Tulis
Indonesiaku: Cermin Yang Tak Bisa Berbohong · 10 September 2026

Indonesia: Negara Yang Belum Menuang Fondasinya

Program yang alasannya stunting memberi makan 48 juta anak sekolah dan 900 ribu ibu hamil. Ini esai tentang cara berpikir yang membiarkan jarak itu terbentang, dan tentang fondasi yang belum pernah dikunci pada ukuran yang memaksa. Mukaddimah Monograf Indonesiaku.

Ilustrasi marker: lubang galian fondasi dengan besi tulangan berkarat, truk mixer beton di tepinya dengan drum yang masih berputar, tanpa pekerja.

Dokumen itu bernama Petunjuk Teknis Nomor 401.1 Tahun 2025, diterbitkan Badan Gizi Nasional untuk mengatur cara kerja dapur-dapur Makan Bergizi Gratis. Latar belakangnya dibuka dengan satu kalimat tentang tingginya angka stunting dan gizi buruk di Indonesia, dan tentang jutaan anak yang terhambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya.1 Itu alasan yang ditulis negara sendiri, di dokumen operasionalnya sendiri.

Stunting terbentuk sebelum seorang anak berusia dua tahun. Seribu hari pertama, dari kandungan sampai ulang tahun kedua, dan setelah itu jendelanya tertutup. Survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat 19,8 persen balita stunting; di kelompok termiskin, 29,8 persen.2

Per 1 Juni 2026, dari 62,96 juta penerima manfaat program itu, 901.163 adalah ibu hamil.3 Guru dan tenaga pendidik yang menerima makan siang berjumlah 4,33 juta, lebih banyak daripada ibu hamil dan ibu menyusui digabung.3

Ini esai tentang jarak antara kalimat pertama dan angka ketiga. Tentang bagaimana jarak sejauh itu bisa terbentang dalam satu program, di bawah satu lembaga, dengan satu alasan yang tertulis di dokumen resminya, dan alat yang akhirnya berbunyi datang terlambat dan dari luar sistem anggaran: sebuah keterangan resmi pada bulan keenam belas, dan sebuah putusan pengadilan. Ini bukan esai tentang MBG. Tulis sudah menulis tentang pengawasan yang tidak hadir dan titik dapur yang diperjualbelikan. Ini esai tentang cara berpikir yang membiarkan MBG menjadi seperti ini, dan yang sudah membiarkan hal yang sama terjadi pada program-program sebelumnya, di bawah presiden-presiden sebelumnya. MBG hanya kasus yang sedang berlangsung dan bisa dibaca sampai ke tulangnya.

Lima esai setelah ini mengunjungi lima negara yang pernah punya cara berpikir yang sama, dan menggantinya. Esai ini menjelaskan apa yang harus diganti.

I. MASALAH YANG DINYATAKAN

↑ kembali ke daftar isi

Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 membentuk Badan Gizi Nasional dan memberinya satu tugas: pemenuhan gizi nasional. Pasal 5 menyebut siapa yang menjadi sasaran: anak usia sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.4 Empat kelompok, ditulis dalam satu ayat, tanpa urutan prioritas.

Situs resmi percepatan penurunan stunting memposisikan MBG sebagai intervensi gizi untuk kelompok rentan stunting.5 Petunjuk teknis BGN membuka dengan stunting. Presiden, di forum-forum internasional sejak pidato G20 pertamanya, menyebut program ini sebagai jawaban Indonesia atas kelaparan dan gizi anak; Tulis sudah mencatat urutan podium itu dan apa yang terjadi di dalam negeri pada tanggal yang sama.

Bagian ini hanya mencatat apa yang diumumkan, supaya bagian berikutnya punya ukuran. Kalau alasannya stunting, maka ukurannya adalah stunting: prevalensinya, jendela seribu harinya, dan siapa yang berada di dalam jendela itu. Negara sendiri yang memilih ukuran ini. Kita tinggal memakainya.

II. SASARAN YANG MELEBAR

↑ kembali ke daftar isi

Data BGN per 1 Juni 2026, dibaca apa adanya.3

Peserta didik: 48.190.030. Balita: 6.716.739. Ibu menyusui: 2.181.024. Ibu hamil: 901.163. Santri: 648.758. Guru dan tenaga pendidik: 4.327.002.

Ibu hamil adalah 1,4 persen dari penerima. Ibu hamil dan balita digabung, kelompok yang berada di dalam atau di ambang jendela seribu hari, sekitar 12 persen. Sisanya, hampir sembilan dari sepuluh penerima, adalah orang yang jendelanya sudah tertutup bertahun-tahun lalu. Seorang siswa SMA menerima makan siang yang alasannya mencegah stunting yang, kalau ia mengalaminya, sudah terbentuk empat belas tahun sebelumnya.

Cakupan menceritakan hal yang sama dari sisi lain. Terhadap data induk, peserta didik yang terjangkau 76,1 persen; balita 37,7 persen; ibu hamil 35,3 persen.6 Kelompok yang paling menentukan justru yang cakupannya paling rendah. Pada Mei 2026 BGN sendiri mengakui selisih itu: penerima dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita baru sekitar sembilan juta, sementara data Kementerian Kesehatan mencatat 22 sampai 26 juta orang di kelompok itu.7 Dapur-dapur diberi dua minggu untuk menambah, atau dihentikan sementara.7 Enam belas bulan setelah program dimulai, sasaran yang tertulis di kalimat pertama juknis baru diperintahkan untuk dicari.

Sembilan Ratus Ribu Dari Enam Puluh Tiga Juta

Kelompok yang menentukan stunting adalah batang terpendek. Sumber: BGN per 1 Juni 2026 [3].

Lalu datang pembenaran, dan pembenaran itu dicatat dari yang diucapkan, bukan dari yang saya sangka. Mereka juga lapar. Program ini menggerakkan ekonomi daerah; BGN mencatat 142.387 pemasok, 59.921 di antaranya usaha mikro, kecil, dan menengah.6 Keduanya mungkin benar. Anak SMA memang bisa lapar, dan dapur memang membeli beras dari pemasok setempat. Yang tidak bisa dibantah hanya satu hal: keduanya bukan alasan yang dipakai untuk meminta anggaran. Alasan yang dipakai adalah stunting. Ketika ukurannya ternyata tidak cocok, yang diganti ukurannya.

Tujuan diganti di tengah jalan, dan pembenaran dicari mundur.

Ada alasan lain yang sah untuk memberi makan anak sekolah; literatur dunia mencatatnya: kehadiran, perhatian di kelas, tambahan penghasilan tidak langsung bagi rumah tangga miskin. Kalau itu alasannya, tuliskan itu di halaman satu, ukur itu, dan jangan bawa stunting ke podium. Yang disempitkan esai ini bukan programnya. Yang disempitkan adalah ukuran yang berganti-ganti.

Yang bisa disimpulkan dari angka-angka ini hanya ini: kelompok yang paling menentukan adalah kelompok yang paling tidak terlihat. Seorang ibu hamil di trimester pertama tidak berkumpul di satu tempat setiap pagi, tidak berbaris, tidak bisa dihitung dari pintu gerbang. Anak sekolah bisa. Saya tidak tahu apakah itu alasan pergeserannya. Saya hanya tahu pergeserannya mengikuti arah yang persis sama dengan arah yang paling mudah difoto.

III. DAPUR DI SAMPING KANTIN

↑ kembali ke daftar isi

Kantin sekolah sudah ada sebelum saya lahir. Yang lebih penting: negara sudah mengurusnya selama lima belas tahun sebelum dapur MBG pertama dibangun.

Pada 31 Januari 2011 Wakil Presiden mencanangkan Gerakan Nasional Menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu dan Bergizi. Badan POM menindaklanjutinya dengan rencana aksi nasional: mobil laboratorium ke sekolah dasar, pembinaan 80.000 guru, 80.000 pedagang, dan 24.000 pengelola kantin. Jajanan sekolah yang memenuhi syarat naik dari 56 sampai 60 persen pada 2008 sampai 2010 menjadi 76 persen pada pertengahan 2012.8 Kementerian Pendidikan menerbitkan buku saku kantin sehat untuk sekolah dasar pada 2021, dengan empat pilar: komitmen sekolah, sumber daya manusia, sarana, mutu pangan.9 Ada standar Kementerian Kesehatan untuk kantin sekolah sejak 2006. Ada dinas kesehatan kabupaten yang menginspeksi. Ada orang di setiap sekolah yang sudah tahu cara memasak untuk anak-anak setiap hari, bertahun-tahun, tanpa ada yang meresmikannya.

Yang tidak ada bukan dapur. Yang tidak ada adalah uang di saku sebagian orang tua.

Itu masalah daya beli. Yang dibangun adalah infrastruktur. Per Mei 2026 ada 29.225 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi beroperasi, dengan 1,29 juta tenaga kerja, yang memasak jutaan porsi setiap pagi dan mengantarnya ke 374 ribu sekolah sebelum makanan itu basi.6 Setiap unit dibiayai sekitar enam juta rupiah per hari.1 Sistem ini punya satu titik lemah yang tidak bisa direkayasa hilang: makanan yang dimasak jauh dari yang memakannya, dalam jumlah besar, dengan jarak waktu.

Biayanya dicatat dengan angka BGN sendiri. Per 1 Juni 2026: 29.028 anak rawat jalan dan 2.413 anak rawat inap akibat dugaan keracunan.3 BGN membingkainya sebagai 0,046 persen dari penerima. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menghitung 40.759 korban di 36 provinsi sampai Agustus 2026.10 Sampai akhir Mei, 995 dapur dihentikan sementara.3 Pada 3 September 2026, di SMAN 1 Lasem, Rembang, 752 siswa dan 25 guru diare massal sampai toilet sekolah tidak sanggup; dapurnya dihentikan dua hari kemudian.11 Satu adegan cukup. Daftar lengkapnya ada di berita.

Dua hal bisa dihitung dari angka BGN sendiri, dan keduanya jujur. Delapan koma tiga miliar porsi menghasilkan 31.441 anak dirawat: sekitar empat anak per juta porsi, bukan angka yang besar untuk satu porsi, tetapi angka yang tidak pernah nol selama makanan dimasak jauh dari yang memakannya. Dan Rp6 juta per dapur per hari, dikalikan 29.225 dapur, adalah biaya tetap sistem sebelum satu porsi pun sampai ke meja. Yang tidak bisa dihitung, karena tidak ada sumbernya, adalah biaya per porsi kalau uang yang sama dititipkan ke kantin yang sudah ada untuk anak yang orang tuanya tidak mampu. Saya tidak mengarang amplop belakang. Saya hanya mencatat bahwa hitungan pembanding itu tidak pernah diminta.

Sekarang bentuk yang tidak dipilih, dan saya menulisnya sebagai bentuk, bukan sebagai klaim bahwa bentuk itu pasti berhasil. Kalau masalahnya daya beli, maka: kantin sekolah yang sudah ada diperkuat, dinas kesehatan kabupaten memberi sertifikat gizi dan kebersihan yang diperbarui berkala, dan uang negara mengalir ke sekolah hanya untuk anak yang orang tuanya tidak mampu. Anak yang orang tuanya mampu tetap membayar, seperti selama ini. Makanan dimasak di tempat, dimakan di tempat, oleh orang yang sudah puluhan tahun mengenal anak-anak itu. Berapa biayanya dibanding sekarang, saya tidak tahu, dan tidak ada yang pernah menghitungnya. Dan dua institusi yang sudah berdiri, sekolah dan pemerintah daerah, justru diperkuat, bukan dilewati.

Saya tidak tahu mengapa bentuk itu tidak dipilih. Yang bisa saya baca hanya desainnya, dan desain itu menghasilkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan gizi. Dapur terpusat berarti kontrak terpusat: 142 ribu pemasok terdaftar pada satu badan, 29 ribu dapur dihentikan atau dijalankan oleh satu keputusan dari Jakarta, bukan oleh dinas kabupaten. Kalau uang yang sama dititipkan ke kantin dan posyandu, tidak ada satu meja yang memegang semua kontrak itu. Tulis sudah membedah apa yang terjadi pada titik-titik dapur itu ketika desain seperti ini bertemu pasar. Dan kalau program ini suatu hari dikembalikan ke jendela seribu hari, yang rugi bukan anak sekolah: yang rugi adalah 1,29 juta pekerja, 142 ribu pemasok, dan 29 ribu dapur yang kepentingannya ada pada ukuran program, bukan pada angka stunting. Itu bukan tuduhan. Itu peta siapa yang akan bersuara kalau sasarannya disempitkan, dan siapa yang tidak.

Dapur baru punya pita untuk digunting. Kantin yang diperbaiki tidak.

Lima Belas Tahun Kantin, Lalu Dapur

Negara sudah mengawasi kantin sekolah sejak 2011. Dapur baru dibangun 2025 di sampingnya. Sumber: BPOM 2012 [8], Kemendikbud 2021 [9], BGN 2026 [3][6].

IV. EMPAT KATA YANG DICAMPUR

↑ kembali ke daftar isi

Dari kasus di atas, empat hal yang berbeda sedang diperlakukan sebagai satu. Definisinya tidak perlu dicari di kamus. Ia sudah keluar dari kasusnya.

Intervensi punya sasaran sempit, ukuran yang jelas, dan akhir. Stunting adalah intervensi. Sasarannya ibu hamil dan anak di bawah dua tahun. Ukurannya prevalensi. Kalau prevalensi turun, program mengecil, lalu selesai, dan uangnya pindah ke masalah berikutnya. Program yang berhasil tapi tidak pernah berakhir bukan program yang berhasil. Ia program yang tidak pernah mengukur apa pun.

Fondasi tidak punya akhir. Fondasi dipikul selamanya, dan karena itu harus diuji dua kali sebelum dituang: apakah negara sanggup memikulnya terus menerus, dan apakah fondasi itu menjawab akar masalah, bukan gejalanya. Makan gratis, kalau mau menjadi kebijakan negara, harus diuji sebagai fondasi, karena orang makan setiap hari sampai mati. Dan di uji kedua makan gratis gagal. Orang tidak bisa makan karena penghasilannya tidak cukup. Makan siang gratis mengisi satu dari tiga waktu makan. Sarapan dan makan malam tetap kosong, dan yang kosong itu tetap urusan ekonomi keluarga. Fondasi yang sebenarnya bukan makanannya. Fondasi adalah keadaan di mana orang bisa membeli makanannya sendiri: penghasilan, ongkos menuju tempat kerja, kesehatan yang tidak menguras tabungan. Cermin Korea di monograf ini menyebut perbedaan yang sama dengan kata lain: proteksi sebagai masa inkubasi, atau proteksi sebagai habitat permanen.

Infrastruktur dibangun hanya kalau yang ada memang tidak cukup. Kantin ada. Posyandu ada, lengkap dengan kader yang sudah punya daftar nama ibu hamil di desanya. Yang dibangun adalah yang ketiga, di samping keduanya.

Bantuan sosial menyasar orang, bukan tempat. Uang ke keluarga yang tidak mampu, bukan dapur untuk semua anak di semua sekolah termasuk yang orang tuanya sanggup membayar sepuluh kali lipat. Makan siang sekolah sah sebagai bantuan sosial, kalau ukurannya kehadiran dan daya beli, dan kalau ukuran itu yang ditulis di halaman satu. Yang tidak sah adalah memakainya sebagai intervensi stunting, karena sasarannya bukan orang yang sedang berada di dalam jendela.

Ada tiga pertanyaan sederhana yang memisahkan keempatnya. Apakah ini punya anggaran? Apakah ini punya tanggal mulai? Apakah ini punya tanggal selesai? Intervensi menjawab ya untuk ketiganya. Bantuan sosial menjawab ya, ya, dan "sampai orangnya tidak butuh lagi". Infrastruktur menjawab ya, ya, dan "sampai selesai dibangun, lalu dirawat". Fondasi menjawab tidak untuk ketiganya: fondasi bukan belanja, melainkan syarat belanja; berlaku sejak disepakati; dan tidak pernah selesai. MBG menjawab ya untuk anggaran, ya untuk tanggal mulai, dan untuk tanggal selesai jawabannya belum pernah diberikan. Itu tanda bahwa keempat kata sedang dipakai bergantian sesuai kebutuhan hari itu. Dan ini bukan pertama kalinya. Bantuan tunai punya plafon dan tahun terakhir. Jalan tol punya ruas dan tanggal peresmian. Kartu-kartu, untuk sehat dan untuk pintar, punya kuota. Setiap presidensi sejak 2002 menuang sesuatu yang lolos tiga pertanyaan itu dengan ya, ya, ya, lalu menyebutnya fondasi. MBG hanya yang terbesar, dan yang sedang berlangsung.

Intervensi Atau Fondasi

Satu program tidak bisa menjadi keduanya. Yang dicampur, gagal sebagai keduanya. Kerangka penulis.

V. CARA BERPIKIR YANG TIDAK DIJALANI

↑ kembali ke daftar isi

Ada lima langkah yang dilalui setiap sistem yang bekerja, dan saya menjelaskannya sekali dengan bahasa biasa. Diagnosis: apa yang sebenarnya rusak. Akar masalah: mengapa rusaknya begitu. Rencana: apa yang akan diubah, dengan sasaran dan ukuran. Eksekusi: melakukannya sesuai rencana, bukan sesuai yang lebih mudah. Umpan balik: mengukur, dan mengubah rencana kalau ukurannya salah. Lima langkah itu tidak istimewa. Setiap dokter, setiap montir, setiap insinyur menjalaninya, dan yang tidak menjalaninya kehilangan pasien, mobil, atau jembatan.

MBG menunjukkan urutannya terbalik. Program datang lebih dulu, sebagai janji. Diagnosisnya ditulis belakangan di juknis, dengan kata stunting. Sasaran melebar di eksekusi. Ukuran diganti ketika ukuran pertama tidak cocok. Dan umpan baliknya, kalau ada, tidak berbunyi: butuh enam belas bulan dan sebuah keterangan resmi untuk mengakui bahwa sasaran utama baru terjangkau sepertiga.

Anggarannya ikut terbalik. Dalam APBN 2026, 83,4 persen pagu BGN dimasukkan ke fungsi pendidikan, 9,2 persen ke fungsi kesehatan.12 Program yang alasannya stunting, sembilan persen uangnya berada di fungsi yang mengurus stunting. Butuh Mahkamah Konstitusi, lewat putusan Juli 2026, untuk memerintahkan pemisahan itu mulai APBN 2028.13 Koreksi datang dari luar sistem anggaran, bukan dari dalamnya. Urutan yang benar adalah kebalikannya: tetapkan dulu apa yang harus tetap benar, baru alokasi mengikuti. Yang terjadi adalah program diputuskan, lalu anggaran negara menyesuaikan diri di sekelilingnya, termasuk menyesuaikan definisi.

Mengapa cara berpikir ini tidak pernah terkoreksi?

Indonesia pernah dua kali menuang sesuatu yang berdiri di atas presiden. Yang pertama di bawah Orde Lama, yang kedua di bawah Orde Baru dengan nama yang kemudian dibenci: Garis-Garis Besar Haluan Negara. Keduanya sering ritual, disusun untuk disetujui. Tapi ada teks di atas presiden, dan anggaran tahunan diturunkan dari teks itu, bukan sebaliknya. Keduanya dituang oleh pihak yang punya kuasa mengakhiri debat, dan karena itu keduanya cepat dituang dan cepat dibongkar. Amandemen 2002 mencabut haluan itu, dengan niat yang benar: tidak ada lagi yang berdiri di atas presiden yang dipilih langsung. Yang tidak dilakukan adalah menggantinya. Sejak itu tidak ada dokumen yang mengunci tujuan sebuah program sebelum program itu dijalankan, dan tidak ada alat ukur yang wajib berbunyi ketika tujuannya bergeser. Rencana jangka panjang yang ada sekarang duduk di tingkat hukum yang sama dengan APBN, dan dua dokumen setingkat tidak bisa saling mengikat. Yang hilang bukan komando di atas presiden, dan esai ini tidak merindukannya. Yang hilang adalah jangkar yang berada di luar jangkauan negosiasi anggaran tahunan, dan bentuk jangkar itu, yang tidak otoriter dan tidak bisa dicabut satu tangan, adalah pertanyaan esai terakhir monograf ini.

Yang mengisi kekosongan itu adalah insentif. Di pusat, ketika tidak ada teks di atas anggaran, anggaran menjadi arena, dan setiap alokasi bisa dinegosiasikan. Siapa pun yang memegang pena di atas anggaran yang lentur memegang lebih banyak daripada siapa pun yang memegang rencana yang mengikat. Ini bukan tuduhan korupsi; ini keterangan tentang desain yang membuat kelenturan menjadi aset paling berharga di ruangan. Di daerah, rencana lima tahunan ditulis dari janji kampanye pemenang, dan janji kampanye dibuat dalam bahasa yang bisa dilihat. Lima ratus lebih daerah menunjuk ke arahnya masing-masing, dan target nasional menjadi rata-rata dari lima ratus arah.

Beban uangnya harus disebut di sini, bukan di ujung. Ada dua pintu uang untuk memikul apa pun yang dituang negara. Pintu pertama pajak: rasionya 9,31 persen pada 2025, turun empat tahun berturut-turut.14 Sembilan rupiah dari setiap seratus yang dihasilkan ekonomi. Tulis sudah menulis bahwa orang membayar ketika bisa melihat pembayarannya menjadi apa. Pintu kedua sumber daya alam, yang seharusnya milik bersama dan dipakai untuk segelintir orang; kemarahan tentang itu saya simpan untuk esai lain, dalam angka. Di tengah rasio pajak yang merosot, satu lembaga mendapat pagu terbesar dalam RAPBN 2027: Rp240,2 triliun.15 Botswana, pada 1994, menuliskan untuk apa uang mineralnya boleh dipakai sebelum belanja apa pun diputuskan; cermin kelima menceritakan apa jadinya ketika prinsip semacam itu dipegang lebih lama dari satu presiden. Urutan yang benar: tetapkan dulu apa yang sanggup dipikul negara selamanya, baru tahu berapa ruang yang tersisa. Rp240,2 triliun adalah jawaban untuk pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan.

Cara berpikir ini bukan milik satu pemerintahan. Cara berpikir ini dipelajari setiap pemerintahan dari pemerintahan sebelumnya, dan dipelajari warga dari semuanya. Warga yang tidak pernah diperlihatkan diagnosis tidak bisa diminta menuntutnya. Warga yang selama tiga puluh tahun melihat program datang sebelum masalahnya dirumuskan akan mengukur pemerintah dari programnya, bukan dari masalah yang selesai. Itu bukan kesalahan warga. Itu hasil pendidikan yang diberikan negara lewat contoh, selama tiga dekade, tanpa pernah bermaksud memberikannya.

VI. LIMA TIANG SATU DASAR

↑ kembali ke daftar isi

Kalau lima langkah itu dijalani, apa yang seharusnya ditetapkan lebih dulu, sebelum program mana pun?

Ada satu hari dalam setiap pembangunan yang tidak bisa diulang: hari fondasinya dituang. Beton tidak bisa dituang separuh hari ini dan separuh minggu depan; sambungan yang menunggu terlalu lama menjadi retak yang tidak pernah menyatu. Tapi beton juga tidak bisa dipaksa kering lebih cepat dari waktunya. Dua puluh delapan hari, tidak kurang, sebelum boleh dibebani. Republik ini adalah lokasi bangunan yang mandornya berganti setiap lima tahun, dan mixernya terus berputar.

Ini bukan negara yang tidak pernah mengecor. Posyandu adalah cor, dan sudah berdiri sejak 1980-an di hampir setiap desa. Jaminan kesehatan nasional adalah cor. Desentralisasi 1999 adalah cor, barangkali yang terbesar sejak republik berdiri. Yang tidak pernah terjadi pada cetakan-cetakan itu adalah dikunci pada satu ukuran yang memaksa: angka yang, kalau merah, mewajibkan seseorang berhenti. Karena tidak dikunci, setiap lima tahun mixer bisa diarahkan ke pita yang lebih baru, dan cetakan lama dibiarkan retak sambil tetap disebut ada.

Yang harus dituang, kalau begitu, adalah daftar pendek tentang apa yang harus tetap benar siapa pun yang menang, dan ukuran yang menguncinya. Saya mengusulkan empat layanan, satu syarat yang menembus keempatnya, dan satu dasar tempat semuanya berdiri. Angka di bawah bukan target; angka itu hanya menunjukkan di mana galiannya hari ini.

Kesehatan, dengan pencegahan sebagai inti. Tindakan mahal, pencegahan murah, dan dalam sistem politik lima tahunan pencegahan selalu kalah karena tidak punya pita. Tidak ada yang meresmikan anak yang tidak jadi stunting. Yang bisa diresmikan adalah rumah sakit, dan rumah sakit adalah tempat pencegahan yang gagal berakhir. Stunting dicegah oleh gizi ibu hamil, sanitasi, dan air bersih, tiga hal yang tidak pernah kelihatan dari jalan.

Pendidikan, didefinisikan sebagai kemampuan, bukan kehadiran. Kehadiran sudah dimenangkan; hampir setiap anak Indonesia duduk di kelas. Yang belum dimenangkan adalah yang terjadi di dalamnya. PISA 2022 mencatat matematika 366, membaca 359, sains 383, ketiganya turun dari 2018, dan untuk membaca setara dengan hasil 2003.16 Dua dekade, dan kemampuan membaca anak lima belas tahun kembali ke titik awal. Definisi yang saya usulkan: setiap anak lima belas tahun bisa membaca teks sederhana dan menghitung persen; setiap anak delapan belas tahun punya satu keterampilan yang bisa dijual. Bukan ijazah. Keterampilan.

Perumahan, sebagai hak, bukan proyek. BPS pada Agustus 2026 mencatat 9,29 juta rumah tangga tanpa rumah sendiri dan 18,01 juta rumah tangga yang rumahnya tidak layak huni.17 Angka kedua hampir dua kali angka pertama. Program tiga juta rumah, kalau tercapai penuh, menutup sepertiga dari yang pertama dan tidak menyentuh definisi yang kedua.

Transportasi, sebagai ongkos menyambungkan orang ke penghidupannya. Bukan jalan demi jalan. Pertanyaannya satu: berapa rupiah dan berapa menit yang dibutuhkan seorang warga untuk sampai ke tempat ia bisa mencari nafkah, ke sekolah anaknya, ke posyandu. Kalau angka itu naik, semua tiang di atasnya goyang: klinik yang tidak terjangkau bukan klinik.

Keempatnya tidak sejajar. Ada urutan ketergantungan, dan urutan itu datang dari biologi dan geografi, bukan dari pendapat. Anak yang stunting tidak bisa belajar, jadi kesehatan di bawah pendidikan. Sekolah dan klinik yang tidak terjangkau tidak melayani siapa pun, jadi transportasi di bawah semuanya. Perumahan menopang ketiganya sebagai tempat semua itu terjadi setiap malam. MBG, kalau dibaca dengan tumpukan ini, duduk persis di persimpangan dua tiang, kesehatan dan pendidikan, dan tidak pernah diperiksa dari sudut mana pun dari keduanya. Ia diperiksa sebagai program yang berdiri sendiri.

Lima Tiang Satu Dasar

Yang di bawah menopang yang di atas. Yang paling bawah tidak pernah kelihatan. Sumber: [2][16][17].

Yang menembus keempatnya: peradaban. Kata ini lebih luas dari budaya. Peradaban adalah standar yang membuat empat tiang itu bisa berdiri: siapa pun yang memimpin memberi contoh sebelum memberi perintah, dan contoh itu dimulai dari jabatan tertinggi, karena kita merangkak dari bawah dan harus ada yang berdiri lebih dulu.

Tapi di sini saya harus jujur pada monograf saya sendiri. Lima esai berikutnya mendiagnosis satu penyakit yang sama: pengikat yang bersandar pada orang, bukan pada aturan. Teladan dari atas, kalau dibiarkan sebagai teladan, adalah pengikat yang bersandar pada orang. Karena itu peradaban sebagai fondasi hanya sah kalau peradaban itu diturunkan menjadi prosedur yang bisa diaudit, dan tiga sudah cukup: konflik kepentingan yang diumumkan sebelum keputusan, kekayaan pejabat yang bisa dilacak oleh siapa saja, dan keputusan yang meninggalkan jejak tertulis tentang siapa memutuskan apa dan mengapa. Bukan niat baik yang dijaga. Jejak yang dijaga. Dalam bahasa pekerjaan saya, ini persyaratan non-fungsional. Ketersediaan sistem tidak dijaga oleh insinyur yang peduli. Yang menjaganya: pemantau, alarm, dan seseorang yang dibangunkan tengah malam. Peradaban tanpa alarm adalah harapan.

Dan dasar tempat semuanya berdiri: pengukuran dan umpan balik. Ini lapisan yang tidak pernah kelihatan, dan tanpanya tidak ada yang bisa dikoreksi. Setiap tiang harus punya ukuran yang jelas, bisa dicapai, dan terbuka untuk semua orang, dari datanya sendiri, mendekati waktu nyata. Bukan laporan tahunan yang ditulis supaya atasan senang; kalimat "yang penting bos senang" adalah mentalitas yang sedang didiagnosis esai ini, bukan cara kerja yang bisa diterima. Dan mengukur saja tidak cukup. Loop hanya tertutup kalau angka yang buruk memaksa satu keputusan: setel, lanjutkan, atau hentikan, dan satu kantor wajib menjawab di depan publik mengapa. Indonesia sudah lama pandai mengukur. Yang tidak tersambung adalah alarmnya, dan sistem yang alarmnya tidak tersambung gagal dalam diam. Sebuah sistem tidak gagal ketika rusak; kerusakan pasti terjadi. Sistem gagal ketika tidak punya cara berhenti sendiri saat ukuran utamanya merah. MBG adalah sistem itu: datanya ada, sampai ke satuan; enam belas bulan ukuran utamanya merah, dan tidak ada tombol yang ditekan. Dan alarm itu tidak tersambung bukan karena tidak ada kabelnya. Alarm itu tidak tersambung karena orang yang dirugikan tidak duduk di ruangan yang memegang tombolnya. Dapur yang jalan adalah foto di Jakarta. Diare di Lasem adalah berita daerah. Ibu hamil yang tidak kebagian tidak pernah menjadi satu baris di layar yang dibuka di rapat.

Fondasi tanpa umpan balik bukan fondasi. Ia harapan yang dituang beton.

VII. CARA KERJA SEBUAH CERMIN

↑ kembali ke daftar isi

Lima esai setelah ini mengunjungi lima negara. Bukan karena mereka surga. Masing-masing pernah punya cara berpikir yang sama dengan yang dibongkar di atas, program sebelum diagnosis, sasaran yang melebar, alarm yang tidak berbunyi, dan masing-masing menggantinya lewat mekanisme yang bisa dibaca dari luar. Itu satu-satunya syarat pemilihan: mekanismenya tertulis, bisa diperiksa, dan tidak bergantung pada satu orang.

Shenzhen dipilih karena tidak memulai dari seluruh negeri: satu wilayah kecil dijadikan laboratorium, dan ketika sesuatu tidak bekerja sistem mendeteksinya lebih awal karena kegagalannya lokal, bukan nasional. Korea dipilih karena memberi satu ukuran yang tidak bisa dipoles, ekspor, dan menagihnya: yang gagal kehilangan modal, proteksi, dan pasar, bukan pindah ke podium. Jerman dipilih karena menyerahkan penilaian kepada yang akan mempekerjakan, bukan kepada sekolah yang menilai muridnya sendiri, dan sistemnya punya alarm bawaan: kontrak magang yang berhenti ditandatangani. Vietnam dipilih karena partainya menulis diagnosis di depan kongresnya sendiri, mengakui aturannya salah, sebelum satu pabrik pun dibangun, dan kemudian memakai perjanjian dagang sebagai disiplin ke dalam. Estonia dan Botswana dipilih karena membuktikan pengikat tidak butuh ukuran negara: yang menahan mereka bukan hukuman, melainkan penglihatan, dan Botswana menetapkan sejak 1994 untuk apa uang mineral boleh dipakai sebelum berlian berikutnya keluar dari tanah.

Cara membacanya sama di tiap esai. Cari satu nilai yang Indonesia punya bersama negara itu. Lalu periksa bagaimana negara itu mengodifikasi nilai itu menjadi sistem yang bekerja, dan mengapa Indonesia tidak. Cermin tidak memuji dan tidak menghina. Cermin hanya memantulkan yang berdiri di depannya.

Kalau lima cermin itu dibaca sebagai satu kalimat, kalimatnya begini: masing-masing adalah cara memindahkan tombol alarm ke luar jangkauan orang yang punya alasan mematikan suaranya. Shenzhen merancang kegagalan supaya lokal, sehingga tidak ada yang cukup besar untuk disembunyikan. Korea menaruh ukurannya di luar negeri, di pasar ekspor, tempat pemolesan dalam negeri tidak mempan. Jerman menyerahkan vonis kepada pemberi kerja, bukan kepada sekolah. Vietnam menulis diagnosisnya di depan kongres sendiri, sehingga tidak bisa ditarik diam-diam. Botswana mengunci belanja mineral sebelum berlian berikutnya keluar dari tanah. Tidak satu pun dari mereka mengandalkan orang baik. Semuanya mengandalkan tombol yang tidak bisa dijangkau.

Esai ini menjelaskan apa yang harus diganti. Lima cermin menunjukkan bahwa cara berpikir itu pernah diganti. Esai ketujuh, yang terakhir, kembali ke Indonesia dengan satu pertanyaan yang sengaja tidak dijawab di sini: siapa yang mengangkat sekop pertama, apa yang ia dapat dari itu, dan apa yang bisa dimulai besok pagi tanpa menunggu undang-undang apa pun. Esai itu tidak akan mengulang diagnosis ini. Yang diperiksa di sana: apa yang sudah ada di laci hukum republik ini dan bisa dipakai, siapa yang punya kewenangan dan kepentingan sekaligus, apa yang bisa ditawarkan kepada tiap pihak yang hari ini diuntungkan oleh anggaran yang lentur, dan di mana usulan itu paling mungkin patah lebih dulu. Pertanyaan tentang sekop pertama tidak bisa dijawab sebelum kita tahu, dari lima negara, bahwa sekop itu pernah diangkat tanpa ada yang memaksanya.

Satu keterangan tentang bentuknya. Tujuh esai ini ditulis untuk dibaca berurutan, satu per satu, dengan jeda di antaranya. Bukan karena panjangnya, melainkan karena tiap cermin baru terbaca kalau cermin sebelumnya sudah mengendap. Tulis memang dibangun sebagai tempat berhenti, bukan tempat lewat. Kalau esai ini terasa terlalu panjang untuk satu duduk, itu bukan kesalahan pembaca; itu tanda bahwa esai ini seharusnya dibaca dalam dua. Cara berpikir yang dibongkar di atas, program sebelum diagnosis, sasaran yang melebar karena tidak sabar, adalah cara berpikir orang yang terburu-buru. Monograf ini mencoba kebalikannya: tidak terburu-buru, tetapi cepat. Setiap langkah dijalani, tidak ada yang dilompati, dan jarak di antaranya dipendekkan sebisanya.

PENUTUP

Di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, prevalensi stunting 36,1 persen menurut survei 2025, dua kali angka nasional.18 Dinas kesehatannya mencatat 1.193 ibu hamil dengan kekurangan energi kronis pada 2025; per Juni 2026, 261.18 Mereka inilah orang yang berada di dalam jendela seribu hari, di kabupaten yang paling membutuhkannya.

Di Desa Pong Ruan, Kecamatan Kota Komba, berdiri sebuah dapur MBG. Dibangun tahun lalu. Sampai foto diambil pada 7 Juni 2026, dapur itu belum pernah beroperasi.18 Kota Komba termasuk kecamatan yang angka stuntingnya naik. Dapur lain di kecamatan yang sama sempat beroperasi sejak September 2025, memprioritaskan anak sekolah, lalu dihentikan sementara oleh pusat. Kepala dinas kesehatan kabupaten mengatakan kepada wartawan bahwa MBG tidak berkontribusi pada penurunan stunting di daerahnya, karena mayoritas dapur mengutamakan siswa, dan bahwa anak sekolah yang stunting tidak akan bisa diubah kondisinya karena sudah lewat lima tahun.18 Penurunan yang terjadi di empat kecamatan lain, katanya, datang dari sanitasi dan air bersih.

Salah satu dari 261 perempuan itu tinggal di Kota Komba. Saya tidak tahu namanya; laporan itu tidak menyebutnya, dan saya tidak akan mengarangnya. Yang saya tahu: dapur yang alasan pembangunannya adalah dia, berdiri beberapa kilometer dari rumahnya, dengan pintu yang tidak pernah dibuka, dan makanan yang dimasak untuk anak-anak yang jendelanya sudah tertutup lima tahun lalu. Kalau ia melahirkan sebelum pintu itu dibuka, anaknya akan diukur di posyandu pada Februari dan Agustus, seperti biasa, oleh kader yang sudah punya namanya di daftar sejak trimester pertama.

Yang punya utang bukan yang berjanji, Nak.
Yang punya utang itu yang diam waktu janji diucap,
lalu diam lagi waktu janjinya ganti arah.
Dapur itu tidak salah. Dapur hanya berdiri di tempat ia disuruh berdiri.
Yang belum dikerjakan cuma satu: bertanya dulu, siapa yang lapar,
sebelum memutuskan siapa yang diberi makan.

Negara yang tidak bertanya dulu akan selalu memberi makan orang yang salah, dengan uang yang benar.

Saya menulis ini dari jauh, dengan angka yang bisa dibantah dan tafsir yang mungkin keliru. Kalau ada yang salah, tunjukkan; itu justru cara kerja yang esai ini minta.

Wallahu a'lam bishshawab.

REFERENSI

[1] Badan Gizi Nasional, Petunjuk Teknis Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Makan Bergizi Gratis, 2025

[2] Kementerian Kesehatan RI, SSGI 2024: Prevalensi Stunting Nasional Turun Menjadi 19,8%, kemkes.go.id, 26 Mei 2025

[3] Kompas TV (mengutip data progres kinerja BGN per 1 Juni 2026), Progres Kinerja BGN Per 1 Juni 2026, dari Jumlah Penerima Manfaat hingga Dugaan Keracunan, 3 Juni 2026

[4] Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, 15 Agustus 2024

[5] Sekretariat Percepatan Penurunan Stunting, Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional (Landasan Program Makan Bergizi Gratis), stunting.go.id, 30 Januari 2026

[6] Antara (mengutip keterangan Badan Komunikasi Pemerintah dan data BGN per 22 Mei 2026), Penerima MBG tembus 62,4 juta orang, cakup anak sekolah-ibu hamil, 23 Mei 2026

[7] Kompas.com, BGN Wajibkan SPPG Tambah Penerima Manfaat Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita, dalam Dua Minggu, 12 Mei 2026

[8] Badan Pengawas Obat dan Makanan, Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah, siaran pers, Desember 2012

[9] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Direktorat Sekolah Dasar, Gizi Seimbang dan Kantin/Jajanan Sehat di Sekolah Dasar (buku saku), 8 Maret 2021

[10] Kompas.id, JPPI Catat 40.759 Korban Keracunan MBG di 36 Provinsi, 13 Agustus 2026

[11] Kompas.com, Diduga Keracunan MBG, 752 Siswa SMAN 1 Lasem Rembang Diare Hingga Toilet Sekolah Overload, 3 September 2026; Beritasatu, 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Rembang Keracunan MBG, SPPG Disuspensi, 5 September 2026

[12] CNBC Indonesia (mengutip BGN), Segini Besaran Anggaran Pendidikan & MBG di APBN 2026, 19 Februari 2026

[13] Mahkamah Konstitusi RI, Anggaran MBG Harus Dipisahkan dari Anggaran Pendidikan (Putusan Nomor 40/PUU-XXIV/2026), Humas MKRI, 30 Juli 2026

[14] Bisnis.com (mengutip Kemenkeu dan BPS), Tax Ratio 2025 Turun Jadi 9,31%, 6 Februari 2026

[15] Kementerian Keuangan, Nota Keuangan RAPBN 2027, 14 Agustus 2026

[16] OECD, PISA 2022 Results (Volume I and II), Country Notes: Indonesia, 5 Desember 2023

[17] Kompas.com (mengutip BPS dan Kementerian PKP, Statistik Perumahan 2026), Backlog Rumah Turun 350.000 Keluarga dalam Setahun, Tersisa 9,29 Juta, 13 Agustus 2026

[18] Floresa, Dinas Kesehatan Manggarai Timur: MBG Tidak Berkontribusi pada Penurunan Stunting, 11 Juli 2026

[3] dan [6] adalah media yang mengutip angka BGN dengan tanggal dan atribusi; angka operasional bertumpu pada keduanya. [10] adalah hitungan LSM, dipakai sebagai pembanding terhadap angka BGN di [3], bukan sandaran tunggal. [18] adalah media daerah yang mengutip Kepala Dinas Kesehatan dan dokumen Bapperida; angka Manggarai Timur berasal dari pejabat dan dokumen daerah, bukan dari tafsiran media. Klaim tentang Tap MPRS, GBHN, dan amandemen 2002 di Bagian V tidak diberi nomor; ia sudah dibuktikan di naskah pendek Mukaddimah terdahulu dan dapat dipulihkan referensinya kalau Kang mau (dua entri).