Tulis
· 20 Agustus 2026

Yang Tidak Pernah Saya Bayar

Sepuluh tahun tahun, empat anak, sekolah di Inggris. Nol pound. Republik ini mengalokasikan Rp769 triliun untuk pendidikan, dan orang tua di depan gerbang sekolah negeri masih menghitung uang seragam. Catatan seorang ayah tentang pajak, anggaran, dan negeri yang berani mengukur dirinya.

Yang Tidak Pernah Saya Bayar

Di tembok itu ada burung elang bersayap terbuka, angka 1912, dan dua kata Latin: Ad Astra. Menuju bintang. Agak ke kanan bawah ada lampu dinding yang catnya sudah menguning.

Kami bertiga berdiri di situ sore itu. UniR di kiri, memegang kunci mobil dengan gantungan yang entah kenapa selalu ada di tangannya. AdekN di tengah, botol minum bergambar beruang kecil. Saya di kanan, tangan di saku, mencoba tidak terlihat terlalu bangga.

Ini batch terakhir dari empat anak saya. Setelah ini tidak ada lagi foto di depan gerbang sekolah.

Dan sore itu, dalam perjalanan pulang, saya menghitung sesuatu yang tidak pernah saya hitung sebelumnya. Bukan biaya. Justru sebaliknya.

I. PERHITUNGAN SEORANG AYAH

Tahun 2006 saya pindah ke Singapura. Anak saya bertambah dua di sana, jadi empat. Dan naluri yang muncul pertama bukan haru. Naluri yang muncul adalah aritmatika.

Empat anak. Sekolah sampai universitas. Berapa?

Di Singapura saya Permanent Resident, bukan warga negara, dan perbedaan itu bukan soal simbol. Anak warga negara Singapura tidak membayar SPP bulanan di sekolah dasar negeri, dan hanya S$5 sebulan di sekolah menengah.1 Untuk PR, angkanya jauh berbeda.

VISUALISASI

Enam Tahun Sekolah, Satu Anak

Total biaya sekolah menengah (4 tahun) ditambah pra-universitas (2 tahun), per anak. Ketuk untuk melihat rinciannya.

Warga negara Singapura

S$1.992

Permanent Resident Singapura

S$39.528

Sekolah negeri Inggris

£0

Ketuk salah satu batang di atas.

Sumber: MOE Singapura dan kompilasi tarif PR 2024 sampai 2026. Angka Inggris berlaku untuk sekolah negeri, tidak termasuk seragam dan kebutuhan pribadi.

Lalu universitasnya. Tiga kampus besar, itu saja. Dan saya cukup jujur pada diri sendiri untuk mengakui: anak-anak saya bagus, tapi bukan jenius. Tidak ada jaminan mereka lolos, apalagi bertahan.

Jadi saya memilih Inggris. Pajak lebih tinggi. Cuaca lebih buruk. Dan satu hal yang waktu itu belum sepenuhnya saya pahami konsekuensinya.

II. NOL POUND

Dari primary sampai A Level, saya tidak pernah mengeluarkan satu pound pun untuk sekolah anak-anak saya.

Bukan diskon. Bukan beasiswa. Bukan potongan karena penghasilan tertentu. Nol.

Tidak ada uang pangkal. Tidak ada uang gedung. Tidak ada uang pembangunan yang dibungkus istilah sumbangan. Tidak ada amplop di awal tahun ajaran. Tidak ada rapat komite yang ujungnya nominal sudah ditentukan lalu disebut sukarela.

Tiga belas tahun. Empat anak. Nol.

Saya tidak pernah menyimpan kwitansinya karena kwitansinya tidak pernah ada.

Dan sekarang UniR masuk King's College London. Home fee untuk mahasiswa yang mulai September 2026 adalah £9.790.3 Untuk mahasiswa internasional di jurusan yang sama, sekitar £35.800 setahun.4 Anak saya membayar seperempatnya, dan bahkan itu pun tidak dibayar di muka.

III. PAJAK YANG TIDAK TERASA

Selama dua puluh tahun saya membangun sistem untuk institusi publik. Salah satu hal pertama yang Anda pelajari di pekerjaan ini: uang yang masuk dan nilai yang keluar hampir tidak pernah terhubung secara langsung di mata orang yang membayar.

Pajak Inggris tinggi. Saya merasakannya setiap bulan di payslip.

Tapi saya berhenti menganggapnya sebagai beban sejak saya menyadari struktur sebenarnya: itu bukan pajak, itu tabungan pendidikan yang dipotong otomatis dan dikelola negara. Saya tidak punya pilihan untuk tidak menabung. Dan hasilnya keluar tanpa saya harus mengajukan permohonan.

Pinjaman kuliahnya pun dirancang, bukan sekadar disediakan. Cicilan dimulai hanya jika penghasilan melewati sekitar £25.000 setahun, sebesar 9 persen dari kelebihan di atas ambang itu, dengan bunga hanya sebesar RPI tanpa margin tambahan. Sisa saldo diputihkan 40 tahun setelah April pertama seseorang wajib membayar.5 Kalau penghasilan turun, cicilan berhenti sendiri. Tidak ada penagih.

Empat puluh tahun, bukan tiga puluh. Angka itu penting karena artinya UniR bisa jadi mencicil sampai usia enam puluhan. Pemerintah memperkirakan sekitar 56 persen peminjam skema ini akan melunasi penuh, naik tajam dari skema sebelumnya.5

Ini bukan hadiah. Ini kontrak. Tapi kontraknya ditulis dengan asumsi bahwa yang menandatangani bisa gagal, dan negara sudah menyiapkan apa yang terjadi kalau dia gagal. Cara sebuah negara memperlakukan pendidikan sebagai pos anggaran, apakah ia belanja yang bisa ditunda atau investasi yang tidak boleh dipotong, terbaca justru dari klausul kegagalannya.

IV. TETANGGA SEBELAH SAYA

Kepala keluarga di rumah sebelah saya bekerja serabutan. Saya tidak pernah tahu persis apa pekerjaannya bulan ini karena berubah-ubah.

Anak-anaknya masuk sekolah yang sama dengan anak saya. Bukan sekolah untuk anak seperti mereka. Sekolah yang sama, gedung yang sama, guru yang sama, ujian yang sama.

Kalau salah satu dari mereka sakit, mereka ke rumah sakit yang sama dengan saya. Keluar tanpa melewati kasir.

Ini yang paling sulit saya jelaskan ke teman-teman di Indonesia, dan saya belum menemukan cara yang tidak terdengar seperti sedang membanggakan diri. Bahwa di negara ini, keberuntungan finansial saya tidak membeli anak saya tempat yang lebih baik di antrean. Dan ketidakberuntungan tetangga saya tidak melempar anaknya ke belakang.

Anak kedua saya sekarang sedang studi untuk jadi guru sekolah menengah. Saya tidak pernah menyuruhnya. Saya juga tidak pernah bertanya kenapa.

V. YANG TIDAK SAYA CERITAKAN

Sekarang bagian yang biasanya dilewati orang ketika memuji negara lain.

Inggris tidak punya surplus guru. Sebaliknya. Untuk hampir semua dari sepuluh tahun terakhir, Kementerian Pendidikan gagal memenuhi target rekrutmen calon guru sekolah menengah, dengan capaian antara 48 dan 87 persen dari target.6 Untuk tahun ajaran 2025/26 capaiannya 11 persen di bawah target, dan itu justru performa terbaik dalam empat tahun.7

NHS juga bukan gratis sepenuhnya. Di England ada biaya resep obat dan biaya dokter gigi. Antrean untuk sebagian prosedur panjang, dan orang mengeluh soal itu setiap hari.

Dan Inggris bukan negara tanpa korupsi. Pengadaan alat kesehatan masa pandemi masih jadi skandal yang belum selesai dibereskan sampai sekarang.

Jadi apa yang sebenarnya saya kagumi?

Bukan kesempurnaannya. Yang saya kagumi adalah bahwa kekurangan guru itu punya angka. Punya target. Punya laporan tahunan yang terbit setiap Maret, dibaca parlemen, dan dipakai untuk mengubah anggaran beasiswa pelatihan guru tahun berikutnya. Sistem yang tahu dirinya sedang gagal, dan mengukur kegagalan itu di depan publik.

Itu bukan soal uangnya lebih banyak. Itu soal alarmnya menyala.

VI. DUA PULUH PERSEN ITU

Sekarang mari kita bandingkan dengan angka Indonesia, dan angkanya tidak kecil.

Anggaran pendidikan dalam APBN 2026 adalah Rp769,09 triliun.8 Presiden menyebutnya terbesar sepanjang sejarah republik. Secara nominal, itu benar.

Lalu perhatikan ke mana perginya.

VISUALISASI

Ke Mana Rp769,09 Triliun Pergi

Anggaran fungsi pendidikan APBN 2026 menurut Perpres 118/2025. Ketuk tiap segmen.

Badan Gizi Nasional, Rp223,56 T

Belanja pusat lainnya, Rp246,90 T

Transfer ke Daerah, Rp264,62 T

Pembiayaan, Rp34,00 T

Ketuk salah satu segmen di atas.

Sumber: Perpres Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2026.

Alokasi terbesar per lembaga jatuh ke Badan Gizi Nasional selaku pelaksana Makan Bergizi Gratis, senilai Rp223,56 triliun atau 29 persen dari total anggaran pendidikan.8 Ke mana perginya uang itu, dan siapa yang mengawasi jalannya, sudah saya tulis sebelumnya dalam MBG, DPR ke Mana.

INFID menghitung bahwa dengan MBG dikeluarkan, anggaran pendidikan riil tinggal sekitar Rp546 triliun, atau hanya 14,2 persen dari total belanja negara, di bawah mandat konstitusional 20 persen.9

Dan pada 30 Juli 2026, Mahkamah Konstitusi setuju. Dalam Putusan Nomor 40/PUU-XXIV/2026, Mahkamah menegaskan bahwa alokasi 20 persen dimaksudkan untuk komponen utama pendidikan: peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, kurikulum, serta evaluasi dan pengembangan pendidikan. Pembiayaan komponen utama tersebut, kata Mahkamah, tidak termasuk pembiayaan untuk program MBG.10

Putusan itu ada. Sudah dibacakan. Sudah punya nomor.

Sementara itu, di depan gerbang sekolah negeri di Indonesia setiap Juli, orang tua tetap mengeluarkan uang. Secara formal tidak ada lagi SPP bulanan di sekolah negeri, tapi definisi gratis jadi kabur ketika seragam, atribut, dan sumbangan komite yang nominalnya sudah ditentukan tetap harus dibayar.11

Republik ini mengalokasikan Rp769 triliun untuk pendidikan, dan tetangga saya di Bandung masih menghitung uang seragam.

Di tembok itu masih ada elang dan dua kata Latin. Ad Astra. Menuju bintang.

Tapi bintang tidak datang sendiri. Ia menanti negeri yang berani mengubah pajak menjadi janji, anggaran menjadi hak, dan kegagalan menjadi angka yang dibaca bersama.

Indonesia Emas bukan soal angka triliun yang lebih besar. Ia adalah negeri di mana setiap anak berdiri di gerbang yang sama, tanpa amplop, tanpa antrean berbeda, dan tanpa ayah yang harus menghitung ketakutan.

Hanya negeri yang berani mengukur dirinya sendiri yang akan sampai ke bintang.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] Ministry of Education Singapore, Revised School Fees for Non-Citizens in Government and Government-Aided Schools for 2024 to 2026, 18 Oktober 2023

[2] E&H Immigration, How Much PR Saves on Singapore School Fees

[3] King's College London, Undergraduate tuition fees

[4] Kompilasi biaya BSc Biochemistry King's College London untuk mahasiswa internasional

[5] Save the Student, Student Loan Repayment Guide 2026

[6] National Audit Office, Teacher workforce: secondary and further education, April 2025

[7] NFER, Teacher recruitment and retention improving but shortages persist in some subjects, Maret 2026

[8] Databoks Katadata, Alokasi Anggaran Pendidikan 2026, Terbesar untuk BGN

[9] INFID, APBN 2026 Melanggar Konstitusi, Mengurangi Anggaran Pendidikan, dan Memperdalam Ketimpangan

[10] Kompas, Melihat Komponen Anggaran Pendidikan 2026 yang Capai Rp769 Triliun, 30 Juli 2026

[11] UPM FISIP ULM, Apakah Sekolah Negeri Masih Layak Disebut Gratis?