Cermin tidak berdebat. Ia tidak membela diri dan tidak menghibur. Ia hanya menampakkan apa yang berdiri di depannya, dan membiarkan yang bercermin memutuskan sendiri apa yang mau ia lakukan dengan itu.
Monograf ini menaruh Indonesia di depan beberapa cermin. Sebuah kota nelayan yang dalam empat puluh tahun menjadi pabrik dunia. Sebuah negara yang di 1965 pendapatan per kepalanya hanya dua kali kita, dan hari ini delapan kali. Negara-negara lain yang memulai dari kekalahan, dari kemiskinan, dari nol, dan membangun sesuatu yang bertahan melewati pergantian pemimpin.
Tidak satu pun dari mereka lebih pintar dari kita. Tidak satu pun punya bahan yang lebih baik. Yang berbeda adalah apa yang negara mereka lakukan dengan bahan itu: urutan, standar yang diumumkan, akibat yang ditagih. Setiap bab membaca satu negara. Bab terakhir membaca kita.
Setiap cermin punya retak, dan retaknya ditulis di esai yang sama, bukan di catatan kaki. Ini bukan monograf tentang meniru. Ini monograf tentang berani melihat.
Urutan di Cina. Standar dengan akibat di Korea. Ukuran di tangan yang menanggung rugi di Jerman. Diagnosis sebelum program di Vietnam. Titipan yang bisa dilihat pemiliknya di Estonia dan Botswana. Di Indonesia kelimanya belum tersambung ke uang. Esai terakhir tinggal menunjuk siapa yang bisa menyambungkannya besok pagi.
Cara baca. Esai 0 adalah diagnosis. Esai 1 sampai 5 adalah cermin. Esai 6 adalah tombol.
Cermin boleh dibaca tidak urut. Tombol dibaca terakhir.
Siapa yang hanya punya satu jam: baca 0, Korea, Botswana, lalu penutup.