Minggu pagi, 30 Agustus, seorang petani Ketapang bernama Jais berjalan menuju ladangnya ketika melihat sesuatu tergeletak di antara barisan sawit. Seekor orangutan jantan. Lemah, kejang-kejang. Jais melakukan satu-satunya hal yang terpikir oleh orang baik di pagi seperti itu: "Dia sangat lemah, lalu saya beri air."1
Dua jam kemudian tim dokter hewan tiba. Orangutan itu sudah tidak sadarkan diri. Di tubuhnya tidak ada satu pun luka bakar; api tidak pernah menyentuhnya. Diagnosis awalnya dugaan hipoksia: berhari-hari menghirup asap pekat sampai oksigen di darahnya tidak cukup lagi. Dokter membiusnya, memasang selang oksigen kecil di hidungnya, lalu menusukkan jarum infus.2 Karena di kebun sawit tidak ada tiang infus, kantong cairannya digantung di pelepah sawit.1
Perhatikan gambar itu sebentar. Tanaman yang untuknya rawa-rawa dikeringkan dan hutan dibuka, pagi itu dipakai sebagai tiang infus bagi makhluk yang kehilangan hutannya.
Ia kemudian diberi nama Sampurna, dari nama desa tempat ia jatuh. Sampurna adalah orangutan ketujuh yang diselamatkan dari karhutla sepanjang Agustus ini.2 Dua esai sebelumnya di ruangan ini mencatat korban-korban yang bisa bicara: anak-anak sekolah yang diliburkan asap dan kepala desa yang memohon helikopter. Catatan ketiga ini untuk yang tidak bisa: yang tidak masuk statistik ISPA mana pun, tidak punya nomor pengaduan, dan tidak bisa mengungsi ke sekolah daring.
DAFTAR ISI
I. YANG DATANG KE PINTU KITA
Ketika hutan terbakar, penghuninya tidak menghilang. Mereka pindah, dan mereka pindah ke satu-satunya arah yang tersisa: ke arah kita.
Awal Agustus, seekor orangutan muncul di kebun warga di Jalan Jenderal Sudirman Km 15, Sampit; di sekitar lokasi terlihat banyak asap kebakaran, dan BKSDA menduga ia bergerak keluar dari habitatnya yang terbakar.3 Dua pekan kemudian di Kasongan, seekor orangutan lain berjalan masuk ke kompleks perkantoran Pemkab Katingan, menyusuri badan jalan di antara gedung-gedung dinas.4 Ada yang nyaris seperti sindiran dalam adegan itu: korban yang datang sendiri ke kantor negara, mengajukan dirinya, tanpa nomor antrean.
BKSDA Kalteng kini bersiaga untuk gelombang yang mereka tahu akan datang: orangutan yang memakan umbut sawit dan nanas warga, beruang madu yang masuk kebun memangsa ayam dan itik.5 Dan di titik inilah nasib mereka berlipat: satwa yang lari dari api akan tiba di kebun seseorang sebagai hama. Petugas meminta warga tidak memprovokasi kukang, bekantan, atau ular yang lewat; kehadiran mereka di halaman kita adalah upaya menyelamatkan diri, bukan gangguan.3 Tapi permintaan itu bersandar sepenuhnya pada kesabaran orang yang kebunnya sedang dimakan.
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation, Jamartin Sihite, mengonfirmasi arah geraknya: api sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi orangutan, dekat Taman Nasional Sebangau dan Pulang Pisau.6 Kita punya preseden untuk apa yang terjadi berikutnya. Setelah kebakaran 2015, sekitar 60 orangutan harus diselamatkan, di antaranya seekor induk yang ditemukan sangat kurus, masih menggendong anaknya.7
II. HIERARKI KEMATIAN
Tapi mengungsi adalah kemewahan, dan tidak semua makhluk memilikinya.
Manggala Agni Ketapang menjelaskan hierarkinya dengan bahasa lapangan yang sederhana: orangutan dan beruang jarang ditemukan mati karena instingnya kuat; mendengar api dari kejauhan, mereka cepat pergi. Yang paling banyak ditemukan mati adalah ular.8 Kecepatan menentukan siapa yang jadi pengungsi dan siapa yang jadi korban. Yang bersayap terbang. Yang berkaki panjang berlari. Yang melata, yang lambat, yang refleksnya justru diam dan menggulung diri, mati di tempat, dalam posisi bertahan yang selama jutaan tahun berhasil melindungi mereka dari segalanya kecuali ini.
Di Kotawaringin Timur, dalam dua pekan terakhir, sedikitnya 26 satwa liar ditemukan mati di lokasi-lokasi bekas kebakaran:9
DAFTAR YANG DITEMUKAN, KOTAWARINGIN TIMUR, DUA PEKAN
Dua puluh ular sanca batik
Satu king cobra
Tiga ular dipong
Satu biawak
Satu ular air
Sebagian besar hangus, tidak sempat menyelamatkan diri. Yang tidak ditemukan, tidak dihitung.
Di Kasongan, petugas menemukan trenggiling, satwa dilindungi, dan seekor sanca sepanjang tiga meter, keduanya hangus.4
Dan sekarang perhatikan siapa yang menghitung. Angka 26 itu tidak berasal dari lembaga negara. Ia berasal dari seorang pecinta reptil di Sampit bernama Haryy Siswanto, yang berkeliling ke kawasan bekas terbakar dan mengumpulkan bangkai satu per satu.9
Republik ini menghitung titik panasnya sampai satuan, diumumkan setiap pagi. Korban satwanya dihitung oleh seorang penghobi.
Tidak ada daftar resmi. Tidak ada angka nasional. Berapa yang mati di luar rute Haryy, tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang ditugaskan untuk tahu.
III. SUARA YANG BERUBAH DI DALAM KABUT
Untuk memahami apa yang dialami mereka yang selamat, kita harus ke Tuanan.
Stasiun Riset Orangutan Tuanan berdiri di Kalimantan Tengah, di dalam kawasan bekas Proyek Lahan Gambut, dikelilingi jaringan 4.500 kilometer kanal yang digali proyek sejuta hektare tahun 1996. Pembaca dua esai pertama akan mengenali geografi ini: kanal yang sama yang tidak pernah ditutup, yang mengeringkan gambut yang kini menyala setiap kemarau. Lebih dari separuh kawasan itu terbakar pada El Nino 1997, dan 72 persen hutan rawa gambutnya hilang dalam sembilan tahun berikutnya.10 Di sisa hutannya, orangutan liar bertahan, dan para ilmuwan mengikuti mereka.
Tahun 2015, ketika asap datang, seorang peneliti bernama Wendy Erb menyadari sesuatu yang aneh: suara jantan-jantan dewasa berubah. Long call, seruan yang menggema sampai satu kilometer dan menjadi cara orangutan yang hidup menyebar itu saling menemukan, terdengar berbeda di dalam kabut.11 Dari kejanggalan kecil itu lahir penelitian yang terbit di Scientific Reports tahun 2018, dan temuannya layak dibaca pelan-pelan.
Selama dan sesudah periode asap, orangutan-orangutan itu lebih banyak diam. Jarak jelajah menyusut. Lalu urin mereka mulai menunjukkan keton: tubuh mereka membakar cadangan lemaknya sendiri. Bukan karena kurang makan; asupan kalori mereka tidak berubah. Para peneliti menduga energinya tersedot ke tempat lain: sistem imun yang bekerja keras melawan apa yang masuk bersama setiap tarikan napas.10
Baca sekali lagi: di hutan yang dikeringkan negara, makhluk-makhluk itu diam-diam membakar tubuhnya sendiri dari dalam, sambil tetap kelihatan baik-baik saja dari luar.
Dan asapnya pergi, tapi laparnya tinggal. Studi lanjutan dari stasiun yang sama menemukan produksi buah hutan anjlok selama lebih dari 33 bulan setelah kebakaran 2015, hampir tiga tahun paceklik, dan betina-betina orangutan menjadi semakin jarang berkumpul karena buah yang tersisa tidak cukup untuk dibagi.12 Kabut asap membubarkan pertemuan-pertemuan mereka, jauh setelah kabutnya sendiri bubar.
Kita mengukur bencana ini dengan indeks udara dan jumlah sekolah yang tutup. Di dalam hutan, ia diukur dengan satuan yang tidak pernah masuk berita: lemak yang hilang dari tubuh, panggilan yang tidak dijawab, buah yang tidak datang tiga tahun.
IV. YANG TIDAK MASUK HITUNGAN
Undang-undang penanggulangan bencana kita mengenal korban jiwa, pengungsi, kerugian ekonomi. Ia tidak mengenal orangutan yang hipoksia. Nota Keuangan mencatat bantuan sosial dan dana siap pakai; tidak ada baris untuk trenggiling. Ketika 2.052 kasus ISPA tercatat di Palangka Raya dalam sepekan, angka itu masuk laporan resmi, dan memang seharusnya. Makhluk-makhluk yang menghirup udara yang sama, di tempat yang lebih dekat ke apinya, tidak masuk laporan mana pun.
Koalisi #ResetKehutanan, gabungan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil, menuntut satu hal yang selama ini absen dari setiap penegakan hukum karhutla: korporasi yang terbukti menyebabkan kerusakan harus dibebani pemulihan ekosistem, habitat, dan populasi satwa, bukan hanya denda.7 Tuntutan itu menyambung persis ke tagihan keempat catatan pengawalan kita: 74 persen titik panas Kalimantan ada di dalam konsesi,13 dan Ketapang, kabupaten tempat Sampurna jatuh, adalah kabupaten yang konsesi-konsesinya sedang diperiksa negara. Kalau pemeriksaan itu kelak berujung sanksi, sanksinya harus menghitung apa yang selama ini tidak pernah dihitung.
Sebab hutan tidak bisa melapor. Sudah pernah saya tulis di esai lain, tanah yang bukan milik siapa-siapa selalu jadi tempat pesta; kali ini penghuninya yang membayar tagihannya.
PENUTUP
Sampurna kini dirawat di pusat rehabilitasi YIARI di Sungai Awan Kiri. Paru-parunya masih diperiksa. Kalau ia pulih, kata yayasan, ia akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.2
Kalimat itu ditulis dengan niat baik, dan justru karena itu ia menyisakan satu pertanyaan yang tidak enak: habitat yang mana. Yang ia tinggalkan sedang terbakar. Yang di sebelahnya dikeringkan kanal. Yang di seberangnya sudah jadi barisan sawit tempat ia ditemukan tergeletak. September, bulan yang menurut BMKG adalah puncaknya, baru akan mulai besok pagi.
Jangankan manusia. Hewan pun tersakiti di negeri ini, dan mereka bahkan tidak bisa menceritakannya. Yang bisa mereka lakukan hanya apa yang selama ini mereka lakukan: mengubah suaranya di dalam kabut, membakar lemaknya diam-diam, berjalan ke kebun kita, ke kantor-kantor kita, membawa tubuhnya sendiri sebagai laporan.
Kita menyusun laporan berkertas tebal di ruangan berpenyejuk udara,
sementara di balik pekat asap, dada-dada tanpa dosa mengecil dan binasa.
Para tuan sibuk menghitung dividen dan membagi peta konsesi,
sedangkan bumi ini diam-diam mencatat jumlah bangkai yang tak sempat mengadukan diri.
Wahai para pemangku wewenang, para penanda tangan izin dan pengetuk palu:
Berapa banyak lagi paru-paru rimba yang harus menghitam,
berapa banyak lagi pohon sawit yang harus menyangga kantong infus,
sebelum kalian sudi merendahkan hati dan mengeja arti sebuah pelajaran?
Jangan tunggu sampai hutan menjadi abu yang bisu,
dan angin membawa dendam dari akar-akar yang kalian hanguskan.
Sebab bila alam telah menutup pintu maafnya dan memilih murka,
tak ada nota keuangan, tak ada meja perundingan,
yang mampu membeli kembali napas yang telah kalian padamkan.
Wallahu a'lam bishshawab.
REFERENSI
[3] Antara Kalteng, Marak karhutla di Kotim, orang utan selamatkan diri ke kebun warga, 11 Agustus 2026
[4] Liputan6, Hutan Terbakar, Orang Utan Mengungsi ke Kantor Pemda, 24 Agustus 2026
[5] Antara, BKSDA antisipasi peningkatan konflik satwa akibat karhutla di Kotim, Agustus 2026
[6] CNN Indonesia, Nasib Orangutan di Tengah Kepungan Karhutla Kalimantan, 21 Agustus 2026
[8] CNN Indonesia, Ular-ular Mati Akibat Karhutla di Kalimantan, 21 Agustus 2026
[9] Barito Post (dari Radar Sampit), Karhutla Kotim Tewaskan 26 Ekor Satwa Liar, 26 Agustus 2026
[13] WALHI, Kalimantan Darurat Asap: Pemerintah Harus Koreksi Tata Kelola Perizinan, Juli 2026