Tulis
Arsip
Tema
Monograf Indonesiaku
1
Indonesia: Tombol yang Belum Dipasang
Republik ini sudah punya alat ukur dan sudah punya uang. Sambungan di antara keduanya tidak pernah dipasang. Pintu konstitusi dibuka lagi pada September 2026, dan esai penutup monograf Indonesiaku memetakan siapa yang bisa memasangnya tanpa undang-undang baru, dan berapa lama semestinya.
30 menit
2
Indonesia: Negara Yang Belum Menuang Fondasinya
Program yang alasannya stunting memberi makan 48 juta anak sekolah dan 900 ribu ibu hamil. Ini esai tentang cara berpikir yang membiarkan jarak itu terbentang, dan tentang fondasi yang belum pernah dikunci pada ukuran yang memaksa. Mukaddimah Monograf Indonesiaku.
21 menit
3
Estonia dan Botswana: Negara Yang Membangun dari Amanah
Dua negara kecil, data warga di satu dan berlian di yang lain, membuat keputusan yang sama: apa yang dipegang negara harus bisa dilihat pemiliknya. Kita menyebutnya amanah, mengucapkannya di setiap sumpah jabatan, dan berhenti di kata. Cermin kelima Monograf Indonesiaku.
16 menit
4
Vietnam: Negara Yang Membangun dari Pelabuhan
Vietnam belajar dari kelaparan 1986 bahwa negara tidak perlu memegang untuk memiliki. Ekspornya kini 475 miliar dolar, dengan penduduk sepertiga Indonesia. Kita menutup pelabuhan untuk merasa berdaulat. Cermin keempat monograf Indonesiaku.
24 menit
5
Jerman: Negara Yang Membangun dari Tukang
Jerman kehilangan mesinnya pada 1946 dan tetap punya tukang. Indonesia punya mesin di setiap SMK, dan lulusan SMK justru yang paling sulit dapat kerja: 8,63 persen, tertinggi dari semua jenjang. Bentuknya kita tiru teliti, prasyaratnya tertinggal di pelabuhan. Cermin ketiga monograf Indonesiaku.
16 menit
6
Korsel: Negara Yang Membangun dari Malu
Di 1965, pendapatan per kepala Korea dua kali Indonesia. Hari ini delapan kali. Esai ini bukan soal angkanya. Ini soal dua bangsa yang sama-sama punya rasa malu, dan hanya satu yang menjadikannya standar publik dengan akibat yang ditagih. Cermin kedua monograf Indonesiaku.
12 menit
7
Cina: Negara Yang Membangun Seperti Arsitek
Tahun 1979, kota ini berpenduduk 30.000 jiwa. Empat puluh tahun kemudian, hampir semua smartphone di saku Anda pernah melewati tangannya. Bukan keajaiban. Ini hasil urutan yang benar dan feedback loop yang jujur. Cermin pertama monograf Indonesiaku.
8 menit