura dan Hong Kong, ke portofolio manajer dana yang mengelola miliaran dolar. Salah satu di antaranya, kepala riset sebuah firma yang mengelola sekitar 4,3 miliar dolar AS, mengaku sudah melepas seluruh investasinya di Indonesia sejak 20241.
Pasar membaca cermin itu dengan sangat serius. Cukup serius untuk memindahkan uang. Yang tidak jelas adalah apakah cermin yang sama, dengan tingkat keseriusan yang sama, pernah sampai ke meja yang bisa mengganti orang, mengubah desain program, atau sekadar berhenti sebentar dan bertanya kenapa.
Dua jalur cermin dan di mana masing-masing berhenti
Bukan berarti pasar lebih peduli pada anak-anak yang keracunan di Sragen atau Bengkulu. Pasar peduli pada risiko yang bisa dihitung. Tapi ketika instrumen yang dirancang untuk menghitung risiko investor bergerak lebih cepat dan lebih jujur daripada instrumen yang dirancang untuk mendengar rakyat, ada sesuatu yang terbalik urutannya.
IV. DUA BINTANG DALAM SEMBILAN BULAN
25 Agustus 2025, Istana Negara. Presiden menyematkan Bintang Mahaputera Utama kepada Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 74/TK/Tahun 20254. Salah satu tanda kehormatan tertinggi negara, diberikan bersamaan dengan peringatan delapan puluh tahun kemerdekaan.
13 Februari 2026, Palmerah. Presiden menyematkan lagi, kali ini Bintang Jasa Utama, di tengah peresmian seribu lebih dapur SPPG5. Dadan mengucapkan terima kasih, berharap penghargaan itu jadi motivasi bagi rekan-rekannya di lapangan.
Sembilan belas hari kemudian dalam kalender yang sama, orang yang sama dicopot dari jabatannya. Tak lama setelah itu, Kejaksaan Agung menetapkannya tersangka.
Bukan cerita tentang satu orang yang ternyata jahat. Kalau hanya itu, ceritanya selesai di ruang sidang. Ini cerita tentang mekanisme yang menganugerahkan penghargaan tertinggi negara kepada orang yang sedang, pada saat yang sama, mengizinkan pengadaan fiktif 21.801 unit motor listrik senilai Rp1,39 triliun6 berjalan di bawah kepemimpinannya, lengkap dengan praktik jual beli titik SPPG yang sudah ditulis di Tulis bulan-bulan sebelumnya.
Istana menganugerahi dua kali dalam sembilan bulan. Istana tidak pernah, dalam rentang yang sama, terlihat bertanya.
Ini bukan cerita baru soal presiden yang tidak mau mendengar. Ini babak lanjutannya: bukan cuma tidak mau, tapi mungkin tidak lagi punya jalur yang bersih untuk mendengar, setelah cermin domestik disaring dan cermin luar berhenti di meja investor. Sama seperti arsitektur kepercayaan yang pernah retak di institusi lain, dan sama seperti alarm pasar yang sudah pernah berbunyi lebih dulu soal modal yang pergi diam-diam.
Saya tidak tahu jawabannya, dan saya kira tidak ada yang benar-benar tahu selain orang-orang di lingkaran terdekat istana. Tapi pertanyaannya tetap harus diajukan, sekeras foto anak yang digendong itu: apakah presiden sebelumnya, yang mengendorse pencalonan ini di depan publik, tahu bahwa lingkaran ini akan terbentuk seperti sekarang, ataukah ia sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ia titipkan kepada bangsa ini.
V. TIGA CERMIN LAIN YANG PERNAH DIABAIKAN
Indonesia bukan negara pertama yang cermin dari luar tidak sampai ke dalam. Riwayatnya ada, dan bobotnya berbeda-beda.
Sri Lanka mungkin yang paling dekat. Bertahun-tahun sebelum 2022, IMF dan ekonom internasional sudah memperingatkan defisit ganda dan cadangan devisa yang menipis di bawah pemerintahan Gotabaya Rajapaksa. Peringatan itu terus diabaikan sampai negara benar-benar kehabisan bahan bakar dan obat-obatan. Lingkaran keluarga yang mengelilingi presiden, disebut luas sebagai penyaring utama, baru pecah ketika rakyat sendiri yang menyerbu istana dan memaksanya kabur naik pesawat militer7.
Rumania di era Ceaușescu jauh lebih tua ceritanya, tapi pola dasarnya sama. Delegasi asing melaporkan ekonomi yang memburuk. Badan intelijen dalam negeri membangun citra bahwa semuanya terkendali. Empat hari sebelum digulingkan dan dieksekusi pada Desember 1989, ia masih tampil di depan publik dengan percaya diri yang sama sekali tidak berubah8.
Bukan setiap cermin yang diabaikan berakhir dengan kejatuhan. Liz Truss di Inggris hanya butuh empat puluh sembilan hari untuk membuktikan bahwa pasar bisa lebih cepat menghukum daripada kabinet mana pun bisa mendengar.
Saya masih tinggal di Inggris waktu itu. Yang saya ingat bukan angka-angka yang belakangan muncul di buku ekonomi, tapi nada obrolan yang berubah dalam hitungan hari. Kolega yang biasanya bicara pelan soal politik tiba-tiba berhenti kerja hanya untuk mengecek berita. Warung kopi dekat kantor jadi tempat orang saling tanya, dana pensiun aman atau tidak. Kepanikan itu tidak butuh siapa pun menjelaskan dengan istilah teknis. Semua orang di sekitar saya bisa merasakannya sebelum sempat memahaminya.
Kabinetnya mengabaikan peringatan Office for Budget Responsibility soal paket pemangkasan pajak tanpa penutup anggaran yang jelas. Pasar obligasi Inggris bereaksi dalam hitungan hari, bukan bulan. Ia mundur sebelum pemerintahannya sempat berumur dua bulan9.
Tiga skala yang berbeda. Satu soal keluarga yang mengelilingi presiden sampai rakyat sendiri turun ke istana. Satu soal aparat yang membangun ilusi sampai regu tembak. Satu soal pasar modern yang menghukum lebih cepat daripada demokrasi sempat bereaksi. Ketiganya berbagi satu ciri yang sama: peringatan itu ada, dan tersedia, jauh sebelum akibatnya sampai ke tangan rakyat yang tidak pernah diajak bicara.
Yang membedakan Indonesia hari ini bukan apakah polanya ada. Polanya sudah dikenali di tiga benua berbeda, dalam tiga dekade berbeda. Yang membedakannya adalah apakah kita masih di tahap pasar mulai menjauh, atau sudah lebih dekat ke tahap yang lain.
Wallahu a'lam bishshawab.
[2] CNBC Indonesia, mengutip Reuters, "Media Asing Tiba-Tiba Sorot Anggaran MBG RI", 25 Juni 2026
[3] Reuters Institute for the Study of Journalism, Digital News Report 2026, bagian Indonesia
[4] BGN.go.id, "Kepala BGN Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Prabowo", 25 Agustus 2025
[5] Kompas.com, "Prabowo Anugerahi Bintang Jasa Utama ke Kepala BGN Dadan Hindayana", 13 Februari 2026
[6] Warta Ekonomi, rincian dugaan Kejaksaan Agung soal pengadaan motor listrik fiktif BGN, 9 Juni 2026