Tulis
Kalimantanku · 29 Agustus 2026

Kalimantanku: Menunggu Awan

Dalam sepekan, Presiden turun langsung, para kepala staf disebar, 30 helikopter disiagakan, dan sebuah mandat mengalir lewat telepon. Republik ini terbukti bisa bergerak. Catatan pengawalan pertama: mengapa semua kapasitas itu baru dipakai setelah api, dan apa yang harus terjadi sebelum September.

Kalimantanku: Menunggu Awan

Sabtu, 22 Agustus, di Desa Limbung, Kubu Raya, Presiden Republik Indonesia menyalami satu per satu petugas pemadam yang wajahnya hitam oleh jelaga. Foto itu dirilis Biro Pers Istana dan menyebar cepat. Ia foto yang bagus. Saya menatapnya cukup lama, dan saya ingin memulai catatan ini dengan mengakui apa yang ada di dalamnya: seorang kepala negara yang datang sendiri ke titik api, dan orang-orang yang sudah berhari-hari berjibaku di lahan yang panas.

Lima hari sebelumnya saya menerbitkan esai tentang peta satelit malam: ratusan titik bara yang berhenti persis di garis perbatasan Sarawak. Di penutup esai itu saya berjanji, bersama pembaca, mengawal penanganan kebakaran ini sampai tuntas. Bukan untuk mencari kesalahan. Untuk mencatat apa yang berhasil, apa yang tidak, dan struktur mana yang hanya ada di atas kertas.

Ini catatan pengawalan pertama. Ia ditulis di hari-hari ketika seluruh republik akhirnya menatap Kalimantan, dan justru karena itu ia harus ditulis sekarang: perhatian adalah sumber daya paling langka dalam politik, dan ia sedang tersedia.

I. SEPEKAN KETIKA REPUBLIK BERGERAK

Catat dulu yang harus dicatat dengan adil.

Dalam satu pekan, Presiden terbang ke Pontianak, Palangka Raya, lalu memimpin rapat di Palembang. Panglima TNI dan Kapolri ditugaskan mengawasi Kalbar; KSAD dan Wakapolri di Kalteng; KSAL di Kalsel; Wakil Panglima di Kaltim. Seribu lima ratus prajurit dikerahkan.1 BNPB menyiagakan 30 helikopter untuk Kalimantan dan 22 untuk Sumatera.3 Di Palangka Raya, Presiden menyetujui langsung permintaan daerah: empat heli tambahan, seratus pompa air, dua ribu APD, sumur bor, selang, sampai cangkul gepyok.2 Pesawat asing diizinkan masuk untuk water bombing. Sekat kanal dan pembasahan disebut-sebut kembali dalam rapat-rapat.

Republik ini, ketika memutuskan bergerak, ternyata bisa bergerak cepat. Itu bukan berita buruk. Itu justru bukti yang akan penting di bagian akhir catatan ini: kapasitasnya ada. Yang selama ini tidak ada adalah keputusan untuk memakainya sebelum api.

II. ANGKA YANG TIDAK IKUT KONFERENSI PERS

Sekarang angka-angkanya, karena pengawalan tanpa angka hanyalah opini.

Per 21 Agustus, SIPONGI milik Kementerian Kehutanan mencatat 8.638 titik panas di Kalimantan: Kalbar 3.705, Kalteng 3.081, Kaltim 978, Kalsel 776, Kaltara 98. Satu kabupaten saja, Ketapang, menyumbang 1.749 titik.4

8.638 TITIK PANAS, 21 AGUSTUS

Data SIPONGI Kementerian Kehutanan. Sentuh batang untuk detail.

 

Di Kaltim, BMKG menghitung 11.869 titik panas sepanjang 1 sampai 21 Agustus, melampaui periode yang sama pada El Nino 2015, tahun yang selama ini kita pakai sebagai patokan bencana terburuk; kemarau musim ini, kata mereka, terasa lebih kering.5 Di Pontianak, indeks kualitas udara menyentuh 628, kategori Berbahaya, dengan PM2.5 mencapai 389,5 mikrogram per meter kubik,6 langit tengah hari berubah kuning-oranye oleh hamburan cahaya pada partikel asap,7 dan kasus ISPA naik sekitar sepuluh persen; padahal di kota itu sendiri nyaris tidak ada titik api, asapnya kiriman kabupaten tetangga.8 Di seberang garis negara, Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak menutup 509 sekolah dasar dan 82 sekolah menengah, 197 ribu siswa, karena udara yang dikirim angin dari sisi kita.4

Dan ini angka yang paling menentukan seluruh catatan ini: BMKG memperkirakan puncak kemarau El Nino di Kalimantan bukan Agustus. Puncaknya September sampai Oktober.5

Baca sekali lagi pelan-pelan. Seluruh mobilisasi yang dicatat di bagian satu terjadi pada Agustus. Musuhnya belum datang.

SEPEKAN YANG DICATAT SEJARAH

20 AguMatahari merah menggantung di Palangka Raya. Sarawak menutup 591 sekolah
21 AguSIPONGI: 8.638 titik panas se-Kalimantan
22 AguPresiden ke Kalbar dan Kalteng. Pukul 11.00 WITA, telepon Menhan ke seorang pengusaha
23 AguKabar penunjukan diluruskan. BNPB siagakan 30 helikopter
24 AguRapat Palembang: "Efektif?" "Efektif Pak." Ubi bombing lahir
25 AguKepala desa Tumbang Penyahuan memohon helikopter untuk hutan adat
27 AguBMKG: awan yang bisa disemai di Kalteng sangat minim. Di Pontianak, ribuan orang salat istisqa

III. RANTAI KOMANDO YANG DIRAKIT DI TEMPAT

Undang-Undang 24 Tahun 2007 memberi republik ini struktur komando bencana yang jelas, dengan BNPB di pusatnya. Sekarang perhatikan bagaimana komando pekan ini benar-benar mengalir.

Sabtu siang, sekitar pukul 11.00 WITA, seorang pengusaha di Kalimantan Selatan menerima telepon dari Menteri Pertahanan: mandat membantu penanganan karhutla Kalsel. Pukul 12.45 ia terbang dengan pesawat pribadinya; sorenya ia mengikuti rapat koordinasi di ruang VIP bandara, satu meja dengan KSAL, KSAU, gubernur, dan kapolda.9 Keesokan harinya kabar penunjukan itu harus diluruskan dan dijelaskan para pejabat; Mendagri menyebut partisipasi pihak luar wajar dalam keadaan darurat,10 sementara struktur resmi menempatkan KSAL bersama Astamaops Polri sebagai koordinator lapangan Kalsel.9 Lusanya, Kepala BNPB menjelaskan bahwa penambahan armada dilakukan sesuai arahan Presiden serta hasil koordinasi dengan Kementerian Pertahanan.3

Saya tidak sedang menilai orangnya; di catatan pengawalan, yang dinilai adalah kabelnya. Dan kabelnya telanjang: mandat lewat telepon, koreksi lewat konferensi pers, koordinasi bencana lewat kementerian yang undang-undangnya mengurus perang. Sementara kementerian yang namanya tertera pada hutan yang terbakar nyaris tidak muncul dalam narasi komando sepekan ini, sampai-sampai media harus bertanya ke Istana mengapa Menteri Kehutanan tidak tampak mendampingi Presiden memantau karhutla. Dan lembaga yang oleh undang-undang ditunjuk memegang komando datang ke medan perang ini dengan anggaran Rp491 miliar, terendah lima belas tahun.

Improvisasi dalam darurat bukan dosa; semua negara melakukannya. Yang menjadi soal adalah ketika improvisasi bukan pengecualian melainkan arsitektur, karena struktur yang dirancang undang-undang sudah lebih dulu dilucuti anggarannya. Orkestra ini bukan tidak punya partitur. Partiturnya disita, lalu semua orang diminta bermain dengan telinga.

IV. EFEKTIF, PAK

Senin, 24 Agustus, rapat Palembang. Kapolri melaporkan inovasi pemadam berbahan tepung singkong, temuan seorang Babinsa di Lubuklinggau. Laporan itu ditutup satu kalimat: "Itu efektif, Pak." Perintah turun hari itu juga: coba produksi skala besar, ajukan biaya untuk produksinya, kita usahakan semua upaya. Presiden menamainya, sambil berseloroh, ubi bombing.11 BRIN dan BNPB diminta mengkaji, dan permintaan kajian itu patut diapresiasi; yang membuat saya berhenti adalah urutannya: anggaran berjalan lebih dulu, validasi menyusul.

Supaya adil, saya ringkas sains tepung ini: gel pati untuk api permukaan tahap awal itu masuk akal, dan Babinsa penemunya layak dihormati. Tapi api gambut membara di bawah tanah, dan untuk jenis api itu jawabannya sudah terbit di International Journal of Wildland Fire tahun 2021: pemadaman gambut bekerja termal, butuh sekitar 5,7 liter cairan per kilogram gambut, dan yang mempercepatnya bukan pengental melainkan wetting agent, zat yang membuat air meresap.12 Penulis pertama studi itu peneliti Indonesia di Imperial College London, Muhammad Agung Santoso. Di deretan penulisnya ada guru besar Universitas Indonesia, Yulianto S. Nugroho. Di kolom pendanaannya tertulis Indonesia Endowment Fund for Education. LPDP.

Republik ini sudah membayar jawabannya sendiri, atas nama anak-anaknya sendiri. Yang sampai ke meja rapat adalah anekdot, dan standar pembuktiannya dua kata.

Bagi pembaca lama, pola ini punya nama di ruangan ini: laporan yang baik. Laporan yang menyenangkan pendengarnya selalu bergerak lebih cepat daripada laporan yang benar.

Dan inilah aritmetika yang menunggu di ujung semua laporan baik itu. Helikopter di Kalsel telah melakukan 243 kali pengeboman air dalam sekitar sebulan,13 kira-kira 4.000 liter sekali jatuh: total di bawah satu juta liter. Kebutuhan fisika untuk satu hektare gambut dalam, dengan asumsi yang saya nyatakan terbuka di tulisan sebelumnya: di atas satu juta liter. Sebulan kampanye udara, satu hektare hitungan fisika. Luas terbakar Kalsel: 6.900 hektare.14 Heli-heli itu tetap menyelamatkan banyak titik api permukaan, dan kepala desa di Kotawaringin Timur yang pekan ini memohon bantuan helikopter untuk hutan adatnya tahu persis nilainya.15 Tapi tidak ada jumlah sorti yang bisa mengalahkan pembagian sederhana itu. Untuk gambut dalam, air harus sudah ada di tanah sebelum apinya lahir.

V. MENUNGGU AWAN

Maka kita sampai pada instrumen utama negara musim ini, dan pada kalimat paling jujur yang diucapkan seorang pejabat pekan ini.

Posko modifikasi cuaca berdiri di mana-mana: Pontianak menyemai 23 sampai 27 Agustus, Palembang 22 sampai 26, Berau 24 sampai 28.16 Di IKN, operasi 22 sampai 27 Agustus berhasil menurunkan hujan di sekitar Waduk Sepaku dua hari berturut-turut;17 catat, keberhasilan pertama yang dilaporkan adalah untuk waduk ibu kota baru. Lalu untuk Kalimantan Tengah, provinsi dengan gambut paling luas dan api paling dalam, BMKG menyampaikan dengan bahasa yang teknis dan karena itu tak terbantah: kondisi cuaca masih didominasi kering, pertumbuhan awan hujan terbatas, peluang operasi modifikasi cuaca dalam waktu dekat sangat minim.18

Di situlah seluruh strategi musim ini telanjang. Modifikasi cuaca tidak menciptakan hujan; ia hanya mempercepat awan yang sudah ada. Ketika kemarau benar-benar dalam, justru di saat api paling membutuhkannya, awannya tidak ada yang bisa disemai. Instrumen andalan republik ini, pada titik krisis tertingginya, adalah menunggu.

Sarawak, di seberang garis yang sama, tidak menunggu apa pun dari langit. Airnya disimpan di tempat yang tidak bisa diuapkan El Nino: di dalam tanah, dijaga oleh angka muka air dan ambang yang memicu tindakan. Dua negara menghadapi langit yang sama. Satu menyimpan airnya di tanah, satu menunggunya dari awan.

VI. TAGIHAN UNTUK SEBUAH MILESTONE

Sekarang bagian yang menjadi alasan catatan ini ditulis.

Momen seperti pekan ini langka dan mahal: Presiden turun langsung, seluruh aparat bergerak, publik menatap, dan September belum datang. Perhatian sebesar ini biasanya hanya menghasilkan dua kemungkinan: dokumentasi heroisme yang dilupakan begitu hujan turun, atau titik balik. Yang membedakan keduanya bukan besarnya api, melainkan apakah ada yang menagih perubahan sistemik selagi semua orang masih menonton.

Maka ini tagihannya, lima butir, semuanya bisa dimulai tahun anggaran ini:

Pertama, jadikan penutupan kanal eks-PLG proyek strategis nasional. Kanal 1995 itu adalah satu-satunya infrastruktur di republik ini yang bekerja penuh selama tiga puluh tahun tanpa pernah dianggarkan pemeliharaannya, dan hasil kerjanya adalah kemarau api setiap empat tahun. Sekat kanal dan pembasahan punya angka pengembalian yang sudah diaudit: restorasi gambut terbukti menurunkan kebakaran 29,59 persen.

Kedua, hidupkan kembali fungsi restorasi gambut dengan anggaran penuh, apa pun nama lembaganya. Republik boleh membubarkan badan; ia tidak boleh membubarkan fungsi, dan sejak Desember 2024 fungsi itu yatim.

Ketiga, kabelkan alarm ke tindakan. SIPONGI sudah menghitung sampai satuan; yang belum ada adalah ambang yang memicu konsekuensi otomatis, seperti larangan bakar total Sarawak yang menyala sendiri ketika indeks melewati 100. Deteksi yang bermuara ke siaran pers bukan sistem peringatan; ia sistem pengumuman.

Keempat, tagih konsesi. Analisis WALHI menempatkan 74 persen titik panas Kalimantan di dalam kawasan konsesi perusahaan, dengan nama-nama konsesi yang sudah disebut terbuka.19 Kementerian Kehutanan sudah memeriksa beberapa di antaranya. Umumkan hasilnya, lengkap dengan sanksi dan nilai tagihannya, selagi publik masih menatap; kredibilitas penegakan dibangun di saat terang, bukan di saat sepi.

Kelima, baca sains yang sudah dibayar. Uji wetting agent di lapangan bersama BRIN dan Universitas Indonesia; timnya sudah ada, orangnya orang kita, papernya terbit sejak 2021. Biayanya lebih kecil dari satu hari operasi udara.

LIMA TAGIHAN PENGAWALAN

Sentuh untuk menandai. Daftar ini akan diaudit ulang di catatan pengawalan berikutnya.

Penutupan kanal eks-PLG jadi proyek strategis nasional
Fungsi restorasi gambut hidup lagi, dengan anggaran
Ambang SIPONGI memicu tindakan otomatis
Hasil pemeriksaan konsesi diumumkan beserta sanksi
Wetting agent diuji lapangan bersama BRIN dan UI

Kelima butir ini bersama-sama lebih murah daripada selisih dua putaran pemangkasan satu program makan siang. Ini bukan daftar permintaan aktivis. Ini belanja modal dengan pengembalian yang bisa dihitung, diajukan pada momen ketika satu-satunya orang yang bisa menandatanganinya sedang berdiri di lahan gambut, menyalami petugas yang wajahnya hitam oleh jelaga.

PENUTUP

Di Kubu Raya, foto itu masih beredar: Presiden menyalami pemadam berwajah jelaga. Di Kotawaringin Timur, seorang kepala desa masih menunggu helikopter. Di Pontianak, di bawah langit yang berwarna oranye pada tengah hari bolong, ribuan orang menggelar salat istisqa, meminta dari langit apa yang tidak bisa mereka minta dari negara.6 Dan di Palangka Raya, langit masih menolak menumbuhkan awan.

Sementara di Jakarta, negara menunggu hujan yang sama, untuk keperluan yang berbeda: mengumumkan bahwa krisis sudah "terkendali". Bukan karena apinya padam, melainkan karena kameranya sudah pulang.

Harus diakui dengan hormat, republik ini ahli dalam satu kerajinan: merakit kehadiran. Pesawat, helikopter, rapat, foto, ubi bombing, dan dua kata yang bisa menyelesaikan rapat mana pun: "Efektif, Pak." Kerajinan yang belum dikuasainya adalah merakit yang tidak bisa difoto. Kanal yang ditutup sebelum kemarau. Muka air yang dijaga sebelum bara. Sanksi konsesi yang diumumkan selagi publik masih menatap. Sains yang sudah dibayar dan ditulis anak-anaknya sendiri lima tahun lalu, dan sampai hari ini belum dibaca.

Maka pertanyaan penutup catatan pengawalan pertama ini sederhana, dan justru karena sederhana ia pedas. Kalau kapasitasnya ada, kenapa baru dipakai setelah jelaga menempel di wajah petugas? Kalau undang-undang komandonya ada, kenapa komando dirakit di ruang VIP bandara lewat sambungan telepon? Kalau puncaknya belum datang, apa persisnya yang sedang dirayakan, selain keberhasilan untuk tampil?

September akan menjawab semuanya dengan caranya sendiri, dan September tidak menggelar konferensi pers.

Yang tersisa adalah satu pilihan, di jendela yang pendek ini: menyimpan air di tanah, atau meneruskan tiga mata anggaran andalan musim ini, menyewa awan, meminjam pengusaha, dan berharap tepung singkong berlari lebih cepat dari fisika.

Foto di Limbung itu sudah bagus. Yang belum bagus adalah apa yang terjadi setelah lampu istana padam.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] TangselXpress, Prabowo Kerahkan 1.500 Prajurit dan 6 Helikopter untuk Atasi Karhutla Kalimantan, 23 Agustus 2026

[2] Antara, Presiden tambah helikopter water bombing penanganan karhutla Kalteng, 22 Agustus 2026

[3] detikNews, BNPB Sebut Titik Panas Karhutla di Kalimantan Meningkat, 23 Agustus 2026

[4] Kompas.id, Melihat Data Titik Panas dan Karhutla di Kalimantan yang Kian Mengkhawatirkan, 25 Agustus 2026

[5] Media Indonesia, BMKG Deteksi 11.869 Titik Panas di Kaltim, 22 Agustus 2026

[6] Pontianak Info, Asap Pekat Selimuti Pontianak, Kualitas Udara Memburuk hingga Kategori Berbahaya, 29 Agustus 2026

[7] RRI, Kenapa Langit Pontianak di Siang Hari Berubah Kuning saat Kabut Asap, 28 Agustus 2026

[8] Kompas.com, Pontianak Diselimuti Kabut Asap, Berasal dari Karhutla di Daerah Tetangga, 28 Agustus 2026

[9] Monitor Indonesia, Haji Isam Makin Berpengaruh di Kalsel, Kini Dapat Mandat Prabowo, 22 Agustus 2026

[10] Suara.com, Mendagri Jawab Isu Haji Isam Koordinir Karhutla Kalsel, 23 Agustus 2026

[11] CNN Indonesia, Prabowo Mau Produksi Massal Teknologi Tepung Ubi Padamkan Karhutla, 24 Agustus 2026

[12] Santoso, Cui, Amin, Christensen, Nugroho, Rein, Laboratory study on the suppression of smouldering peat wildfires, International Journal of Wildland Fire, 2021

[13] Antara, BNPB operasikan empat helikopter water bombing atasi karhutla di Kalsel, 24 Agustus 2026

[14] Media Center Kalsel, Tiga Helikopter Water Bombing Perkuat Pengendalian Karhutla Kalsel, 22 Agustus 2026

[15] Berita Sampit, Karhutla Merambah Hutan Adat Bukit Santuai, Desak Bantuan Helikopter, 25 Agustus 2026

[16] CNBC Indonesia, Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, BMKG-BNPB Lakukan Modifikasi Cuaca, 25 Agustus 2026

[17] Liputan6, Strategi BMKG Atasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan Kaltim, 28 Agustus 2026

[18] Media Indonesia, Pemerintah Optimalkan Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla di Kalimantan, 24 Agustus 2026

[19] WALHI, Kalimantan Darurat Asap: Pemerintah Harus Koreksi Tata Kelola Perizinan, Juli 2026